Untuk Sebuah Masa Depan


“Ketika wajah penat memikirkan dunia, maka berwudhulah. Ketika tangan letih menggapai cita-cita, maka bertakbirlah. Ketika pundak tak kuasa memikul amanah, maka bersujudlah, ikhlaskan semua dan mendekatlah kepada Nya agar kita tunduk disaat yang lain angkuh, agar kita teguh disaat yang lain runtuh, dan agar kita tegar disaat yang lain terlempar.”

Detik ini, babak baru kehidupan baru saja berjalan. Lajunya lebih cepat dari babak sebelumnya. Sedikit melelahkan memang, tetapi percepatannya menggerakkan segala potensi yang tersembunyi meski terkesan sedikit dipaksa. Tetapi ini bukanlah masalah. Di babak baru ini, jengah, bosan dan apapun namanya tak jarang mendesak masuk turut memenuhi ruang waktu yang ada. Padahal ruang itu baru saja ditata ulang agar terlihat berbeda dan menyenangkan.
Di babak baru ini, tema yang dipajang masih sama. Tentang sebuah masa depan yang seakan beberapa langkah lagi tergapai. Tentang sebuah mimpi yang ketika mengingatnya seolah ia mampu menutup retaknya jiwa yang tergesek oleh peristiwa. Mimpi itu adalah tentang kedamaian, tentang kehangatan, tentang kesejukan, tentang ketenangan, tentang sebuah harmoni yang mendengungkan bait-bait kebahagiaan.
Visualisasi tentang mimpi itu memang sedikit menyentak semangat, meski ia belum tergambar pasti, tetapi ada keyakinan bahwa ia bukanlah utopia. Karena dibabak baru ini, ada satu warna yang gradasinya lebih cerah dan indah dari warna sebelumnya. Warna ini seolah menggambarkan tentang optimisme yang selama ini bersembunyi dan enggan hadir dipermukaan harapan.
Ya, di tengah detik kini, hasrat untuk menggapai masa depan itu semakin menguat. Berharap segera ia hadir disesaknya peristiwa yang tengah membersamai saat ini. Entahlah, semacam ada keengganan menatap hari dengan tema yang sama, ajeg dan datar. Pernah seorang teman berkata,”Sudahlah, lakukan apa yang menurutmu baik. Aku melihatmu seolah tak mampu berbuat yang kau mau, karena keterbatasan yang ada disekitamu.” Temanku itu memang benar. Tetapi alangkah alotnya langkah ini untuk melaju lebih jauh, menjauh dari duniaku saat ini.
Penat memang berbicara tentang mimpi, ketika tidak ada realisasi. Jengah memang berbicara tentang obsesi, ketika ia tak lebih hanya sebatas diskusi. Namun memang misteri tentang masa depan itu masih sulit dipecahkan. Alam fikirku bercerita banyak tentangnya. Visualisasinya kadang indah, kadang dramatis, kadang pula tragis.
Entahlah, penat. Semuanya membosankan. Ketika saat ini peran-peran yang tak kuinginkan begitu menuntut semakin membuang jauh ego diri. Sejujurnya diri ini lelah, ingin berontak, menolak segala keajegan episode dalam setiap bab hidup ini.  Namun tidak ada opsi yang dapat kupilih. Jikapun ada, sangat pahit dan dilematis. Persimpangannya terlalu rumit .
Untuk sebuah masa depan, saat ini tidak ada yang bisa dilakukan kecuali berharap dan terus berharap. Karena harapan itu akan selalu ada, meski entah kapan akan mewujud. Saat ini biarlah semua dijalani apa adanya. Mengikuti arus, tetapi tetap harus berhati-hati dengan bebatuan atau ranting tajam yang terbawa bersamanya.
Untuk sebuah masa depan itu, ada harap yang tak ingin digulung, ada langkah yang tak ingin urung. Semuanya harus berjalan terus meski aral tak jeda terus menggunung. Makin beratnya peristiwa yang hadir dari waktu ke waktu, seolah mereka membuka kembali memori masa lalu. Mereka menyadarkan diri ini, bahwa sejatinya ia mampu bertarung melawan segala kepahitan dunia. Ia mampu mengalahkan segala hamtaman peristiwa dan bahkan ia mampu menghadirkan senyum di tengah kecamuk jiwa.
Masa depan yang berharmoni itu, bukanlah sebuah kemustahilan. Hanya saja jalan untuk menujunya terlalu ramai oleh ranting-ranting berduri. Tersadar bahwa masa depan itu harus digapai bersama lelah, peluh, dan dimaknai dengan air mata. Tanpa itu semua, harmoni itu terlalu tak berharga untuk diperjuangkan saat ini.
Di sini, dalam kesendirian ini, diri ini telah menggenggam satu kekuatan yang tak akan pernah melemah. Kekuatan itu bernama rindu. Rindu pada runtuhnya semua dinding kemustahilan dan kemenangan atas terbukanya pintu keniscayaan. Dalam kepayahan langkah saat ini, bersama mendung yang tak bosan menguasai ruang hati, kekuatan itu dibangun dan dikokohkan. Agar esok, ia mewujud bersama fajar kebahagiaan yang memupuskan semua kebohongan mimpi buruk selama ini. Insya Allah.[]

-    Sudut Kontemplasi  -
          9 Dzulhijjah 1432 H/5 November 2011
                                                                                                  Pukul 10.30.p.m.

Komentar

Postingan Populer