Menggapai Langit Mimpi, bag.2 (Habis)


Ia rengkuh kembali tangan Bundanya, ia ciumi tangan keriput itu, tangan yang telah menimang-nimangnya saat kecil dahulu. Tangan itu tiba-tiba dingin. Wajah yang mengguratkan sejarah panjang itu pucat. Bunda tak sadarkan diri. “ Bundaaaa....,” Huda histeris.
Malam itu, dengan sisa tenaga yang ada Huda bersama pamannya membawa Bunda ke rumah sakit. Bunda dirujuk ke ruang ICU. Huda terpuruk di samping ranjang Bundanya. Ia tatap wajah Bundanya lekat-lekat. Bening kristal matanya kembali membanjir. Raga dan batinnya benar-benar terluka.
“Istirahatlah Da, kamu terlihat sangat lelah. Biar paman yang menjaga Bundamu.” Huda hanya membalas dengan tatapan sayu. “Bagaimana Huda bisa istirahat sedang Bunda....” suaranya pun mulai terdengar parau. Paman Ahmad hanya mampu menggeleng. Tidak mudah memang membujuk Huda. Dibiarkannya kemenakannya itu terdiam di samping Bundanya. Dia paksakan untuk terjaga, meksi matanya tak sanggup menahan kantuk. Mushaf kecil dari saku gamisnya, ia daras lembar demi lembarnya, sampai Huda pun tertidur di samping sang Bunda.
“Duuk...duuk...” suara pintu kamar diketok lumayan keras. Seorang perawat menyerahkan hasil test laboratorium atas kondisi ginjal Bunda. Huda terduduk lemas. Salah satu ginjal Bunda pecah, dan yang satu lagi tak maksimal berfungsi. Bunda membutuhkan donor ginjal dan harus segera dioperasi. Dalam waktu kurang dari 10 jam ginjal yang pecah harus sudah diangkat. Keputusan ditunggu sampai besok Shubuh untuk transplantasi ginjal dan pemenuhan administrasi operasi.
Huda menatap lekat paman Ahmad. “Tengah malam begini, dimana kita mendapatkan donor ginjal. Waktu delapan jam itu Bundamu harus sudah dioperasi. Waktu kita tidak banyak Da.” Paman Ahmad gelisah.
Huda terdiam, jiwanya runtuh. Tidak banyak waktu yang dimilikinya untuk berfikir. Jalan tercepat untuk menyelematkan Bunda adalah memberikan ginjalnya untuk Bunda. “Ya...ini akan menjadi satu-satunya hadiah terindah untuk Bunda.” Huda membatin. “Paman, Da akan memberikan ginjal Da untuk Bunda.” Penyataan Huda menyentak paman Ahmad yang tengah gelisah. Matanya berkaca, bibirnya bergetar, “ Da ... tapi kamu lemah. Terlalu besar resikonya.”
“Huda tahu, tapi kita tidak punya banyak waktu. Bunda tidak bisa terlalu lama dengan kondisi seperti itu. Semakin cepat operasi dilakukan, akan semakin baik untuk Bunda.” Huda mencoba meyakinkan.
“Da, kita masih bisa berusaha. Masih ada kakak-kakakmu. Salah satu dari mereka pasti bersedia memberikan ginjalnya. Paman tidak ingin kondisi kamu makin parah dengan satu ginjal.”
“Paman, mereka saat ini tidak ada di sini. Mereka masih dalam perjalanan, dan masih 8 jam lagi mereka akan sampai. Dan Huda tidak yakin mereka akan bersedia memberikan ginjal mereka. Sudahlah paman, Huda akan baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
“Huda...pikirkanlah kondisimu saat ini, paman mohon.”
“Paman, percayalah sama Huda. Ini juga adalah kesempatan bagi Huda untuk membahagiakan Bunda, mengganti sakit hati Bunda selama ini, meski mungkin tidak akan terobati.” Huda tersenyum tegar ditengah gerimis air matanya.
Keduanya bersitatap. Keheningan meliputi keduanya yang larut dalam tangis kepiluan. Huda larut dalam dekapan paman Ahmad, mereguk setetes kedamaian darinya. Dekapan hangat yang senantiasa dirindukannya dari sosok ayah.
Adzan Shubuh pagi itu akhirnya menggema di alam, pula mengetuk dinding jiwa yang tengah temaram. Segera pagi itu, paman Ahmad dan Huda menghadap asisten dokter yang menangani Bunda untuk mengecek kecocokan ginjal Huda dengan Bundanya.
“Pak Ahmad, insya Allah hasil testnya akan diberi tahukan sekitar 3 jam dari sekarang, karena menunggu dokter Haris, beliau baru datang sekitar satu setengah jam lagi.” pak Arif memberikan bukti pemeriksaan Huda.
“ Baik, terimakasih pak. Kami kembali ke kamar dulu.” Paman Ahmad merangkul pundak Huda penuh haru. Mereka berjalan menyusuri koridor rumah sakit tanpa suara.
Huda tak berhenti berharap hasil testnya akan cocok dengan ginjal Bunda. Ketika membayangkan dirinya memberikan secercah harapan untuk Bundanya, senyumnya mengembang puas. Apalagi, jika pada saat itu nanti, ia pun disambut oleh kebahagiaan dalam akhir waktunya.
“Ya Allah,indah sekali jika Kau ijinkan diri ini mengecap ni’mat termulia itu.” Huda membatin, dia teguhkan do’anya.
Waktu tiga jam terasa begitu lama. Huda cemas dengan hasil testnya, akankah cocok atau tidak. Pun dengan paman Ahmad, kecemasannya adalah akankah hasil test itu cocok dengan ginjal Bunda.
“Assalamu’alaikum....pak Ahmad, ini dokter Haris. Beliau yang akan langsung memberikan hasil testnya.” Pak Arif mengagetkan paman yang tengah tertunduk gelisah.
“Oh ya, bagaimana dokter hasil testnya ? ” Paman Ahmad menyergah cepat.
“ Baik, pak Ahmad. Alhamdulillah hasil test ginjal Huda memang cocok dengan ginjal Ibu Fathimah. Tetapi, jika transplantasi ginjal ini dilakukan akan cukup beresiko untuk Huda, melihat hasil test kesehatan kurang bagus.” Dokter Haris menjelaskan pelan dan datar.”
“Jadi, operasi tidak bisa dilakukan? Dokter kita tidak punya banyak waktu lagi, nyawa Bunda lebih penting dari saya.” Huda menekan dokter Haris.
“Huda, tenang. Dokter belum selesai menjelaskan.” Paman Ahmad menenangkan Huda.
“ Huda, saya tahu kondisi Bundamu, tetapi saya tidak bisa melakukan operasi jika kondisi pendonor riskan. Dalam dunia kedokteran, ini melanggar etika.” Dokter Haris memahamkan pelan-pelan.
“Dokter, saya mohon. Resiko bagi saya tidak penting. Dan saya tidak punya urusan dengan etika kedokteran.”
“ Huda....”
“ Dokter, lupakah kita ketika ibu kita melahirkan kita? Apakah mereka memikirkan keselamatan dirinya?  Tidak. Mereka bahkan rela bersimbah darah, meregang nyawa demi kita lahir dengan selamat. Dan sekarang, ketika ibu kita membutuhkan kita, atau bahkan meminta nyawa  kita, kita masih berfikir dua kali untuk melakukannya ? “ Huda terisak.
Paman Ahmad hanya mampu terdiam dalam tangisnya yang tak bersuara. Pun dokter Haris, terdiam setelah Huda menghakiminya.
“ Dokter, saya siap menandatangani surat pernyataan untuk siap menanggung resiko apapun dari operasi ini. Paman saya sebagai saksi. Paman bersedia kan ? “ Huda menatap harap kepada paman Ahmad.
“Huda ....”paman menarik nafas dalam.
“ Baik, jika Huda bersikukuh. Ini diluar wewenang kami. Saya akan berusaha semaksimal mungkin. Ini hanya kekhawatiran dari resiko operasi yang telah kami perhitungkan. Dan kita pun sama-sama berdo’a, semoga semuanya baik-baik saja. “ Dokter Haris menyerah.
Huda tersenyum puas. Ia segera memeluk paman Ahmad. Mengucapkan terimakasih yang begitu besar atas dukungannya. Huda pun menghampiri Bundanya yang terbaring lemah. Dia kecup kening Bunda yang semakin keriput.
“Bunda, sabar ya...Huda sayang Bunda.” Bisik Huda lembut ditelinga Bunda.
Operasi pun segera dipersiapkan. Huda dan Bunda siap memasuki ruang operasi. Paman Ahmad, tak kuasa menahan haru. Ia hanya mampu berdo’a di balik pintu ruang operasi.
“Huda siap ? Perbanyak dzikir ya.... “ dokter Haris menguatkan
“Insya Allah siap.” Huda tersenyum yakin. Di tatapnya lekat-lekat wajah Bunda yang berbaring di ranjang operasi di sebelahnya.
Bismillahirrahmanirrahiim. Tak lama, Huda pun terpejam pelan oleh suntikan obat bius. Operasi pertaruhan hidup dan mati itu pun berlangsung. Dokter Haris terlihat nampak tegang, keringat di dahinya mulai membanjir. Beberapa dokter yang tergabung dalam team operasi Huda, berkali-kali memintanya tenang dan memperbanyak dzikir. Operasi diperkirakan akan berlangsung selama 7 jam.
Di depan pintu ruang operasi, paman Ahmad bersandar terduduk lemas. Jemarinya yang kekar nan keriput tak henti menghitung butiran-butiran tasbih bersamaan dengan air matanya yang tak jeda menetes. Paman Ahmad, beliau memang lelaki berhati lembut. Tak pernah sekali pun ia membentak anak dan istrinya. Namun, kelembutannya berbalas ketidak adilan. Istrinya memilih kembali kepada kekasih lamanya, setelah paman Ahmad gulung tikar. Sementara kedua anaknya yang semuanya laki-laki pun lebih memilih pergi bersama ibunya. Itulah mengapa paman Ahmad begitu menyayangi Huda. Menganggapnya seperti anaknya sendiri, karena Huda pun begitu menyayanginya seperti ia menyayangi ayahnya.
“ Paman Ahmad, Assalamu’alaikum...” Fahri, Umar dan ‘Aqil bersamaan tiba di rumah sakit dan segera mencium tangan paman Ahmad.
“ Kalian...” paman Ahmad terjaga dari dzikirnya.
“ Bagaimana dengan Bunda. Siapa yang mendonorkan ginjal untuk Bunda.” Fahri kakak tertua Huda membuka pembicaraan.
“ Adik perempuan kalian.” Paman Ahmad menjawab tegas, penuh kecewa.
“ Huda?” mereka terperangah.
“ Ya, Huda. Saat ini dia tidak hanya tengah memberikan ginjalnya untuk Bunda kalian, tetapi juga nyawanya.” Paman terisak lagi.
“Apa maksud paman ? “ Umar bertanya tegang.
“ Kalian tahu, paman sangat mengharapkan kalian pulang dari jauh-jauh hari, saat sebelum Bunda kalian anfal. Paman berharap salah satu dari kalian bersedia memberikan ginjal untuk Bunda kalian. Tetapi kalian malah lebih mementingkan pekerjaan kalian. Sedangkan Huda, jangankan untuk hidup dengan satu ginjal, dengan dua ginjal utuh saja dia terengah-engah. Bahkan operasi transplantasi ginjal ini beresiko tidak kecil baginya. Kondisinya sangat lemah. Syndrome kawasaki dalam tubuhnya sudah tidak lagi memberinya kesempatan untuk bertahan lebih lama.” Paman Ahmad terisak pilu, sementara Fahri, Umar dan ‘Aqil membisu. Keduanya tak mampu berkata-kata. Satu per satu dari mereka pun mulai terisak.
“Paman tidak mampu mencegah tekadnya untuk memberikan ginjalnya. Kini, paman harus bersiap-siap menerima kenyataan terpahit nanti. Paman sangat menyayangi Huda. Sangat ....sangat ...” Paman semakin larut dalam tangis pilunya.
“Paman ...maafkan kami” Fahri memeluk erat paman Ahmad.
Kini mereka berempat hanyut dalam kesedihan yang sama. Kecemasan pun mulai melingkupi ruang hati mereka. Operasi, tak terasa semakin mendekati waktu usainya. Paman Ahmad, tidak berhenti melongok jarum jam di tangannya. Dan .... dokter Haris pun keluar dari ruang operasi.
“Bagaimana operasinya dok ? “ paman Ahmad segera menyerbu.
Dokter Haris menarik nafas dalam. Ditatapnya satu per satu wajah-wajah yang berdiri di hadapannya yang siap mengintrogasinya.
“Alhamdulillah, operasi berjalan lancar.”
“Alhamdulillah....” mereka pun segera menyahut bersamaan.
“ Hanya saja....” dokter Haris mulai tegang.
“Ada apa dok...? ‘Aqil menyela. Fahri, Umar dan paman Ahmad pun kembali terbungkam cemas.
“ Ibu Fathimah sudah melewati masa kritisnya, tinggal menunggu waktu beliau siuman. Tetapi, Huda saat ini kritis. Kondisinya sangat lemah. Resiko yang kita khawatirkan, tidak bisa kita hindari. Maaf, kami sudah berusaha maksimal. Tetapi sekali lagi, kami sudah memperingatkan bahwa operasi beresiko tidak kecil untuk Huda. Kondisi Huda benar-benar drop, bahkan saat operasi berlangsung. Huda mengalami drop tekanan darah. Maaf pak, mas... kita sama-sama berdo’a. Sebentar lagi Ibu Fathimah dan Huda akan dipindah keruang perawatan khusus.” Dokter Haris meninggalkan mereka dalam tangis kesedihan.
“Ya Allah ...Hudaaa....” paman menangis keras dalam pelukan Fahri.
“Paman...tenang paman. Kita harus hadapi ini dengan kebesaran jiwa. Kita harus ikhlaskan semuanya.” Suara serak Fahri mencoba menenangkan paman Ahmad.
****
Di dalam ruang ICU yang berbeda, Huda dan Bunda dibaringkan. Fahri dan Umar menjaga Bunda, sedang paman Ahmad dan’Aqil di kamar Huda.
Setelah beberapa jam berlalu, Bunda mulai tersadar. Suaranya masih terdengar mengigau.
“Bunda...” Fahri membisik pelan.
Perlahan-lahan Bunda mulai menatap lama wajah putra sulunya itu. Setitik kemudian, air matanya mulai menggenang di ujung kelopaknya. Tangannya yang lemah, mencoba diangkat hendak mengelus kepalanya. Seketika Fahri meraihnya dan menciuminya dengan penuh haru.
“Bunda dimana?” Bunda mulai berbicara.
“ Bunda di rumah sakit. Bunda baru saja selesai operasi. Bunda hebat, Bunda menang. Bunda memang kuat.” Fahri menggenggam erat tangan Bunda.
“Operasi ? Bunda operasi ? kenapa harus dioperasi ?” Bunda mulai tersadar penuh.
“Ya, bunda baru saja operasi ginjal. Ginjal Bunda diganti dengan ginjal yang baru.” Umar menjelaskan pelan.
“Gunjal ? lalu siapa yang memberikan bunda ginjal ? apakah jaman sekarang masih ada yang berhati baik kepada Bunda?” Bunda menatap Fahri dan Umar.
Keduanya pun bersitatap. Bagaimana menyampaikan ke Bunda bahwa yang mendonorkan ginjalnya adalah tidak lain anak perempuannya sendiri. Anak yang selama ini telah diacuhkannya karena idealisme rasisme yang tidak rasional.
“Bunda, orang yang menghadiahkan Bunda ginjal adalah orang yang sangat lembut hatinya. Dia pun sangat mencintai Bunda, oleh karenanya dia rela berkorban untuk Bunda.” Umar mencoba menjelaskan.
“Siapa ? Bunda ingin berterimakasih kepadanya. Lalu bagaimana sekarang kondisinya setelah ginjalnya dipindahkan ke Bunda?”
Keduanya semakin bingung menjawab.
“Ehm ...Bunda. Bunda masih harus banyak istirahat. Kalau Bunda sudah segar lagi, kita akan ajak Bunda bertemu dengan orang yang berhati lembut itu.” Fahri mengalihkan pertanyaan Bunda.
“Tapi Fahri ...” Bunda memaksa.
“ Bunda...kami mohon ya....Bunda masih harus banyak istirahat. Insya Allah besok, kita akan ajak Bunda bertemu dengannya.” Fahri tersenyum meyakinkan Bundanya.
Sementara itu, di kamar Huda. Paman Ahmad dan ‘Aqil terdiam membisu di samping pembaringan Huda. Sementara Huda, masih belum menunjukkan tanda-tanda dia akan sadarkan diri. Alat deteksi jantung menunjukkan tanda-tanda yang mulai mencemaskan.
Paman Ahmad pandangi lekat-lekat wajah kemenakannya itu. Tak henti dibacakannya surat Yaasiin, berharap muncul keajaiban. Begitu pun ‘Aqil, dia tidak mampu berbuat apapun selain seperti yang paman Ahmad lakukan.
