Menata Ulang Indahnya Da'wah


Da’wah, ia adalah kata yang tidak semua orang bersedia mengucapkannya. Mengucapkannya, berarti ada konsekuensi keimanan yang harus ditunaikan. Membungkamnya, berarti setidaknya ada ‘pemaafan’ untuk tidak menunaikan konsekuensi besar dibalik kata itu.
Pada hakikatnya, semua orang mampu melakukannya. Namun persoalannya adalah sejauh mana ia ditunaikan dengan membawa sekeping iman di dalam hatinya. Ya, karena da’wah adalah konsekuensi maknawiyah dari sebuah hakikat keimanan. Da’wah tidak semudah diucapkan, sebagaimana para aktivis pergerakan menggaung-gaungkannya. Namun pada persoalan praktik, ternyata masih banyak yang perlu dibenahi, baik pelaku da’wah itu sendiri pun konsep praktis yang dikembangkan.
Berbicara tentang da’wah, maka ia adalah bukanlah pekerjaan sambilan. Ia adalah pekerjaan yang menuntut totalitas. Totalitas waktu, pikiran, tenaga, harta, bahkan kehidupan pegiatnya. Tragis, ketika ia hanya disikapi sebatas pekerjaan sambilan. Atau apalagi jika ia dijadikan sebagai pekerjaan guna mencari keuntungan pribadi. Prestis mungkin, atau mencari pasangan hidup, atau  mungkin jabatan.
Da’wah memang membuka berbagai peluang kebaikan bagi siapapun, tidak hanya bagi para pegiatnya yang bersungguh-sungguh, atau bagi para oportunis, dan bahkan bagi musuh-musuh da’wah itu sendiri. Namun, pertanyaannya kemudian, peluang macam apa yang diberikan kepada mereka ?
Akhirnya, lagi-lagi kita berbicara tentang niat. Di atas landasan apa da’wah ini dibumi tegakkan oleh pegiatnya ? materikah ? atau karena keimanannya yang lurus tanpa retak? Semuanya kemudian mewarnai dinamika di dalamnya. Akankah da’wah ini menuju cita-cita kemenangannya atau pada detik-detik kehancurannya? Tidak lapuk dalam ingatan dan pemahaman kita bahwa da’wah ini pun dapat roboh ditangan para da’inya. Meski tanpa ragu pula kita yakin bahwa da’wah ini telah dijamin kemenangannya oleh Allah, suatu saat, pasti.
Dalam hati orang-orang yang mencintai keimanannya, tentulah da’wah ini adalah kebutuhan jiwanya. Ia akan ridho pada konsekuensi keimanannya. Bukan pekerjaan sambilan, yang dinomor duakan setelah urusan yang lain diselesaikan. Meski tidak jarang, diantara mereka yang kemudian terseok-seok meniti jalan kehidupannya dalam kepayahan dan kesulitan, demi ia tegakkan da’wah di atas kehidupannya.
Bagi mereka, da’wah ini ibarat candu. Sekali ia mencicipinya, maka ia akan berkali-kali tenggelam dalam kesyahduannya. Bagi mereka, da’wah adalah segalanya. Tidak ada pembicaraan yang paling indah selain da’wah, tidak ada pekerjaan yang menyenangkan dan memuaskan selain da’wah. Mereka telah dengan suka rela menjadikan da’wah sebagai warna kehidupannya.
Ketika kita tatap medan pertaruhan hidup dan mati itu saat ini, betapa ia disesaki oleh da’i-da’i oportunis. Mereka hanyalah sekumpulan orang-orang yang menjadikan da’wah sebagai pekerjaan sambilan. Hanya jika ada waktu tersisa mereka berbuat untuknya, atau hanya untuk sekedar memperbincangkannya. Tidaklah janggal, da’wah ini pun semakin jauh dari cita-cita kemenangannya. Ia terpuruk dan semakin terpuruk. Tangan-tangan da’i itu telah merobohkannya, perlahan-lahan.
Maka, da’wah ini perlu ditata ulang. Keindahan tamannya perlu disiram dan dipupuk dengan rajin. Warna dasarnya yang kian memudar, perlu diganti dengan warna yang lebih menggairahkan dan enak dipandang. Penataan ini bukanlah pekerjaan yang mudah, oleh karenanya harus dilakukan oleh tangan-tangan visioner yang akan mengembalikan da’wah in kepada asholahnya yang paling mulia.
Sudah saatnya, mereka para da’i oportunis itu enyah dari keindahan taman da’wah ini. Mereka hanyalah perusak dan pengacau. Biarlah keindahan taman ini ditata ulang oleh tangan-tangan yang tulus dan penuh cinta. Sudah saatnya da’wah ini bangkit dari sakitnya karena tercekik oleh dangkalnya jiwa pegiatnya. []

Komentar

  1. mari sama-sama benahi dakwah ini agar kembali pada asholahnya dan meraih keberkahannya.. Allahu Akbar!!!

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer