Cerita Senja
Senja yang indah. Matahari, sebelum ia kembali ke peraduannya, sinarnya begitu terang dan menghangatkan. Langit biru luas terhampar, awan putih indah menggulung, menyuguhkan keteduhan dan kedamaian yang dalam.
Ia pun menggerakkan sepotong hati yang di tengah kelelahannya untuk bercerita pada sore. Apa daya … lelahnya begitu kuat mendera. Hampir saja, oh …tidak bahkan telah menetes, kristal bening dari sepasang sudut mata elangnya.
Senja … keindahanmu sungguh sayang, jika harus dibagi untuk lelahnya si hati. Namun, kepada siapa lagi dia harus berbagi. Tidak ada hati-hati lain yang rela berbagi ruang. Hanya engkau, mungkin salah satu, yang setia untuk berbagi ruang. Ah … lagi pula engkau terlalu luas, tak ada salahnya jika ruangmu dibagi sedikit untuk si hati.
Ehm …. pernahkah engkau merasakan sesak? Ketika engkau didera lelah yang begitu payah…. Oh… bodoh sekali. Ya, tentu saja engkau tidak akan pernah merasakan itu. Engkau bebas melakukan apapun. Ruangmu begitu luas, tak mungkin sesak. Bahkan ketika awan-awan putih itu menghitam, maka mereka pun bebas untuk memuntahkan bermilyar embun yang memberatkannya. Namun tetap saja, mereka tetap indah berarak. Oh … andai saja hati bisa seperti itu.
Senja yang sungguh indah, kedamaian yang menenangkan. Ingiiin …sekali bercerita padamu. Tentang sebuah arti kehidupan yang penuh rahasia di dalamnya, tentang “sesak” yang kadang-kadang begitu ganas menguasai, tentang episode yang kadang serasa berulang. Uuuh ….betapa melelahkannya. Dan satu lagi, tentang cerita yang kadang tak mudah diterjemahkan maksudnya.
Rabb kita, Yang Maha Penyantun, siapa yang tak ta’jub pada setiap titah Nya. Pun si hati. Cerita yang dihadirkan untuk setiap hati, bukan cerita tanpa ma’na. Meski begitu alot alurnya, tetapi tidak pernah tidak, berakhir dengan dihiasi senyum simpul. Andai saja setiap hati tahu akan akhir setiap ceritanya, tentunya ia akan selalu menunggu cerita-cerita dari Nya.
Setiap hati pun ta’jub padamu, wahai senja. Engkau tetap berada pada waktumu. Meski waktumu hanya sebentar untuk menemani makhluq di alam ini melepas penat, engkau tak mengeluh. Bahkan ketika hujan menjadi penghias wajahmu, tetap saja keteduhan dan kedamaian yang engkau miliki menyeruak di ruang setiap hati. Ya, karena engkau membawa keteduhan dan kedamaian dari Rabb yang Maha Gagah dan Maha Penyayang.
Setiap hati, menanti datangnya waktumu, untuk menikmati pesona yang engkau miliki. Menyegarkan ingatan, merehatkan otot-otot yang lelah dan mengembalikan semangat yang mungkin hampir menguap oleh kesibukan yang begitu menyita seluruh waktu. Ketika engkau mulai datang menghampiri, seketika itu pula, segala yang menyesakkan pun terusir oleh keteduhanmu. Engkau sungguh luar biasa, bahkan Rabb alam ini pun, memberikan reward untuk setiap hati yang menjaga dzikir saat engkau menjelang.
Sebentar … aku pun juga ingin menghayati kedamaianmu.
Bagiku … engkau adalah teman yang mampu mengembalikan semangatku. Sekali lagi, segala pesonamu, karena engkau membawa kedamaian dan keteduhan dari Yang Maha Penyantun dan Maha Penyayang.
Biarkan aku pun menjadikanmu sebagai kawan sejatiku. Ijinkan, aku pun juga ingin berbagi cerita denganmu. Berbagi kepenatan, kepayahan dan juga satu senyum simpul dariku, tentu akan ku bagi denganmu.
Senja …nampaknya waktumu akan segera berlalu. Malam mulai mengganti waktu mu. Dan tentunya, akan ada pesona lain yang disuguhkan. Pesona lain dari keagungan Rabbul ‘alamin. Subhanallah …. akan ku cari dan ku dalami pesonaNya. Semoga esok … aku bisa menemui mu di waktu spesialmu, meski ku tahu tak boleh aku menantikan atau menunggu hadirnya waktumu. Sampai jumpa.


Komentar
Posting Komentar