Ketika sampai pada,”Salaamun qoulan min rabbirrahiim.” Paman terisak. Dan ........Tiiiiitttttt. Alat deteksi itu pun menjerit, menggema di dalam ruangan kecil itu.
“Masya Allah....Hudaaaa...’Aqil panggil dokter Haris cepat.” Paman Ahmad panik.
Seketika dokter  Haris dan beberap perawat berlarian menghampiri Huda. Memaksimalkan usaha ditengah kemustahilan.
“Dokter, tolong selamatkan Huda.” Paman Ahmad mulai resah.
Sementara itu....
“Fahri...Umar..! Huda...” ‘Aqil tersentak diam setelah tergopoh-gopoh lari menghampiri mereka. Umar pun menariknya keluar kamar.
“ Ada apa? Jangan sampai Bunda tahu lebih awal tentang Huda. Kita sudah menenangkannya untuk memberitahu Bunda sampai besok.”
“ Mar ...Huda  Mar...” ‘Aqil panik.
“ Ada apa dengan Huda.” Umar pun bingung.
“Kita kehilangan Huda. Huda meninggalkan kita semua Mar.” ‘Aqil menangis puas. Keduanya saling mendekap. Umar pun mulai terisak. Keduanya pun memutuskan untuk kembali ke kamar Huda.
“ Maaf pak Ahmad, kita harus mengikhlaskan Huda.” Dokter Haris tertunduk lemas mengabarkan duka ini.
Paman Ahmad tak sadarkan diri, untunglah Umar dan ‘Aqil tepat hadir menolong paman. Sementara para perawat mulai mencopoti selang dari tubuh Huda yang baru saja meregang nyawa. Salah seorang dari mereka menutupka kain putih ke seluruh jasad Huda. Sebelum sang perawat itu pergi, dia sempat berkata,
“ Mas, adiknya cantik dan cerah sekali. Sabar ya mas, mba Huda sudah tenang di syurga. Saya yakin itu. Karena kata nenek saya di kampung, orang meninggal yang wajahnya cerah kayak mba Huda ini, sudah dijamin masuk syurga. Udah, nda usah terlalu sedih.” Perawat itu pun berlalu.
“ ‘Aqil, kamu jagain paman Ahmad. Saya harus mengabari Fahri dan juga Bunda, tidak ada pilihan lain. Bunda terpaksa tahu, meski ternyata akan lebih pahit berita ini.” Umar pun pergi
Di dalam kamar Bunda, Fahri tengah berbincang lembut dengan Bundanya.
“Assalamu’alaikum...” Umar sedikit gagap. Ia tak mampu menyembunyikan merah wajahnya karena baru saja menangis.
“ ‘alaikumussalam...” ada apa Mar ?” Fahri mulai cemas. Dia pun menghampiri Umar dan keduanya sedikit menjauh dari Bunda.
“ Kita kehilangan Huda.” Bisik Umar dengan tatapan tegar.
Fahri terdiam. Tatap matanya tajam, namun mulai terlihat retak-retak air matanya. Umar segera memegang bahunya, mengisyaratkan untuk tetap tenang di depan Bunda.
“Paman Ahmad pingsan, saat ini ‘Aqil menemaninya. Huda sudah dipindah ke kamar mayat untuk segera dimandikan dan dikafani. Dia cantik sekali Ri, sangat cantik. Wajahnya cerah. Tidak ada tanda-tanda bahwa adik kita sakit.” Suara Umar makin parau. Sementara isak Fahri semakin terdengar.
“Kalian lagi ngapain bisik-bisik di situ? Bunda membuyarkan pembicaraan mereka.
“ Mau tidak mau kita harus memberitahu Bunda Ri,” Umar menguatkan, Fahri pun hanya membalas dengan anggukan.
Umar menarik nafas dalam, lalu,“Bun...maaf. Sepertinya Bunda tidak bisa bertemu dengan orang yang telah menghadiahkan ginjalnya kepada Bunda.”
“ kenapa ? “ Bunda nampak kecewa.
“ Bun ...orang yang berhati mulia itu, sudah pergi dengan tenang dan tidak akan kembali lagi.” Fahri terserak pelan menjelaskan.
“ Maksudnya, meninggal ? Innalillahi wa inna ilahi raajii’un.” Tak kuasa Bunda pun menangis.
