Emak, Ceritakan padaku tentang Syurga (Coretan Hati Seorang Anak Jalanan)


Emak, saat suara adzan bersaut kokokan ayam, kau masih berbalut selimut lusuh, masih tersenyum di alam mimpi, menyambung cerita tentang kebahagiaan dibalik matamu yang terpejam.
Tak hanya kokokan ayam yang meramaikan gelapnya pagi, tetapi juga demonstrasi di dalam perutku yang ceking, mereka tidak sabar lagi untuk dibungkam dengan sesuap nasi.
Emak, subuh ini, tidakkah kau ingin merasakan sejuknya air wudhu dan damainya mendekap cinta Tuhan? Aku merasakan kecukupan yang tiada terbatas ketika menadahkan tangan dan memelas di hadapan Nya. Dia tidak mencaci, tidak pula melempar dengan angkuh kepingan receh yang tidak seberapa seperti orang-orang berkaca mata hitam di dalam mobil-mobil mewah di lampu merah sana.
Emak, ayo bangun. Cahaya matahari begitu menghangatkan tubuh dan jiwa kita, tidakkah kau ingin merasakannya, Mak ?
Sebentar lagi, kita harus bersiap mengadu nasib dengan bermacam-macam orang di luar sana. Aku merasa malas untuk keluar. Karena aku malu, sampai saat ini aku masih terpuruk kalah oleh kemiskinan yang menjerat. Aku malu pada anak-anak yang menyeberang jalanan, berlari mengejar angkot dengan seragam merah putihnya serta ransel dipunggung mereka.
Aku malu pada mereka yang menenteng buku-buku tebal penuh ilmu, yang aku tahu harganya pasti tidak mungkin terbeli dengan kepingan recehku yang cukup untuk membeli nasi bungkus.
Aku malu pada mereka yang setiap sore mengenakan seragam TPA nya dan menenteng buku Iqra’ bahkan Alqur’an, mereka membaca alif, ba, ta, tsa…..sedang aku ….? sangat menyedihkan, bacaan shalat pun aku tidak bisa mengejanya.
Emak, ayolah….bangun. Kita harus berlari menjauh dari keterpurukan kita. Kita tidak boleh memelas atas nama kemiskinan. Sudah saatnya kita membuka mata dari buaian mimpi-mimpi panjang yang tak berarti.
Emak, kulihat wajahmu yang tidak lagi segar. Keriput makin jelas menghiasi wajahmu yang terlihat gelap karena terbakar oleh terik. Ku lihat tanganmu pun tak lagi sanggup mengelus lembut kepalaku, karena kau semakin terlihat tua dan lemah, meski aku tak tahu pasti berapa usiamu saat ini.
Emak, tiap kepingan receh yang kita kumpulkan selalu tak bersisa. Gulungan kain untuk aku  sisihkan sekeping demi sekeping receh itu, kini kian kumal dan tak semakin menipis.
Emak, sampai kapan kita bertahan dengan kepingan-kepingan receh itu?
Tak layakkah aku seperti anak-anak berseragam merah putih itu....?
Tak pantaskah kutenteng buku Iqro’ di setiap sore hari....?
Emak...aku tak ingin semakin miskin di atas kemiskinan kita saat ini
Raga kita miskin. Sesuap nasi dipagi hari tak jarang tak pernah mendarat di mulut kita.
Namun, apakah tak ada juga satu huruf yang tak mampu ku eja...?
Emak...tangan ini semakin hari semakin malu menadah
Wajah ini semakin hari semakin terasa tak memiliki senyumnya
Meski bergemerincing receh yang terkumpul, bibirku tak tersenyum olehnya
Emak...aku juga ingin kau sekali saja mengajakku shalat di gubug sederhana kita
Aku ingin sesekali kau mengajariku mengeja huruf demi huruf hijaiyyah
Dan aku pun ingin sebelum kita memejam mata di saat langit semakin gelap
Engkau mencertikan padaku tentang syurga....
Tempat yang kata orang-orang pintar itu sangat indah...
Setidaknya, agar aku membayangkannya dan membawanya di alam mimpiku.

Emak...untuk semua cita-citaku itu
Aku ucapkan, aku sayang Emak....
Semoga Allah juga selalu menyayangi Emak....


Komentar

Postingan Populer