Menata Ulang Langkah di awal "kemenangan."


“Pada mulanya adalah cita-cita. Lalu kehendak. Sesudah itu perjuangan menepati janji dan mengejar mimpi-mimpi. Itulah kesetiaan akan pilihan. Itulah perjuangan. Dan, itulah inti kehidupan.”

Dua puluh lima tahun. Genap usia saya tahun ini. Tepat satu hari sebelum 1 Syawal, Allah masih mengizinkan diri ini untuk mengecap satu nikmat yang teramat berharga dalam hidup setiap makhluq, yaitu kesempatan. Ya, kesempatan. Satu dimensi waktu yang merupakan ruang segala harapan berada di dalamnya. Di kesempatan yang telah genap seperempat abad ini, saya pun tak jengah menyusun harapan-harapan masa depan. Saya mencoba menyusunnya dengan rapih agar kelak saya tahu mana di antara harapan-harapan itu yang telah saya raih.
Di dua puluh lima tahun ini, saya sadar harus ada perubahan yang dilakukan. Sekali lagi, dilakukan, tidak sekedar dirancang. Perubahan itu adalah sesuatu yang teramat besar dan pasti tidak mudah. Terlalu banyak ‘PR’ diri ini yang harus diselesaikan. Pun masih banyak ‘angka merah’ yang harus diperbaiki. Tentang karakter diri, perilaku, serta capaian-capaian mimpi yang selama ini ternyata memang masih dalam tataran bermimpi. Benar-benar bermimpi. Berbagai konsep tentang masa depan itu, baru sebatas rancangan di layar acer, belum mengejawantah dalam langkah nyata. Dan itu semua menyita waktu sampai seperempat abad kini.
Diseperempat abad kini, sejatinya tidak sedikit harapan yang mengapung-apung di atas samudra hati, dan semuanya mencari pelabuhan agar harapan itu tertambat dengan kuat, tidak lagi terombang-ambing oleh ombak ketidakpastian. Harapan-harapan itu pun bagaikan karang yang semakin mengeras karena tempaan peristiwa yang silih berganti membersamainya.
Ada haru yang menyeruak ketika ruang kontemplasi kembali dibuka, merefleksi semua peristiwa yang merupakan ukiran sejarah selama dua puluh empat tahun lalu. Betapa semuanya begitu indah, meski pahit dan sakit menjadi teman. Meski langkah untuk mewujudkan setiap cita-cita saat ini harus terjatuh bangun, berbalut luka yang perihnya tak terhapus oleh waktu.
Diseperempat abad kini, perlu kiranya harapan-harapan itu kembali diurai agar ia tak kusut karena terlalu lama dibiarkan dalam kotak sempit bernama pesimisme. Dimulai dari perjalanan waktu enam tahun lalu, ketika diri ini sebenarnya tak punya cukup keberanian melawan arus kehidupan dengan melangkah sendiri meninggalkan segala yang selama ini meninabobokan. Waktu itu adalah waktu pertama ketika diri ini memulai ‘pertarungan’ melawan segala doktrin kemustahilan.
Perjalanan waktu yang tidak lama itu, memang terlalu berliku untuk diceritakan ulang. Namun kesimpulan dari cerita itu adalah sebuah harapan akan hadirnya satu waktu yang di sana kedirian dan kemandirian ingin terpajang dengan megah dan kokoh di depan langkah. Ia tidak akan terhalang oleh kabut realita yang terkadang begitu gelap menutupinya sehingga mata ini tak mampu menatap dengan jelas dan langkah pun terhenti paksa. Satu waktu itu adalah harapan fitrah yang telah lama terapung-apung dan tak lelah mencari pelabuhannya untuk tak lagi takut terhempas ombak atau mungkin tehantam badai.
Harapan yang dari waktu-waktu menguasai ruang kontemplasi dalam kesendirian pun dalam kebersamaan ketika ia meramaikannya. Untuk satu harapan ini, entah mengapa diri ini begitu tersentak ketika alam fikirku terlalu lancang ‘merekam’ tentangnya padahal ia adalah masa depan. Saya benar-benar harus mengakui, saya harus mencari  dan mendapatkan pelabuhan untuknya.
Harapan itu bukan sekedar harapan. Namun ia memang dipaksa untuk menjadi kesimpulan akhir dari pertarungan selama enam tahun lalu. Diri ini tak mampu lagi bertahan di dalam ruang waktu yang telah terlalu sesak oleh harapan-harapan kosong. Begitu lelahnya melangkah menyusuri peristiwa demi peristiwa namun tak jua pelabuhan itu ditemukan.
Dua puluh lima tahun ini, keberanian untuk melawan pertarungan itu harus semakin menguat. Saat ini, tak ada lagi celah untuk urung dari berbagai langkah. Semua pintu-pintu kebaikan harus dibuka, bahkan secara paksa. Mentolerir keterbatasan diri, maka sejatinya telah mentolerir kegagalan yang siap mengetuk bahkan mendobrak pintu masa depan.
Di dua puluh lima tahun, seiring dengan datangnya hari kemenangan yang agung, satu harapan yang menguat dalam hati ini adalah bagaimana kemudian ke depan diri senantiasa memenangkan pertempuran demi pertempuran setelahnya. Setelah masa penjagaan tameng diri itu usai, maka bukan berarti tak akan ada lagi masa untuk menjadikan diri ini semakin kokoh melawan segala serangan yang melemahkan.
Ada sesal, kesal, kesah tetapi ada pula syukur yang menyeruak kala masa kemenangan ini hadir. Sesal dan kesal atas segala usaha yang kurang sempurna, atas kepal yang tak mampu lagi menggenggam kuat. Namun syukur yang tak terperi atas kesempatan untuk kembali menata taman hati, menata ulang langkah dan tentu menata ulang mimpi agar semakin indah menghiasi hakikat kesempatan yang diberikan.
Akhirnya di momentum kemenangan ini, diri ini semakin yakin akan langkah yang harus dipacu serta keniscyaan yang pasti di depan jalan nanti. Ada keberanian yang harus disematkan kuat di dalam hati agar ia tak hanya menjadi bayangan yang menyembunyikan langkah sejati menuju gerbang kemenangan yang tak jauh lagi akan tergapai oleh langkah ini. Insya Allah.[]


Sudut Kontemplasi, 29 Agustus 2011,
Malam 1 Syawal 1432 H

Komentar

Postingan Populer