“Beritahu Bunda, siapa orang itu. Dia dari mana asalnya.”
Fahri dan Umar semakin terisak dalam tangisnya, lama. Dan ....
“ Bun ...orang itu adalah ....Huda Tsurayah. Anak perempuan yang sangat mencintai Bunda.” Umar terisak sembali tertunduk mencium tangan Bunda.
Bunda menatap Fahri dengan tatapan kosong. Matanya mulai memerah. Air matanya mulai menganak sungai. Dan seketika pecah menjadi jeritan kepiluan.
“ Huda...” sebutnya lirih. “Bunda ingin bertemu Huda. Bunda ingin mencium Huda. Bunda ingin meminta maaf, Bunda sudah jahat sama Huda.” Bunda mulai kalap.
“Bun....tenang...tenang.” Fahri mendekap Bundanya.
“Fahri, Bunda sudah jahat sama adikmu. Ijinkan Bunda bertemu dengannya. Dimana Huda sekarang...?” tangis Bunda semakin pilu.
“ Bunda....Huda sedang dimandikan dan disiapkan untuk kita bawa pulang. Bun...Umar bilang, Huda sangat cantik. Dia begitu cerah, senyumnya pun manis, tidak sama dengan senyuman Huda yang sering kita lihat. Huda sudah bahagia. Bunda tenang ya...” Fahri mendekap kembali Bundanya.
“ Tapi Bunda sudah lama tidak melihat senyuman Huda sejak Bunda menghukumnya. Bunda jahat sama Huda...Fahri...”
“Sudah Bun....Huda tidak membenci Bunda. Huda sangat menyayangi Bunda. Saat ini, Huda hanya meminta do’a yang tulus dari Bunda.” Dibiarkan Bundanya menangis puas dalam pelukan Fahri.
Paman Ahmad dan ‘Aqil pun menghampiri Bunda.
“Fathimah, ini adalah akhir yang sangat menyedihkan untuk kita, tetapi tidak untuk Huda. Seharusnya kita semua malu kepada Huda.” Paman menatap adik perempuannya itu dengan tatapan penuh kecewa, sementara matanya dipenuhi genangan air yang siap tumpah.
“Ahmad...saya benar-benar menyesal. Saya sangat berdosa. Kemarahan telah menutup hati saya dari memaafkan anak perempuan saya satu-satunya. Dan saya tidak punya kesempatan lagi untuk selama-lamanya.” Bunda kembali larut dalam tangis penyesalan.
Kini, ruangan itu hening. Hanya tangis mereka yang saling bersautan.
“Maaf, dengan pihak keluarga mba Huda ? jenazah sudah selesai dimandikan, dan mohon administrasi rumah sakit segera diselesaikan.”Seorang perawat perempuan, membuka keheningan di antara mereka.
“Oh ya, terimakasih mba. Akan segera saya selesaikan. Mohon siapkan kami ambulans untuk membawa jenazah adik kami,” Fahri menenangkan suasana.
“Ya, ambulans akan kami siapkan jika urusan administrasi diselesaikan.” Perawat pun pergi.
Jenazah Huda pun diusung. Fahri, Umar, dan ‘Aqil mengawal Huda di dalam mobil ambulans. Sedangkan paman Ahmad dan Bunda di dalam mobil yang lain.
Dalam kebisuan, Bunda menatap lekat-lekat wajah anak perempuannya yang kini terbungkus kafan. Mata itu tak akan lagi terbuka. Bibir itu tak akan lagi menyimpulkan senyum manis, dan tangan itu tak akan lagi mengelus lembut tangan Bundanya dengan penuh santun.
Bunda untuk yang terakhir, mengecup kening Huda yang dingin.
“Maafkan Bunda Da, maafkan Bunda. Selamat jalan, tunggu Bunda di sana.” Bunda terisak memeluk jasad Huda.
Akhir perjuangan yang dramatis. Kisah yang romantis antara Bunda dan Huda, membucahkan segenggam cinta yang menyeruak ke langit jingga di senja itu.
Lihatlah, di tengah arak-arakan awan itu, di tengah indahnya warna lembayung senja, Huda tengah bermain-main di sana dalam keriangan yang tak terhijabi. Huda tersenyum kini, di sana, bersama mimpi-mimpinya, menikmati kedamaian yang tak akan lapuk selamanya.  []

Komentar

Postingan Populer