Tiga Ufuk


Assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakaatuhu
Dengan cinta,
Untuk saudariku

Cinta dan ukhuwwah
Tak mengenal jarak
Tak mengenal waktu
Tak mengenal ruang

Ukhibbuki fillah
Keep istiqomah to da’wah
    
                                                     Darussalam, Agustus 2005
                                                    
                                                                                       Muthi’  

Pagi itu, hangatnya fajar bersambut dengan kicauan burung yang meramaikan suara gemuruh angin. Tak seperti biasanya pagi ini angin bertiup begitu kencang, menyuguhkan hawa dingin yang membuat persendian terasa linu. Selepas shubuh itu, Huda tak mampu menahan kantuk yang sangat karena semalaman ia tak mampu memejamkan mata. Entah apa yang ada dalam pikirannya kini. Satu pekan terakhir ini, konsentrasinya kacau. Pekerjaan banyak yang tidak selesai tepat waktu. Dan hampir tiap malam, ia begadang hanya untuk menyelesaikan naskah yang ternyata hanya beberapa alinea yang mampu diketiknya.
Huda pandangi pesan di atas secarik kertas itu. Sebuah pesan yang menjawab kerinduannya pada bumi Nangroe. Pada Baiturrahman. Pada hijau bukitnya. Pada lengkingan tilawah anak-anaknya yang menggetarkan ruang hati. Tanah Nangroe yang baru ia tinggalkan enam bulan lalu, setelah dua bulan ia merajut harapan bersama mereka, di bawah tenda-tenda penampungan korban tsunami. Dua bulan, begitu singkat. Ingin rasanya lebih lama, atau menetap di sana. Namun, tak mungkin. Huda harus kembali ke Jawa untuk menyelesaikan studinya.
Harapannya, ia simpan. Tidak sedikit harapan orang-orang disekitarnya yang menanti untuk diwujudkan. Untuk itu semua, Huda menggenggam erat tekadnya. Ada satu harapan yang tak ingin dilepasnya begitu saja. Suatu saat, ia akan kembali. Untuk anak-anak Nangroe. Bersama mereka, bercerita tentang taman-taman syurga, bermimpi tentang masa depan. Ya, masa depan. Suatu masa yang akan mengembalikan semua yang telah porak poranda, tidak hanya fisik tetapi jiwa rakyat Aceh. Untuk semua itu, Huda menguatkan tekadnya. Ia simpan di dalam ruang khusus di dalam hatinya. Tidak ada yang lain, hanya ada satu harapan itu.
Ah, betapa harapan itu menyesakan ruang hatinya. Tidak, lebih tepatnya melelahkan. Bukan karena putus  asa karena jalan itu belum ditemuinya, melainkan visualisasi masa depan itu yang senantiasa menari-nari di alam fikirnya, seakan hanya utopia. Kapankah ? Sedangkan, di tempat yang jauh dari tempat merancang itu, di tempat rantauan, Tatar Sunda, Huda terbelenggu oleh berbagai keterbatasan. Studinya yang tak kunjung usai, panggung kampus yang tengah porak poranda oleh macan-macan pluralis, menggerakannya untuk menyimpulkan satu sikap, bertahan sejenak untuk mengumpulkan kekuatan yang telah terserak.
Ada kewajiban yang tidak kecil yang harus diwujudkan olehnya sebagai manusia intelektual. Pengalaman terakhirnya sebagai perwakilan mahasiswa dalam jajaran BEM mengharuskannya untuk tidak diam menyaksikan semua keboborokan mental dan moral para manusia bertitel sarjana. Inilah yang sejatinya membuatnya malas untuk bersikeras menyelesaikan tugas akhirnya. Karena bukan ijazah yang terpenting, melainkan tanggung jawab dari apa yang telah didapat. Namun, ia sadar. Pemikiran itu hanyalah karena ketidaknyamanannya berjibaku dengan formalitas kampus yang menyebalkan. Sedangkan di luar itu, tak sedikit orang-orang disekitarnya yang menaruh harapan di atas pundaknya.
Statusnya sebagai angkatan lawas di kampus itu kini semakin terancam. Teruskan atau terpaksa mundur. Di sisa waktunya yang tak banyak, Huda tekadkan untuk fokus melakukan dua hal sekaligus. Skripsi dan restorasi organisasi mahasiswa yang semakin tak memiliki karakter idealismenya. Ya, dua kerja dalam waktu yang tak banyak lagi, dua bulan.
Teh Da, malam Selasa besok bisa hadir di acara forum muslimah pekanan? Ada beberapa masalah yang ingin kami sharingkan. Tempatnya di kostan teh Ziah. Syukron. Fawaz.”
Pesan singkat dari adik tingkat itu menyeka jemarinya menghentak tombol notebook yang tengah dipelototinya. Kata-kata yang tengah disusunnya hanya berupa lompatan-lompatan yang hambar dari pemaknaan.
Ya, insya Allah teteh usahakan.” Pesan terkirim. Ah, memang tak boleh ada kata lelah untuk mengurungkan diri memikirkan langkah menghentikan tangga demi tangga langkah penghancuran ideologi di dalam tubuh institusi pendidikan berlabel Islam. Di tengah kebobrokan moral pegiatnya, sejatinya perubahan itu perlu dimotori, penuh dengan kesadaran atau dengan paksaan.
