Tidak Menjadi Siapapun


Senja ini kembali saya menikmati waktunya yang temaram, bahkan sedari kemarin ia redup oleh hujan yang mengguyur. Sesaat tadi, seorang teman bertanya tentang perasaan sejati seorang perempuan yang selama ini selalu ditutupi, karena ia tidak pantas diobral. Tentang sebuah kegelisahan, ia pun menjadi pertanyaan yang harus dijawab dengan logis dan lugas.
Tidak selalu memang, perempuan berjibaku dengan permasalahan perasaannya. Adakalanya ia harus logis menyikapi hidup yang kadang atau bahkan sering menyentak haru dan tangis menghiris. Inilah kekuatan perempuan yang jarang sekali muncul. Setiap kali masalah menderu, perasaan pun bermain dan menguasai, akhirnya kesedihan pun hadir mengisi ruang-ruang waktu yang ada. Pembicaraan ringan dengan seorang teman tadi, pembicaraan seputar perasaan yang coba saya kemas secara logis. Setidaknya dengan seperti itu, perasaan tidak terlalu bermain dan celah untuk menitikkan sedih tertutup. Tidak mudah memang, tapi begitulah hidup harus disikapi.
Selama ini, logika lebih saya kedepankan ketika menghadapi berbagai permasalahan yang menuntut perasaan ini bermain menyelesaikannya Senja ini, bersyukur dapat menikmati kembali wajahnya yang sedari kemarin temaram, bahkan teduh oleh. Ini jauh lebih melelahkan. Senja ini, pun ingin sekali menguraikan sebuah elegi yang membosankan.  Tentang sebuah pengorbanan di atas sebuah makna yang lebih agung dari sekedar aksi kemanusiaan. Pengorbanan yang menuntut perjuangan untuk bertahan di atas segala perih kaki tertusuk ketika melangkah, atau lelah badan karena tenaga yang senantiasa terkuras. Yang tak jarang, akal ini pun bebal oleh segala cerita kemanusiaan yang entah kapan dan bagaimana itu disudahi.
Menempatkan diri pada sebuah panggung, dimana di sana berbagai peran dilakoni, tentu bukanlah mudah untuk kemudian turun dan mengakhirinya. Menjadi bukan diri sendiri, dengan karakter baru yang ditempa di atas panggung cerita, dan dengan alurnya yang stagnan serta klimaks yang kadang tak beraturan, bukanlah pilihan awal menjejak di atas jalan ini.
Namun memang, kadang seseorang bertemu takdirnya pada jalan yang sengaja ia menghindarinya. Tak dipungkiri, inilah jalan yang dulu pernah saya hindari. Ya, dulu saya pernah menghindar untuk tidak mengambil peran, tentunya di hati orang-orang yang tidak pernah dimengerti kemana muaranya. Bermain dengan hati sungguh sangat melelahkan dan memuakkan.
Entah, mungkin karena saya manusia yang tidak terbiasa dengan urusan hati, maka kini ia pun seolah dipaksa untuk merasakan segala rasa hati. Dulu saya tak pernah merasakan cemburu, dan tidak mengerti mengapa banyak orang-orang yang dibakar cemburu sehingga kemudian berakibat fatal bagi dirinya sendiri pun bagi hati lain. Dulu, saya pun tidak pernah merasakan ketertarikan pada hati lain. Kini, ia pun seolah merasakannya karena sesuatu yang awalnya tidak difahami mengapa alurnya seperti ini. Sekali lagi, semuanya adalah jalan yang pernah saya hindari.
Memasuki dimensi waktu orang lain, mengambil peran di sana sebagai orang yang terlanjur menghibahkan diri untuk kebahagiaan mereka, memang indah. Namun, sekali lagi, semuanya bukan cerita dongeng yang penuh dengan manipulasi kata. Segala tergambar dan terancang pasti dan jelas. Likunya tajam, klimaksnya mengundang sejuta haru, dan endingnya seakan hati tertusuk sembilu.
Peran-peran itu, bukanlah peran yang mudah. Selalu ada cut ketika dirasa kurang pas untuk dilanjutkan. Dan pasti itu proses yang sangat melelahkan. Sedangkan cerita itu masih sangat panjang. Nafas yang dibutuhkan masih harus menderu. Langkah kaki masih harus terayun gagah. Kepalan tangan pun tak boleh melemah. Meski entah cerita apalagi yang akan dilakoni.
Nampaknya, mungkin akan tidak begitu melelahkan ketika berganti peran, atau ketika tidak mengambil peran apapun. Hanya sebatas penonton, tidak menjadi siapapun di atas panggung. Tidak perlu ribet dengan skenario yang tidak jelas alurnya. Ia hanya akan menikmati tegang, ketika cerita itu menegangkan. Atau ia hanya akan tertawa, terharu atau bahkan turut menangis ketika cerita menyuguhkan alur seperti itu.
Atau ketika ia hanya sebatas komentator. Tentu lebih seru. Ia bahkan punya hak untuk mengkritik jalannya cerita yang dirasa membosankan. Setidaknya, ia punya ruang untuk tidak setuju dengan skenario yang ada. Berbeda dengan pemain utama, yang selalu harus mengikuti alur yang ada, suka atau tidak suka. Ia tidak peduli, apakah komentarnya atau ketidaksetujuannya didengar atau tidak. Karena setidaknya ia puas dengan mengungkapkan ketidaksetujuannya.
Namun tentu, tidak ada keistimewaan pada seorang penonton atau komentator dari seorang aktor utama. Aktor utama, selalu pada saatnya dia akan mendapat tepukan tangan dari penonton, terlepas dari peran seperti apa yang dia lakoni. Yang pasti manakala ia total dalam perannya, tentu ending yang sempurna pastinya. Inilah apresiasi teristimewa, karena bukan hanya sepasang mata penonton yang menyaksikan dan menilai, namun berpuluh bahkan beribu pasang.
Tidak menjadi siapapun, mungkin adalah sebuah pilihan tepat untuk mundur atau turun dari panggung sandirawa yang selalu menyuguhkan cerita-cerita klise. Namun, di atas sebuah panggung yang tidak hanya penuh sandiwara, tetapi juga penuh dengan segala liku yang uniq, nampaknya bukanlah sebuah pilihan yang tepat untuk menyerahkan peran diri sebagai lakon utama kepada yang lain, sama artinya dengan menutup sejarah kehidupan. Apa artinya hidup jika tak ada sejarah indah yang diukir di atas prasasti waktu?
Tidak menjadi siapapun, sejatinya pun adalah sebuah langkah keputus asaan atas pahitnya jalan, tajamnya liku cerita serta lelahnya jiwa dengan alur cerita yang selalu menitik sakit pada endingnya. Namun, tidak menjadi siapapun adalah pilihan terakhir pada sebuah fase perjuangan, ketika narasi hidup memang telah berakhir. Tidaklah menjadi siapapun, kecuali sebujur jasad kaku berkain putih. Kemudian pertanyaannya yang terakhir adalah, jasad siapakah yang kaku berkain putih itu? Seorang aktor? komentator? pejuang sejati? atau …?. Saya, anda dan kitalah yang akan menjawabnya dengan apa yang kita lakukan saat ini.[]

Komentar

Postingan Populer