Al Ummu Qudwah


“ Mencipta rumahnya seindah syurga, menjaga akhlaqnya sebening mata, qona’ah selendangnya dalam rumah tangga, sejuk di qolbunya, tunduk pandangnya.”  (Pemata dunia, nasyid Suara Persaudaraan)

Baiti jannati. Indah nian harapan yang disiratkannya. Harapan, karena banyak juga ungkapan lain yang bernada pesimis, bahkan putus asa. Di mana salahnya bila ada orang bersungut menggerutui nasib : “ Gagasan tumbuh di jalan, berkembang di kantor dan mati di rumah.”
Sebagai ungkapan sambil lalu, tentu saja banyak hal mengundangnya. Kalimat ringkih itu boleh jadi lahir dari kegagalan menata rumah tangga dan karir. Keringkihan dan kegagalan itu (setidaknya) dapat diminimalisir jika setiap individu memahami hakikatnya dan membekali dirinya serta melatih jiwanya dengan tarbiyah. Berbicara tentang keberhasilan dalam sebuah rumah tangga (menurut survei penulis), secara otomatis memang mengharuskan peran optimal dari keduanya. Memahami hak dan kewajiban yang harus ditunaikan keduanya. Namun, realitas yang ada (secara fitrah) peran domestik wanita (istri/ibu) boleh dikatakan 75 % memiliki pengaruh yang  cukup kuat dalam menata dinamika di dalamnya. Di suatu waktu seorang wanita menjadi dokter untuk suami dan anak-anaknya, diwaktu lain atau bahkan diwaktu yang sama ia menjadi koki, menjadi menteri keuangan, menjadi psikiater, guru TK dan seabreg profesi keren lainnya. Automatically, dengan peran yang tak kenal kompromi itu, dibutuhkan kekuatan yang besar. Yang akan menjaganya dari disperate karena lelah yang terus menerus dan ditambah permasalahan-permasalahan yang datang silih berganti.
Alhamdulillah, ternyata banyak keuntungan juga punya banyak teman ummahat. Takjub dengan kekuatan mereka, meski kelelahan tak bisa disembunyikan dari gurat wajah mereka. Tetap senyum yang mereka sampaikan kepada semua orang, bahkan  mereka masih punya banyak stok kesabaran ketika anak-anak mereka bertengkar dirumah. Subhanallah, kekuatan jiwa (ruhiyah) yang tak bisa terkalahkan oleh kelelahan fisik (jasad). Itulah mereka yang akan memasuki syurga dari pintu manapun yang mereka suka. Insya Allah.
Tentang kekuatan ini, bukanlah sebuah warisan dari nenek moyang atau sesuatu yang naluriyah atau bukan juga bakat. Kekuatan itu dipanaskan, ditempa, dan dibentuk melalui proses yang tak sebentar, namun hasilnya … luar biasa.
Tarbiyah. Ia bukan segala-galanya namun segala-galanya berawal darinya. Pun di dalamnya kekokohan peradaban ini dibangun. Dari rahim tarbiyah, keluarlah manusia-manusia baru yang cemerlang. Yang mampu menegakkan peradaban ini sekokoh mungkin. Bersamanyalah, wanita-wanita tiang negara bahkan peradaban itu akan mampu mencetak generasi penerus yang rabbani.
Ya, hanya wanita yang baiklah yang akan melahirkan yang baik-baik. Dan orang yang paling bertanggung jawab dalam pendidikan anaknya adalah orang tuanya, sebelum yang lainnya. Rasululla saw bersabda : “ Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani dan Majusi. (HR. Bukhari-Muslim).
Tanggung jawab mendidik anak adalah milik ayah dan ibunya. Meski dalam prosesnya , Rasulullah saw pernah mengatakan bahwa “Al ummu hiya madrasatul ula “. Keteladanan ibu dalam rumah tangga adalah dasar pembebasan dari permasalahan sosial yang ada. Karena anak belajar (banyak) dari perilaku atau tindakan ibunya, sebelum ia mendengarkan arahan (taujih) secara langsung. Jika semenjak dini anak-anak dikondisikan dalam asuhan orangtua yang berperilaku shalih dan berbicara dengan perkataan yang benar, maka berarti dasar pendidikan telah dipancangkan secara baik oleh orangtua. Proses berikutnya adalah menyempurnakan dan mengembangkan.
Sebagai qudwah yang akan menerangi lentera peradabannya, setidaknya seorang ummu mampu mendedikasikan dirinya dengan sifat-sifat mulia yang akan menyempurnakan perannya :
  1. Memiliki sifat-sifat orang sukses, those are :
  1. Ikhlas dan sabar
Keikhlasan dan kesabaran akan menumbuhkan kekuatan motivasi dan kekuatan pengaruh perubahan, serta kekuatan menanggung beban dan keistiqomahan ( Q.S Luqman : 33). Kesabaran adalah syarat mutlak datangnya keuntungan (Q.S 23 : 111) dan kesabaran seorang ibu akan menghantarkan anaknya kepada kepemimpinan, karena Allah hanya memberikan kepemimpinan kepada orang-orang yang sabar (Q.S 2 : 124)
  1. Bijak dan menahan diri
Ibu yang bijak dan mampu menahan diri niscaya tidak akan salah mengambil kebijakan.
  1. Lemah lembut dan tidak keras
Rasulullah pernah berkata kepada ‘Aisyah :
“ Berlemah lembutlah wahai ‘Aisyah, karena tidak ada balasan yang lebih baik dari Allah kecuali keberkahan yang berlipat. “
Apabila Allah menghendaki kebaikan dalam sebuah rumah tangga, maka Allah akan mengkaruniakan kelembutan.”
  1. Hati yang penuh kasih sayang
Rasulullah saw bersabda : “ Allah tidak akan menyayangi orang yang tidak menyayangi.
  1. Flexibilitas ( Adil )
Dalam hal ini, seorang Ibu dan ayah haruslah mampu mendidik anaknya sesuai dengan kemampuannya (tidak memaksakan sehingga menyusahkannya)
  1. Menjauhi amarah
Karena kekuatan seorang ibu ada pada kekuatannya menahan marah.
  1. Hemat dalam memberikan nasihat
Menasihati dengan taujih yang telah diarahkan oleh Islam, bukan karena perasaan atau keinginan.

