Sepenggal Cerita di Penghujung Senja
“Bagi mereka yang mengupayakan cinta, hanya ada iklim hangat dan sejuk. Meski ada goda aurora dan pelangi khatulistiwa. Bagi mereka yang mengupayakan cinta setiap muslim, membagi cinderamata kristal salju, kuntum bunga, pasir pantai, serasa hangat juga payung-payung dan layang-layang. Bagi mereka yang mengupayakan cinta, disetiap cuaca cerah berbagi harapan, awan bersulam rahmat, hujan menyanyi rizqi, badai mengeratkan peluk dan tiba-tiba syurga mengetuk pintu rumah. “ ( Salim A. Fillah )
Senja ini, ia ramai oleh riuh gemiricik hujan yang mengguyur begitu semangatnya. Tak ada bosan menikmati suaranya yang mengundang syahdu. Ia selalu menyuguhkan sebuah semangat yang bukan tanpa makna. Tentang sebuah makna ini, sejatinya tidak mudah dihadirkan dalam ruang sempit, karena ia kini telah dipenghujungnya, dan malam akan mengganti waktunya.
Hujan ini seolah melemparkan alam fikir ini pada sebuah kenangan dulu, kala diri masih menikmati kehangatan sebuah cinta dari sosok yang cintanya tak mungkin terbalas dan tergantikan. Sebuah masa yang begitu dirindu untuk diulang. Disanalah sepenggal cerita tentang bahagia di tengah kesederhanaan, bersyukur di atas kekurangan, berbagi di tengah keterbatasan dan bahu membahu dalam kebersamaan, ditulis dengan begitu indah.
Semua itu begitu kompaknya menyeruak di dalam ruang kesendirian ini. Saat ini, hanya khayalan yang mampu menerbangkan diri ini untuk seolah kembali pada masa itu. Dan tentunya, sebuah kemustahilan untuk menghadirkan itu semua di sini, saat ini. Semua cerita itu, kini hanyalah kenangan yang hanya cukup dikenang. Ia tak mungkin mampu diulang. Namun, semua cerita itu, kini menyimpulkan sebuah bekal yang menguatkan langkah, untuk ia mampu menjejak di atas kesendirian dan kemandirian, tidak hanya untuk saat ini, namun sampai batas waktu nanti.
Hujan dipenghujung senja ini, ia mengingatkan tentang sebuah cinta. Sebuah kata yang maknanya tak mudah untuk dimengerti, pun tak mudah diujarkan. Begitu kaku dan kelu rasanya lisan ini, manakala ia menuntut untuk diucapkan. Cinta, sesulit itukah ia diartikan dan diucapkan ? Teringat sebuah perkataan, apa yang diucapkan adalah cerminan hati. Maka, apakah itu artinya tak ada cinta di dalam hati ini ?
Ah, saya fikir tak sesempit itu pengertiannya. Cinta itu, dulu pernah menjelma dalam sebuah nasihat, teguran, belaian penuh kasih dari mereka yang hatinya penuh oleh cinta tak terbatas dan tak terbalas. Meski tak jarang, itu semua sulit diyakini sebagai bukti cinta. Namun, begitulah adanya. Kadang cinta tak cukup diartikan dengan sikap atau kata. Cinta itu pula pernah menjelma dalam sebuah kebersamaan berjuang di atas kepayahan, keterbatasan, dan kesulitan. Di sana, ada corak terindah dalam sebuah dimensi waktu yang setiap detiknya diukir dengan pena nasihat, saling menguatkan, meski tak jarang pertengkaran kecil pun turut berdesak hadir di sana. Namun, semua itu tak menyesakkan, karena saat ini ingin rasanya mengulang episode itu.
Cinta itu, pun dulu pernah memaksa ada tangis kehilangan. Ya, kehilangan satu cinta untuk selamanya. Ketika ia hilang, maka tidak ada lagi nasihat, teguran, juga harapan tulus seorang pencinta kepada yang dicinta. Satu cinta telah pergi, maka satu kekuatan pun turut pergi. Dan nyata, kepergiaannya meninggalkan perih serta kesendirian dalam menjejaki kehidupan. Karena, cinta itu adalah simbol kebanggaan selama ini. Dialah yang dengan kekuatan cintanya, telah menjadi pilar peneguh rumah peradabannya. Ya, rumah yang dia bangun hanya dengan cintanya. Yang karenanya, lebih baik rumah itu runtuh dari pada cinta itu pergi. Dia lebih berharga dan lebih maha dari bangunan rumah yang dia bangun. Namun, cinta itu memang telah pergi, sejak sepuluh tahun lalu, akan tetapi, hadirnya selalu ada di setiap detik waktu kini.
Satu cinta yang lain. Cinta yang bertahan di atas jejak kesendiriannya. Cinta yang tak membutuhkan lagi cinta yang lain, karena ia adalah cinta yang paling kokoh pondasinya. Bahkan, ia terus kokohkan pondasi itu agar ia mampu menjaga yang ia cintai. Ia tebarkan cintanya kepada setiap yang hadir dalam hidupnya, meski hanya pada seekor belalang yang mampir di depan pintu jendela kamarnya. Di atas jejak kesendiriannya, ia terus mencintai, tanpa ia mencari cinta yang lain. Cintanya sungguh mengagumkan. Tak terbalas oleh ucapan terimakasih, atau emas setinggi Uhud.
Indah. Senja kali ini menuntun lisan untuk mengungkapkan syukur yang sedalam-dalamnya pada dua cinta yang tergantikan. Untuk cinta yang telah pergi, Abah. Cintamu tak terbalas, semoga di sana cintamu terbalas oleh Nya dengan seagung-agung cinta. Yang dengannya, Dia tempatkan kau di istana Nya. Untuk cinta yang bertahan di atas jejak kesendiriannya, Ummi. Cintamu tak tergantikan dan tak terbatas. Di usiamu yang semakin senja, cintamu bahkan semakin mendalam pada semua buah cintamu. Terimakasihku, terlalu kecil dan amat murahan untuk sekedar menyapa cinta yang telah kau beri. Setangkai doa, hanya itu yang mampu ku beri. Karena hanya Dialah sebaik-baik pemberi balasan. Untuk Abah, cinta mu adalah kekuatan kami saat ini. Dan ummi, cinta mu adalah penyemangat kami saat ini dan sampai nanti.
Kawah Panas, 8 Maret 2011
- Yang Merindu Cinta-

aamiin..
BalasHapusmari renungkan hadits shohih ini dek...
“ Sungguh merugi, sungguh merugi, dan sungguh merugi! Yaitu orang yang mendapati kedua orang tuanya sudah renta, atau salah seorang dari mereka, kemudian hal itu tidak dapat memasukkannya ke dalam surga ( karena tidak berbuat baik kepada mereka ).” (HR. Muslim).
so, selagi masih ada yang hidup, janganlah kita seperti yang digambarkan dlm hadits itu (sbg org yg merugi), jadikan beliau sebagai penyebab kita masuk surga. Kesempatan yang tidak boleh kita sia2kan..