Idealisme Seorang Kader Muda


Sepuluh tahun sudah, kaki ini menapaki setapak demi setapak sebuah jalan yang tak semua orang mau menapakinya. Jalan yang saya pilih ketika seragam abu-abu putih masih menjadi identitas diri. Entah mengapa saya ikuti kata hati untuk menapakinya. Awal yang penuh liku, kadang membuat kaki ini pun enggan untuk menapak lebih jauh. Namun, semuanya menghentak jiwa untuk tidak berhenti.
Sebagai seorang pemula di jalan ini, saat itu bukanlah masa yang mudah untuk mempertahankan sedikit dari yang telah didapat. Metamorfosis diri yang terus menerus menuntut kesempurnaannya pun, tak lepas dari terpaan angin yang kian kencang menghempas. Di jalan ini, metamorfosis itu adalah sebuah keharusan yang niscaya ditempuh dengan segala konsekuensi kepayahannya.
Berbagai pembelajaran baru yang belum pernah tersentuh, masa itu mereka menjadi teman sejati di setiap waktu. Awalnya memang sebuah keterpaksaan dan berat, karena diri ini tidak terbiasa dengan sesuatu yang besar, menggugah dan merubah. Stagnasi alur hidup, itu yang menjadi narasi selama beberapa waktu kebelakang. Perlahan namun pasti, satu tahun awal perjalanan, perubahan itu alamiyah hadir mengisi waktu-waktu berikutnya.
Kesyukuran yang tiada bertepi atas sebuah karunia terbesar, menikmati sebuah perjalanan waktu yang lebih berisi. Lisan lebih terjaga, emosi semakin terkontrol, pandangan tidak liar, dan segala manfaat baru yang belum terkecap selama waktu itu. Lingkungan baru yang penuh dengan nuansa ukhuwwah dan saling mengingatkan dikala khilaf, itulah kesan awal yang tak terlupakan. Di sudut masjid kuning almamater itu, sejarah hidup penuh perjuangan terukir tajam.
Gesekan antar pribadi, sejatinya pun tak terhindarkan. Namun itulah tabiat alamiyah manusia. Tidak perlu didramatisir sehingga menjadi polemik yang merisaukan dan menghancurkan. Keagresifan diri dalam mencari dan menggali segala ikhwal tentang manajemen diri, ternyata memang membuahkan hasil yang sangat manis, sampai saat ini manisnya masih begitu terasa dikecap.
Berbagai pengalaman yang menampilkan sejuta makna perubahan, pun rindu untuk diulang. Romantisme sejarah yang selalu menyuguhkan haru dan bangga akan sebuah perjuangan yang teramat mahal nilainya.  Jejak sepuluh tahun lalu itu, telah melahirkan sebuah idealisme yang sampai kini, dalam dinamikanya, mencoba untuk tetap dijadikan sebagai karakter diri yang berpijak pada sebuah idealisme sejati yang selama ini, sedikit “termaafkan” oleh berbagai polemik perjuangan yang menghembuskan fitnah kehancuran.
Ya, disepuluh tahun ini, ketika semakin terbukanya era perjuangan yang menembus batas-batas kedirian, maka dituntutlah sebuah pemahaman yang dalam, dimana tak semua orang yang mengikutinya bersedia menerimanya sebagai sebuah konsekuensi. Keshalihan diri yang tercetak oleh tempaan tarbiyah dulu, saat ini pun menuntut idealisme yang kini semakin terkikis itu.
Segala ketidak mengertian akan sebuah kekhilafan yang entah disengaja atau tidak, dari waktu ke waktu semakin menggerogoti tapak eksistensi diri dalam “tubuh” ini. Karenanya, pernah terbesit ingin menutup mata dan meninggalkan semua kamuflase yang semakin mengotori idealisme selama ini.
