Ketika Seorang Ukhti Menggugat
“Mengapa sih selalu akhwat yang harus dituntut sempurna, harus begini, harus begitu...!” seloroh seorang ukhti sebuah barisan tarbiyah dalam suatu diskusi.
Saya mengenalnya sudah lebih dari lima tahun yang lalu. Pemikirannya saat itu masih datar, mengikuti arus. Belum pernah tercetus kritikan yang berarti apalagi pedas dan menohok. Kala itu kami tengah berdiskusi tentang program jangka pendek untuk sebuah departemen yang memang di dalamnya semua personilnya adalah akhwat. Entah mengapa tiba-tiba beliau berseloroh demikian. Ah ya, saya ingat, kala itu kita tengah berbicara tentang kekosongan kerja di dalam wajihah kami yang dari periode ke periode semakin terasa kekosongannya.
Diskusi itu kemudian mengarah kepada satu pertanyaan lama, “Mengapa jumlah ikhwan kian berkurang, kalaupun ada dalam hitungan jari mengapa mereka kurang bisa diharapkan untuk berada dibarisan depan? Mengapa lagi-lagi harus ada suara akhwat yang memprovokasi kerja ? Pertanyaan ini bukan bermaksud menyudutkan ikhwan dengan berbagai persepsinya, namun demikianlah keadaannya.
Ya, sejak pertama kali saya bergabung dalam komunitas wajihah mahasiwa ini enam tahun yang lalu, kondisinya tidak jauh berbeda dengan masa sekarang. Bahkan dari pengamatan saya pribadi jauh lebih drastis saat ini. Ironi sebuah wajihah ‘amal thullaby (mahasiswa) yang seharusnya digiatkan oleh pemuda-pemuda idealis. Namun pada kenyataannya amat jauh dari harapan. Amat jauh dari karakter asasi pegiatnya, pemuda, yang seharusnya idealis dan visioner.
Entah apa yang salah dalam perjalanan sistem tarbiyah ini. Sejauh yang saya fahami, tarbiyah ini didesign dengan sedemikian apik dengan kematangan kurikulumnya. Sejatinya, tujuan–tujuan besar dalam tarbiyah itu mampu tercover dalam bentuk ‘amal nyata. Baik pemikirannya (fikrah), ruhiyahnya (ma’nawiyah) maupun secara khuluqi. Semua itu merupakan tujuan besar dari proses awal tarbiyah, ishlahunnafs.
Fikrah, ia mengejawantah dalam konsep idealis seorang kader. Tarbiyah menghendaki lahirnya kematangan berfikir seorang al akh dalam dimensi kehidupannya. Baik itu terkait urusan pribadinya maupun urusan da’awi. Ia bukanlah pribadi reaksioner, melainkan pribadi yang senantiasa berfikir kritis dan cerdas dalam menyusun dan menyelesaikan tiap persoalan kehidupannya.
Secara ma’nawiyah, ia tercermin dalam kesungguhan pribadinya. Ia memiliki keunggulan ‘amal yang terjaga setiap waktunya. Kekuatan ma’nawi yang merupakan kekuatan ‘amalnya. Sejauh mana ia unggul dalam ‘amal-‘amal ma’nawi, maka ia akan unggul dalam ‘amal-‘amal da’awinya.
Da’wah ini memang semakin bergerak menuju kematangan mihwarnya. Namun sayangnya tidak diimbangi dengan kematangan kader-kadernya. Alhasil, banyak dijumpai di lapangan terjadi ketimpangan peran antara amanah dengan pengembannya.
Sepenggal gugatan seorang ukhti di atas, merupakan salah satu kegalauan seorang akhwat yang tengah merajut kepribadiannya. Namun, ditengah rajutan langkah itu, agaknya butuh penyempurna. Namun sayangnya, ia tidak atau lebih tepatnya belum mampu menemukan rajutan penyempurna itu.
Sebentar, berbicara tentang rajutan penyempurna itu, terserah pembaca bisa diinterpretasikan berbagai makna. Tetapi memang maknanya, kurang lebih tentang sebuah harapan akan adanya persamaan atau keseimbangan dalam pemenuhan kualitas di lapangan.
Ya, semacam ada ketimpangan dalam soal kualitas antara ikhwan dan akhwat dalam gerak di lapangan. Sejauh yang saya tahu memang, pembinaan keakhwatan lebih intens dari pada pembinaan ikhwan. Baik dari segi tarbawi, ruhi, iqtishadi, maupun fikri. Namun dengan akhwat yang selangkah lebih cepat dari ikhwan ini, tetap tidak mampu menggeser peran ikhwan sebagai imam di depan barisan.
Kembali menyoal tentang kualitas dan gugatan ukhti di atas, maka persoalan ini pun merambat kepada persoalan pilih memilih atau dalam bahasa yang tengah update di kalangan ini adalah nge-tag sasaran tembak. Fenomena ini bukan hal yang tabu lagi di kalangan komunitas tarbiyah ini. Dengan enteng, salah seorang dari mereka berdalih, “ Sekarang kan mihwarnya beda. Tidak ada yang tabu asal tetap syar’i.”
Nah, kalimat sakti ini menjadi senjata pamungkas para ikhwan ketika mereka mulai kasak-kusuk, mulai lirik sana lirik sini, kemudian memilah dan memilih salah satu target dari yang telah diidentifikasi. Sang ustadz kemudian hanya sebagai perantara harapan si binaannya.
Dari pengamatan usil yang saya lakukan, kebanyakan dari target sasaran tembak para ikhwan itu adalah akhwat yang memang secara karakter ansich keakhwatan. Lembut, ayu, penampilan anggun, tidak neko-neko dan berbagai label keakhwatan murni. Itulah yang paling sering menjadi sasaran tembak para ikhwan.
Berbeda dengan akhwat yang struggle, mandiri, memiliki potensi, idealis dan cekatan, maka mereka tidak masuk nominasi. Pernah ada seorang ustadz mengkritik akhwat yang struggle. Beliau mengatakan,”Jadi akhwat jangan terlalu struggle, ikhwan jadi tidak punya nyali untuk melamar.”
Lho, apa yang salah dengan akhwat yang struggle? Mengapa ikhwan itu tidak punya nyali untuk menikahi akhwat yang mandiri dan memiliki potensi? Apakah ada yang salah jika akhwat memiliki potensi yang bermanfaat untuk dirinya dan juga untuk da’wah? Tidak adil jika peran besar para akhwat itu membuat mereka seolah disisihkan dari haknya. Ini memang pengamatan saya di tempat domisili saya saat ini, entah di daerah lain. Namun yang pasti, memang hal ini menjadi semacam gejala yang semakin meluas, meski tidak semua ikhwan lebih memilih akhwat yang ngahwat.
Teringat ucapan bernada kecewa dari ukhti di atas ketika guru ngajinya mengeluarkan ‘fatwa’ bahwa syarat pertama akhwat yang ingin menikah adalah lulus kuliah. Padahal tidak semua yang sudah lulus menikah memiliki kesiapan untuk itu. Sedangkan ukhti tadi, harapan dan realitas yang dihadapinya amat bertabrakan. Beliau kini tengah berjuang untuk kehidupannya yang dirajut dengan kemandirian dan juga berjuang untuk studinya yang tidak kunjung purna.
Tak sadarkah mereka bahwa umur akhwat itu akan terus bertambah? Mengapa harus ada syarat untuk menjadi layak menikah, padalah syarat itu belum mampu dipenuhi sedangkan keinginan yang kemudian berubah menjadi kebutuhan, semakin bergolak. Ah, lagi-lagi saya harus mengakui ini sebagai kesewenang-wenangan terhadap akhwat. Akhwat harus terkesan siap (dan sempurna) lahir batin di mata orang.
Lalu bagaimana dengan ikhwan ? Apa standar mereka dikatakan siap menikah ? Punya penghasilan ? Jika hanya itu, terlalu materialistis pendapat itu. Bagaimana dengan kemampuan memimpinnya sebagai calon qawwam di rumah tangganya kelak? Peran yang mengharuskan mereka memahami bagaimana mendidik anak, menanamkan aqidah ke dalam hati mereka, mengarahkan rumah tangganya menjadi rumah tangga dakwah yang produktif memberi.
Persoalan itu, amat jarang diperrtimbangan oleh kaum ikhwan, karena doktrinnya memang akhwatlah yang harus mampu menselaraskan peran itu. Maka , mungkin inilah mengapa para akhwat yang struggle dan cerdas itu tidak masuk ke dalam nominasi. Karena memang mereka pasti cukup cerdas ‘memegang’ kendali dalam rumah tangganya nanti. Dan oleh karena itu, mereka akan mendapatkan imam yang sekufu, yang mampu bekerja sama membangun rumah tangganya dengan konsep yang visioner. Insya Allah.[]
Keep Fight Akhwati fillah fii aina kuntunna !

Keep Fight Akhwati fillah fii aina kuntunna ! <<< Aajiiiiibb
BalasHapus