Jejak-Jejak Kesendirian


Permulaan malam yang gemerlap oleh cahaya kilat. Indah, meski mendung masih menggantung, dan masih enggan mengguyur. Permulaan malam ini, suasana baru yang kembali menyeruak di ruang kesendirian yang semakin terasa ketidaknyamanannya. Asing. Ya, suasana keterasingan yang entah kenapa ia hadir di waktu yang kini mendekati akhir. Akhir perjuangan saya di sini, tinggal menunggu hari. Dan seolah ia benar-benar akan menjadi waktu akhir. Saya tidak mengerti mengapa pikiran-pikiran semacam ini kerap muncul di waktu-waktu rehat. Apakah karena mungkin usia yang semakin mendekati waktunya, diseperempat abad kini, nampaknya ia begitu kuat menguasai diri.
Ya, tidak terasa. Hampir 25 tahun saya menapaki bumi ini. Waktu yang masih terbilang sangat muda. Masih butuh pematangan. Namun, waktu yang cukup melelahkan dalam mengisi detik demi detiknya. Peristiwa yang hadir silih berganti, mereka mewarnai 25 tahun itu dengan warna-warna yang gradasinya tersusun indah. Bermula ketika saya belum mengenal warna, sampai semua warna saya hafalkan bahkan saya pilih sesuai dengan warna karakter diri.
Tidak ada bosan, ketika pada saat-saat seperti malam ini, gradasi itu kembali dihadirkan. Meski tak jarang ia menyentak haru, namun ia syahdu. Jengah rasanya, ketika gradasi itu hanya sebatas kenangan yang tak dimaknai. Waktu bergulir, narasi baru hadir, mereka pun seolah mendesak ingin turut hadir menyusup disela-sela peristiwa yang membersamai diri. Tentu sangat melelahkan, jika hati harus berulang merasakan dan menikmati sepenggal episode di masa lalu lagi.
Di 25 tahun ini, jejak-jejak kesendirian itu pun kadang indah untuk dikenang, bahkan rindu untuk diulang. Sendiri dalam merasakan perih, bertahan di atas tantangan realita yang tidak adil, lelah disaat permainan hati menjadi narasi setia, bersetia pada janji ketika idealisme dipertaruhkan, semuanya melelahkan, dan saya sadar, di antara cerita-cerita itu, ada satu bagian yang belum saya tamatkan. Sehingga, ia pun hadir menyela disaat perjalanan waktu yang tenang dan damai.
Tuhan memang Maha Bijaksana, Dia mengatur segalanya begitu indah. Dia Maha Adil dalam mendidik diri ini. Berjuang di atas kesendirian memang tidak mudah. Namun, Dia telah menyiapkan diri ini untuk menghadapi itu semua. Dia mengajari diri ini tentang sabar, tentang bagaimana tenang dan bijak, tentang bagaimana bersyukur dikala sedih dan bahagia, tentang kemandirian, tentang segala hal yang Dia ajarkan melalui peristiwa yang tersuguhkan dari waktu ke waktu semakin berat.
Berada di 25 tahun kaki ini menjejak, sudah saatnyalah titik perubahan itu digagas. Perubahan yang berulang kali hanyut ditelan oleh keraguan, keterbatasan dan segala kelemahan yang memuakkan. Berjuang melawan keakuan tak semudah menebas batang kekar pohon. 25 tahun kini, saya semakin sulit memahami siapa dan akan kemana diri ini. Di 25 tahun ini, di atas jejak-jejak kesendirian, saya harus membangun kembali pondasi yang telah lama saya hancurkan sendiri dengan tangan rapuh ini.
Satu bekal, sejatinya telah hampir sepuluh tahun yang lalu saya miliki. Kini, rasanya ia pun hampir terkikis oleh waktu yang semakin ganas menyuguhkan cerita. Tentu saya tak rela bekal itu hilang percuma. Ia adalah bekalan kekal yang sejatinya tak akan mampu tergilas oleh kelemahan. Ia adalah idealisme sejati, yang dibangun sepuluh tahun lalu dengan lelah dalam perjuangan dan pengorbanan menjadi satu. Hanya karenanya dan untuknya, di 25 tahun ini, saya mantapkan langkah.
Ya, bekal itu satu-satunya yang saya miliki. Yang menjadi teman perjalanan selama ini. Saya tidak peduli, berapa lama lagi akan menjejak dalam kesendirian. Selama dan sepanjang jalan ini bekal itu tidak “hilang”, saya sanggup untuk terus berjalan meski dalam kesendirian.
Kekuatan sebuah ikatan yang selama ini disebut-sebut sebagai ikatan kokoh yang menyatukan hati-hati yang terserak dalam satu bingkai perjuangan bersama, kini, entah apa maksudnya, saya tak begitu merasakan dan menikmati. Ia bahkan begitu hambar. Seolah ia hanya kamuflase, yang hanya tercetus dari lisan-lisan penyeru persaudaraan. Akhirnya, saya dapati kesendirian itu pula dalam sebuah kebersamaan.
Sebenarnya, tak ada yang perlu saya risaukan dengan kesendirian ini. Toh, sejak beberapa waktu jauh kebelakang, sendiri telah menjadi narasi setia. Di tengah bahagia para anak-anak kecil yang lugu bercanda dengan orang tuanya, bermain dengan teman-temannya, berkejaran kesana kemari, memanjat pohon jambu dan bercerita tentang banyak hal yang mengundang tawa, sampai pertengkaran kecil yang menyibak tangis dan selang tak lama keakraban kembali hadir. Semuanya indah, namun semuanya menyuguhkan suasana hening seperti dalam kesendirian. Singkatnya, selalu ada rasa sepi di saat ramai, sendiri di tengah-tengah kebersamaan.
Tak pelak, saat ini pun suasana yang pernah hadir di masa lalu itu, kuat menemani waktu saya yang semakin menuju kematangannya. Di saat diri semakin haus akan pembelajaran, kesendirian itu seolah menjadi keharusan untuk diterjemahkan dalam ruang-ruang yang sebenarnya ramai.  Karakter yang mengakar sejak 25 tahun lalu, kini ia benar-benar semakin menuntut untuk selalu berada dalam kesendirian.
Entah kenapa, meski memuakkan, saya begitu menikmatinya. Mungkin karena diri ini terlanjur menjadikannya cerita rutin yang disetting ketika subuh dan senja menjelang. Kedua waktu itu, waktu wajib yang tidak boleh ada cerita lain, selain menikmati kesendirian di bawah lembayung senja atau di tengah sejuknya udara subuh. Keduanya senantiasa rindu hadir, ketika penat dan jengah menyelimuti.
Satu kesimpulan di permulaan malam ini, sekali lagi saya sanggup untuk menjejak dalam kesendirian selama bekal itu tak hilang. Dan bersama kesendirian, titik-titik perubahan itu harus senantiasa di gagas dan suatu waktu ia harus menjadi narasi indah yang akan mengharumkan episode terakhir nanti, ketika diri ini berpulang.

Bismillah.[]

                                                                                 Kawah Panas, 19 Februari 2011



Komentar

Postingan Populer