Educated Mother
Ibu : “ Adik, nanti kalau sudah besar ingin jadi apa ?”
Si anak : “ Mau jadi bidan, bu...”
Ibu : (tersenyum) masa jadi bidan lagi...? ibu bidan, teteh juga bidan. Adik nda mau jadi yang lain ? guru gimana ?Jadi bidan tuh cape lho ....
Si anak : Nda mau ah...adik mau jadi bidan kayak ibu dan teteh. Soalnya ibu bidan tuh baik-baik orangnya...
Kira-kira seperti itu, percakapan antara seorang ibu dengan anak gadisnya yang masih berusia kisaran kelas 2 SD, yang saya rekam tadi pagi ketika berada di dalam angkot. Seorang ibu (entah memiliki berapa anak) tadi dengan lembut dan santunnya menjawab pertanyaan demi pertanyaan si anak yang tumpah bak air bah. Di lihat dari perawakan dan wajahnya, nampaknya beliau seorang ibu yang telah memiliki pengalaman lumayan lama mendidik anak. Wajahnya yang cerah dengan jilbab warna pink berpadu dengan corak batiknya, membuatnya terlihat begitu berkharisma.
Ada beberapa hal yang saya tangkap dari si ibu dan anaknya tadi. Betapa ibu memang harus berkualitas. Dengan kualitas yang dimilikinya, maka ia mampu membentuk karakter anaknya dengan kualitas yang paling tidak sama dengan dirinya. Saya sangat terkesima dengan tutur lembutnya, kesabarannya dalam menjawab pertanyaan si anak, dan tentu kecerdasanya ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Seorang ibu yang tidak memiliki keunggulan karakter, ia tidak akan mampu sabar menghadapi keaktifan anaknya. Maka, dengan mudah yang ada adalah justifikasi bahwa anaknya itu bandel, nakal, atau sebutan lain yang pada hakikatnya menciutkan kreatifitas anak.
Si ibu tadi, dalam pandangan saya sepertinya memang bukan ibu biasa. Jika dari pembicaraan yang ditangkap, beliau adalah seorang bidan. Secara otomatis beliau memiliki bekal pendidikan tentang dunia ibu dan anak. Maka pantaslah jika hubungan emosional antara beliau dengan anaknya begitu dekat dan menghangatkan. Layaknya hubungan antara seorang teman, mengalir, tanpa ada sekat yang menjadikan anak tegang atau canggung bertanya lebih banyak.
Dari sini, mudah disimpulkan bahwa latar belakang seseorang (terutama ibu) sangat berpengaruh pada pola asuh yang dilakukannya. Seorang perempuan, yang ia memiliki latar belakang pendidikan rendah, maka cenderung asal-asalan dalam mendidik anaknya. Ciri mudahnya, dapat dilihat ketika di awal kehamilan. Bagaimana ia memperlakukan si jabang bayi. Seorang ibu yang berkualitas, dia akan sangat berhati-hati dengan calon bayi yang dikandungnya. Ia akan menjaga makanan yang dikonsumsinya, mendekatkan dirinya pada kebiasaan-kebiasaan baik yang akan berpengaruh pada calon bayi. Karena pendidikan yang sangat awal dalam pembentukan karakter anak adalah ditentukan pula ketika ia pertama kali ada di alam rahim.
Tengoklah sejarah orang-orang besar seperti Imam Syafi’i, DR. Yusuf Qardhawi, atau doktor cilik Husein yang hafal Alqur’an pada usia 5 tahun. Mereka besar dan tumbuh dari ayunan seorang ibu yang berkualitas. Ibunda Husein yang senantiasa menjaga wudhu’ manakala hendak menyusui Husein, dan juga senantiasa memperdengarkan Husein ayat-ayat Alqur’an dalam ayunannya. Dari sini kita kemudian semakin mengerucutkan kualitas seperti apa yang mampu melahirkan manusia berkarakter.
Karena di era modern saat ini tidak sedikit perempuan-perempuan yang memiliki kualitas yang sama dengan laki-laki. Namun (tidak sedikit pula) mereka salah dalam mewariskan kualitas yang mereka miliki kepada anak-anak mereka. Atau bahkan mereka lalai dalam mendidik anak-anak mereka. Dengan kualitas yang mereka miliki, mereka malah sibuk berkarir sehingga bahkan nyaris tidak memberikan sentuhan pendidikan kepada anak-anak mereka. Walhasil, mereka menjadi generasi yang rapuh, karena lahir dari keluarga yang rapuh.
Ibunda Imam Syafi’i, setidaknya menjadi contoh bagi para calon ibu untuk bagaimana kemudian mereka melahirkan kekuatan karakter kepada anak-anaknya. Imam Syafi’i besar dalam buaian Ibunda yang tiada henti memperdengarkan ayat-ayat Allah. Keunggulan pribadi seorang perempuan yang telah berhasil disematkannya kepada anaknya yang namanya kini masih dikenang. Bahkan fatwanya masih dijadikan rujukan oleh umat muslim di dunia. Ibunda Imam Syafi’i, tangan kanannya dengan lembut mengayun buaian, namun tangan kirinya telah berhasil mengguncang dunia.
Seorang ibu yang cerdas, ia akan mampu menempatkan dirinya dalam perannya sebagai pendidik. Kehangatan emosional yang diberikannya kepada anak manakala berinteraksi akan menumbuhkan kecerdasan kognitif bagi anak. Seperti kisah di awal tulisan ini. Begitu akrab dan komunikatif. Sang anak semakin terangsang untuk mengemukakan pendapatnya meski mungkin terdengar lucu bagi kita. Tetapi itulah yang menjadi proses awal kecerdasan sang anak, tidak hanya secara kognitif, namun juga afektif.
Tidak lama setelah saya menikmati obrolan sang ibu dan anaknya tadi, saya kembali menikmati hal yang serupa dalam angkot yang berbeda dengan sepasang ibu dan anak yang berbeda pula. Entah saya tidak mampu menebak pola pendidikan seperti apa dari seorang ibu yang mengobral auratnya di tempat umum seperti itu. Bahasa seperti yang disampaikan kepada anak-anaknya ketika berkomunikasi dalam keluarga mereka.
Kita tentu sering mendengar pepatah,”Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya,” maka begitulah dua pemandangan tadi saya amati. Dan semoga kita menjadi pohon produktif yang menghasilkan manusia-manusia produktif pula sehingga keberadaannya menjadi solusi untuk manusia lain di dalam jagad eksistensinya.[]

Komentar
Posting Komentar