Pembelajaran Untuk Sebuah Kedewasaan
“Sesak,” spontan adikku menyambut salam perpisahanku cukup dengan satu kata itu. Pagi itu memang tidak biasa. Pertemuan ku dengan mereka pagi itu adalah untuk yang terakhir setelah selama kurang dari dua tahun kami bersama dalam satu ruang diskusi yang akrab. Keheningan dengan cepat segera menyeruak kedalam ruang kebersamaan itu. Meski masih ada senyum yang dipaksa tersimpul, namun hati sejatinya tak mengizinkan.
Setiap episode yang berlalu adalah pembelajaran untuk ke arah yang lebih baik. Sebagai manusia berakal dan berhati, tentu hal ini haruslah menjadi kebajikan yang selalu ditimba guna perbaikan diri. Apapun bentuk peristiwa itu, bukanlah yang terpenting. Jauh lebih penting adalah kepekaan hati dan ketajaman akal untuk mendalami samudera pelajaran yang terhampar bersama hadirnya.
Pun aku. Meski ada juga rasa berat berpisah dengan mereka. Adik-adikku yang mereka adalah lakon utama panggung pergulatan dakwah kampus. Ingin sebenarnya selalu mendampingi mereka berdiskusi tentang segala gesekan atau keluwesan ukhuwah yang hadir mewarnai panggung itu. Namun, setiap pertemuan pasti ada saat perpisahannya. Dalam sebuah kebersamaan, pasti akan masa kesendiriannya. Inilah, makna pembelajaran untuk sebuah pendewasaan. Untuk sebuah ketegaran dan kekokohan jiwa agar ia tak rapuh dan cengeng.
Tanpaku, mereka akan jauh lebih baik. Mereka akan lebih mampu mandiri, cerdas, dan gesit menyelesaikan cerita di atas panggung. Ruang-ruang diskusi yang pernah diwujudkan, ia harus semakin ramai dengan diskusi yang berisi dan penuh faedah, dimanapun, kapanpun, dengan siapapun. Karena kebersamaan di atas jalan ini, bukanlah karena tautan hati yang tak berarti, melainkan ia tertaut karena keimanan. Itulah ikatan yang tali pengikatnya lebih kokoh dari ikatan nasab.
Ya, ukhuwwah imaniyah. Ia sejati dan tak akan lapuk ditelan usia. Ia akan tetap terukir bahkan akan semakin tajam ukirannya, seiring bertambahnya bilangan usia yang membersamainya. Apalagi, jika ia diwarnai oleh sejuta warna da’wah, ia akan semakin mempesona menghiasi wajah peradaban Islam.
Untuk adik-adikku, HAMASAH. Ingatlah, kalian adalah tonggak da’wah, pun tonggak peradaban ini. Tegak atau runtuhnya, adalah kalian penentunya. Bergeraklah, sampai letih itu menyertaimu. Jangan mengkorupsi kebahagiaan dan kegemilangan kalian di akhir nanti, dengan keluh kesah karena disapa bosan dan lelah. Cukuplah, Allah Sang Maha Penyantun sebagai sandaran keluh kesah kita.
Jaga dan peliharalah ukhuwwah yang telah terikat dengan saling nasihat akan kesabaran dan kebenaran. Tunaikan kewajiban ukhuwwah, dengan mengutamakan itsar dan selalu berbaik sangka pada saudara. Ingat, runtuhnya da’wah ini adalah tidak lain karena ulah para da’i yang mengagungkannya, ketika mereka saling bersiteru, debat, sehingga mereka terpecah. Relakah kalian jika itu terjadi ?
Adik-adikku, Ingat ! da’wah ini bukan jalan yang indah bertabur bunga. Ia adalah jalan mendaki lagi terjal nan panjang. Semakin kalian mendaki, menelusuri panjangnya, maka akan semakin berat mihnah yang siap menyapa. Inilah ujiannya. Bertahan atau mundurkah kalian nanti ? Tengoklah sejarah, di antara para pendahulu itu pun tidak sedikit yang mundur, namun Allah mengganti mereka dengan yang lebih baik. Relakah kalian tergantikan ?
Dan di antara mereka pun, tidak banyak yang tetap melaju, meski langkah mereka terserak, pundak mereka penuh beban. Namun semangat mereka lebih tinggi dari gunung Uhud, lebih dalam dari samudera, menghujam dalam iman mereka. Dan, akhirnya….” Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain dari pada Allah ? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu.” Kalian pasti sangat mengenal ayat ini. Indah sekali bukan.
Berpegang teguhlah pada janji kalian kepada Nya, tungguhlah sampai Allah memberikan ketetapan Nya, tentang syahid atau kemenangan bertubi-tubi. Semua itu tak mustahil bagi Nya.
Akhir kata, terus bergerak, berjuang, bertarung, dan menangkan !!!! Semoga ukhuwwah ini adalah batu bata yang sedang kita siapkan untuk membangun istana megah di Firdaus sana. Amiiin.
Ukhti Fillah
Syahidah Lamno
Ku Baca Firman Persaudaraan
ketika kubaca firman Nya,” sungguh tiap mukmin bersaudara”
aku merasa, kadang ukhuwwah tak perlu dirisaukan
tak perlu, karena ia hanyalah akibat dari iman
aku ingat pertemuan kita, Ukhti sayang
dalam dua detik, dua detik saja
aku telah merasakan perkenalan, bahkan kesepakatan
itulah ruh-ruh kita yang saling sapa, bepeluk mesra
dengan iman yang menyala, mereka telah mufakat
meski lisan belum saling sebut nama, dan tangan belum berjabat
ya, ku baca lagi firman Nya, “sungguh tiap mukmin itu besaudara”
aku makin tahu, persaudaraan tak perlu dirisaukan
karen saat ikatan melemah, saat keakraban kita merapuh
saat salam terasa menyakitkan, saat kebersamaan serasa siksaan
saat pemberian bagai bara api, saat kebajikan justru melukai
aku tahu, yang rombeng bukan ukhuwwah kita
hanya iman-iman kita yang sedang sakit, atau mengerdil
mengkin dua-duanya, mungkin kau saja
tentu lebih sering, imankulah yang compang-camping
kubaca firman persaudaraan Ukhti sayang
dan aku makin tahu, mengapa di kala lain diancamkan :
“para kekasih pada hari itu, sebagian menjadi musuh sebagian yang lain …
kecuali orang-orang yang bertaqwa.”
( Dalam Dekapan Ukhuwwah )

Komentar
Posting Komentar