Memasuki ruang demi ruang “rumah” yang selama ini hanya mampu dilihat dari luar dan nampak megah nan indah, sejatinya masih banyak yang perlu dibenahi dari sudut-sudutnya yang penuh dengan debu dan sampah, dari atapnya bocor di sana-sini, atau dari perabotannya yang berantakan tak karuan. Satu sikap bijak yang pasti akan semua keadaan itu adalah membenahi, bukan kemudian keluar, mengabarkan bahwa ternyata rumah megah itu tak seindah luarnya, atau bahkan mencari rumah lain yang lebih megah dan tak ada cacatnya.
Di sepuluh tahun ini, saya sadar, “rumah” yang saya masuki bukanlah sebuah istana megah dengan segala kesempurnaannya. Pun, tidak semua pelayan yang ada di dalam rumah itu ramah dan menyenangkan. Maka kesadaran dan kesabaran pada sebuah tabiat alamiyah inilah yang harus dikelola dengan sempurna agar setidaknya tidak semakin memperkeruh keadaan “rumah”.
Sebagai seorang kader muda yang menjejaki sebuah jalan yang telah cukup panjang diwujudkan eksistensinya, tentu memiliki idealisme yang tak sama dengan mereka pada pendahulu jalan ini. Idealisme yang selama ini saya pertahankan adalah idealisme orisinil yang masih belum terlalu kusut oleh peristiwa dan fitnah yang membersamainya. Pengalaman yang diteguk pun masih terbilang belia. Wajar jika idealisme itu masih menggebu-gebu dan selalu menuntut agar selalu terjaga, tak tercederai.
Ia pula tidak memaafkan sebuah pemakluman akan sebuah realitas yang menerjang batas-batas prinsipil. Karena sejatinya, idealisme itu bukanlah terbentuk alamiyah, tetapi ia bermula dari sebuah kejujuran iman yang diteguhkan, dari keajegan akhlaq yang senantiasa dipertahankan, dan  dari sebuah mimpi panjang nan pasti yang ia hanya akan terwujud manakala idealisme itu menjadi bekalan utama.
Namun, memang manusia itu adalah wadahnya salah dan khilaf. Maka maaf dan menyesal menjadi ending yang memilukan. Realita, entah mengapa selalu menjadi alasan atas maaf-maaf yang ada. Bukankah inilah fitnah yang dulu diancamkan pula pada penghulu jalan ini? Sekali lagi, semuanya karena khilaf.
Idealisme, tetaplah idealisme. Tak pantas jika kemudian dia termaklumkan oleh realita yang tak sejalan. Ini mungkin, pemahaman linier saya sebagi kader muda. Namun, saya fikir memang seharusnya seperti itulah idealisme dijunjung. Mengingat kita sebagai manusia dimana salah dan khilaf menjadi identitas, maka idealisme inilah sejatinya mampu meminimalisirnya jatuh pada kesalahan dan kekhilafan yang berujung pada penyesalan.
Idealisme sejati sebagai manusia yang menunjung tinggi keteguhan iman yang tak rela tergoyahkan, inilah yang kemudian perlu diwujudkan dalam dinamika gerak menempuh jalan yang tak mudah lagi melelahkan. Karena, di ujung  jalan inilah idealisme itu kelak akan ditancapkan kokoh, mengibar di atas puncaknya yang tinggi, meneduhi langit bumi persada, dan mencerahkan wajah bangsanya yang pias.

Idealisme itu adalah keimanan yang diteguhkan, dia ada disini, di dalam hati manusia yang mencintai imannya. []


Komentar

  1. sudah saatnya memang kita benahi rumah ini, membersihkan debu dan sampahnya, menambal atapnya yg bocor dan membereskan perabotnya, agar ia kembali indah, bahkan lebih indah dan lebih megah dari sebelumnya..

    BalasHapus
  2. Jadi teringat pada mimpi tentang "membenahi sebuah rumah bersama-sama".. akankah mimpi itu nyata? bagaimana caranya? Allah.. tunjukanlah pada kami..

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer