Sebuah Kedewasaan
Dewasa. Sebuah kata yang mensifati seorang anak Adam dengan pensifatan yang berarti ia tidak lagi merengek, tidak lagi memanja, tidak lagi menggelegar dalam amarah atau ia tidak lagi meringkuk dalam kekecewaan ketika keinginannya tak bersambut. Dewasa, ia pun adalah batas akhir dari perjuangan melawan gejolak jiwa yang dialaminya di tujuh tahun kedua perjalanan waktunya sejak ia dilahirkan.
Perjuangan melawan gejolak jiwa itu, sejatinya pun ia menentukan warna kedewasaan yang dihasilkannya. Apakah warna itu utuh atau bolong sana-sini? Pergolakan jiwa yang membersamai dibelakangnya, ia menentukan. Ya, kedewasaan jiwa seseorang dapat ditilik dari rentetan narasi yang mewarnai dibelakangnya.
Di masa yang tak mau lagi disebut sebagai anak kecil ingusan, mereka kemudian berlomba mencari identitas dirinya masing-masing. Ada di antara mereka yang dengan bangga mengikuti setiap yang dilihat dan didengarnya, ada pula yang mencari warna dirinya dengan menggabungkan warna-warna lain yang ada disekitarnya. Maka jadilah ia perpaduan warna yang saling menonjolkan warna-warna lain yang ada disisinya.
Kedewasaan seseorang kerap kali dimaknai dengan kesiapan jiwa seseorang untuk melakukan sesuatu yang besar dalam hidupnya. Atau disikapi dengan kemampuan seseorang dalam mensikapi peristiwa pahit dan sulit dalam hidupnya, yang kemudian ia mampu bertahan dan keluar atau setidaknya meminimalisir kepahitan yang dirasakannya agar sedikit manis dikecap.
Agak terlalu sulit memang mendefinisikan makna dewasa ini. Di sisi lain, dewasa itu tidak berarti ia berusia matang. Ada diantara mereka yang begitu belia, namun mereka begitu dewasa. Dan ada diantara mereka yang telah lanjut, namun tak terlihat kedewasaannya. Tidak ada korelasi antara usia dan kematangan jiwa seseorang, ringkasnya seperti itu.
Fenomena disekitar kita tentang pemahaman makna ini, tentu lebih mampu kita simpulkan. Bahwa kematangan jiwa atau sebuah kedewasaan seseorang adalah proses alamiyah yang nyaris tanpa rekayasa yang hasil akhirnya adalah matang atau setengah matang, dewasa atau tidak. Ya, karena dewasa adalah pilihan. Dan tua adalah kepastian. Maka manakah yang kita pilih kemudian kita nikmati. Tergerus usia dalam ketuaan yang semakin tanpa pematangan atau kematangan yang terlatih bersamaan dengan tergulungnya usia ?
Dewasa, di sisi lain dia berarti pula bijak. Bijak, ia adalah sanggup menentukan sikap atas diri dan orang lain. Atas peristiwa dan problema yang melingkupinya. Ia tidaklah angkuh karena kedewasaannya atau sekedar lebih berkepalanya usia yang mengiringinya. Karena sekali lagi, sebagaimana dewasa, bijak pun tidak selalu membersamai usia yang semakin berkepala. Meski, memang seharusnya seperti itu.
Inilah yang kemudian jawaban atas pertanyaan para wanita yang belum juga menikah padahal usianya mencapai kepala tiga. Mengapa pada usia yang terbilang cukup matang itu, jadwal khusus dalam hidup kebanyakan wanita itu pun tak kunjung datang? Terheran, ketika kemudian di sebuah kampus seorang mahasiswa tingkat satu menikah setelah menyelesaikan ujian akhir semesternya.
Atau mahasiswa tingkat tiga yang masih berkepala dua, tengah hamil tua dan tinggal menunggu hari persalinan. Yang ini mungkin menimbulkan tanya pada para wanita yang belum juga dikaruniai keturunan padahal telah lima tahun menikah. Apakah dirinya belum cukup pantas atau matang menjadi seorang ibu? atau…? Tidak cukup mudah menjawab “atau” itu. Karena untuk menjawabnya pun dibutuhkan sikap yang bijak dan pemikiran yang dewasa.
Kesiapan atau tidaknya seseorang menanggung sebuah beban dalam proses hidupnya, tidak dapat di ukur dengan ukuran manusia. Itu adalah rahasia, yang sekali lagi tidak mudah dijawab. Hanya Allah Yang Keagungan Nya tiada tanding, yang mengetahui. Keterkejutan kita pada setiap fenomena yang tidak mudah dimengerti, itulah bukti bahwa diri kita begitu banyak diliputi oleh keterbatasan, ketidakmatangnya jiwa dan tidak bijaknya akal dalam memahami.
Menjadi dewasalah, karena ia adalah pilihan.[]
Komentar
Posting Komentar