  1. Meningkatkan Keimanan
  1. Qiyamul lail
Orang yang menjaga shalat malam, jiwanya akan terpelihara (Q. S Al Muzammil : 5). Dan keagungan seorang mu’min ada pada shalat malam.
  1. Sering menghatamkan Al-qur’an.
  2. Shoum dan sedekah
  3. Membaca buku-buku Islam
  4. Menjaga dzikir dan ma’tsurat
  5. Memilih teman yang sholihah
  6. Menjauhi keburukan

  1. Membuat perpustakaan di rumah
  2. Menjadikan rumah sebagai tempat berdzikir
  3. Menjadikan rumah sebagai “kiblat” kebaikan
  4. Memberikan pendidikan Islami kepada seluruh anggota keluarga
  5. Ikut serta dalam kegiatan da’wah dan sosial.

Subhanallah, wanita/istri/ibu yang sholehah adalah karunia termahal yang tidak semua rumah peradaban memilikinya. Ia adalah orang yang paling sabar mendengarkan keluh kesah orang-orang terkasih, dan yang tak pernah kehabisan stok kata-kata untuk menyejukkan hati orang-orang terkasih.

Luar biasa. BISA ga’ yah ???? ‘ala kuli hal, untuk semua ummahati fillah, aku dan ummat ini bangga kepada kalian. Dan Islam yang hanif pun telah memuliakan posis kalian di muka bumi ini. TERUS BERJUANG membangun peradaban, dan semoga akupun mampu menjadi seperti kalian. PEJUANG YANG TAK MENGENAL KATA LELAH DAN PUTUS ASA SAMPAI SYAHID. Uhibbukunna fillah ^_^

Komentar

Postingan Populer