Di tengah ricuhnya gerombolan kata yang menanti untuk diketik malam itu, Huda menengadah ke hamparan gemintang di langit. Mereka membentuk formasi yang anggun, saling memperelok formasi yang lain. Betapa ramai gugusan bintang itu bercerita tentang kemaha agungan Pencipta, dengan segenap ni’mat yang tercurah. Fa biayyi aalaairabbikuma tukadzdzibaan.
*****
Elang putih itu baru saja terbang meninggalkan dahan pohon karet dibukit Lamno. Terlihat kepak sayapnya yang anggun. Hijaunya bukit Lamno pun semakin nampak permai olehnya. Rimbunan hijau pohon cemara dan kuningnya daun jati tak kalah menyemarakkan keindahan alam di bukit itu. Dari kejauhan, serombongan burung camar terbang dengan begitu rapih menyusun satu formasi yang indah.
Jepreeet. Muthi berhasil membidik pemandangan itu dalam satu focus lensa kameranya. “ Yes, berhasil.” Gumamnya sembari tersenyum puas. Keindahan alam Lamno telah mampu memikat hatinya, tidak ingin rasanya memejamkan mata meski sejenak. Lamno, ia  tetap indah, anggun dan memikat setiap yang singgah di sana, meski tsunami di akhir tahun lalu pernah mengukir duka di atasnya. Pantainya dengan ombak yang berdebur indah, ia seolah mengatakan,”Kami hanya diminta Sang Kuasa untuk memberi peringatan kepada mereka yang lalai, tetapi kami akan tetap indah menyambut pesona mata orang-orang yang penuh dzikir kepada Nya.”
Lamno, keindahannya telah dinodai oleh kebiadaban moral orang-orang yang tak memahami makna kehidupan. Bukitnya yang hijau, hanya mampu membisu menatap kebiadaban moral itu merajalela, mengancam kehancurannya. Ya, Lamno kini tak sama dengan Lamno yang dulu. Arus modernisasi, westernisasi dan arogansi atas nama nasionalisme telah mencerabut nilai-nilai kehanifan Islam dari akarnya.
Muthi menatap sekelilingnya. Betapa banyak orang-orang berlalu lalang dengan segala urusannya masing-masing. Ia hanya mengelus dada, betapa remaja muslimah tak malu lagi mempertontonkan betis-betis mereka. Mereka begitu bangga dengan menggunduli kerudung mereka. Tak lagi terdengar suara mereka menyemarakkan meunasah dengan tasbih dan shalawat. Sepi. Hanya terdengar suara parau orang-orang tua yang memang amat gemar mengumpulkan bekal dalam menunggu waktu akhir mereka.
Lamno loen sayang, Lamno loen malang.” Tak tersadar Muthi mengucapkannya di tengah lamunannya mengenang Lamnonya dulu.
“Ustadzah, ayo cepatlah ke sini, ikan bakarnya udah selesai. Sekarang giliran ustadzah bikin sambalnya...haa....haa....” suara bass Fahmi meramaikan waktu makan siang.
“Beneran nich, ustadzah yang bikin sambal, 1 kilo lho cabenya....” Muthi usil menantang.
“Ya, tak apa-apalah, kan sambalnya juga yang makan ustadzah, weee....”
Balas Fahmi.
“Sudah...sudah...ayolah kita segera santap tuh ikan bakar. Kalau sudah dingin tak nikmat nanti. Ayo, anak-anak putra bikin lingkaran kecil di sebelah kiri ustadzah, yang putri di sebelah kanan.” Wajah putih ustadzah Raihanah terlihat adem, mengademkan panasnya udara Lamno siang itu.
Ustadzah Raihanah dan Muthi’, mereka berdua berjuang mendirikan sekolah darurat untuk anak-anak di belahan Aceh Barat. Bagian dari Aceh yang paling sulit dieksekusi pasca gempa dan tsunami hampir sembilan bulan yang lalu. Lamno terlampau hancur. Jumlah korbannya pun terhitung paling besar. Proses  recoveri yang tidak mudah. Hingga di bulan kesembilan ini, anak-anak itu masih belum sepenuhnya terlepas dari trauma peristiwa itu. Tidak sedikit dari mereka yang kini menjadi yatim piatu.
Masa depan mereka terputus. Aqidah mereka terancam. Bencana besar ini menjadi kesempatan orang-orang yang berkepentingan untuk ‘menjual’ negerinya, membungkam cita-cita anak-anak itu dengan setumpuk proyek serta meredupkan cahaya iman mereka dengan kumpulan busa janji-janji kosong. Betapa bejatnya mereka. Masih dalam satu bendera mereka begitu tega menekan masa depan saudara satu tanah air.
Untunglah, orang-orang Aceh itu tidak sepolos dulu. Pesantren-pesantren pun masih mencetak da’i-da’i kecil yang tangguh. Mereka tidak mudah terbeli oleh setumpuk mainan atau peralatan sekolah yang mewah dari tangan-tangan oportunis. ­Meunasah-meunasah pun tetap tegar dan tegak menyuarakan bait-bait kalimat thayyibah yang mulai asing ditelinga anak-anak muda.
Muthi’ dan teman-teman aktivis mahasiwa lainnya, tidak tinggal diam menyaksikan anak-anak Aceh ‘diperjual belikan’ dengan begitu mudah. Mereka bergerak dengan mengumpulkan segala yang masih tersisa. Bagaimanapun meski situasi tidak sekondusif dulu, masih ada orang-orang Aceh yang memegang prinsip-prinsip dalam budaya Aceh. Trauma sejarah masa lalu, masih melekat dalam ingatan mereka, untuk berhati-hati pada ‘tangan-tangan’ oportunis. 

(bersambung)

Komentar

Postingan Populer