Sandal Belel dan Tangis Bocah Jalanan


Pagi itu, saya hendak berangkat beraktivitas seperti biasanya. Tujuan awal pagi itu adalah menyelesaikan urusan pasca sidang skripsi. Dengan semangat titel baru yang tak sadar telah menempel, non mahasiswa, saya pun menyiapkan berkas-berkas yang harus saya bawa dengan tas ransel yang setia menempel di punggung. Pagi itu sangat cerah, tak ada mendung menggantung. Saya niatkan pagi itu untuk jalan kaki menuju kampus, hitung-hitung olahraga yang hampir tidak pernah lagi saya jalankan pada setiap ahadnya.
Ketika saya membuka pintu dan hendak memakai sandal gunung, saya terheran-heran, tiba-tiba barang itu tidak ada. Saya merasa tidak memindahkannya sejak sore sebelumnya saya pakai. Rak sepatu saya telusuri tingkat demi tingkatnya. Tidak ada. Garasi, dapur, kolong meja, semuanya tidak ada. Kemungkinan satu-satunya yang muncul, sandal itu hilang alias dicuri. Kali kedua saya kehilangan sandal. Yang pertama, tak lebih dari sepuluh hari, sudah diambil orang. Yang kedua ini, tepat satu tahun kebersamaannya dengan saya.
Saya tidak mempermasalahkan tentang kehilangannya. Namun bagi saya, yang tidak hobi mengoleksi sandal atau sepatu atau apapun, tentu cukup bingung jika barang satu-satunya yang bisa dibilang penting, hilang. Ya, sandal itu adalah satu-satunya sandal yang saya miliki. Pagi itu terpaksa saya meminjam sandal yang lain untuk pergi ke kampus. Apalagi penghasilan yang masih hanya cukup memenuhi keperluan primer dan mengisi kotak tabungan, tentu harus befikir berkali-kali untuk mengganti barang yang sama.
Satu kata yang sempat terlontar saat pagi itu adalah miris. Separah inikah kondisi bangsa di negeri yang kaya ini ? sampai-sampai sandal belel tak luput dari intaian. Yah, untuk menenangkan diri, saya mencoba berfikir positif, mungkin orang yang mengambil sandal itu sangat membutuhkan. Tak ada yang bisa memenuhi kebutuhannya, mengambil yang bukan haknya pun menjadi pilihan. Mudah, murah, dan cepat.
Indonesia, tak miskin-miskin betul sebenarnya. Inflasinya tak lebih parah dari Brazil. Namun, tingkat kriminalitas yang begitu meresahkan dan merugikan, tak kunjung reda, bahkan makin bertambah kian hari. Deretan penadah tangan di lampu merah pun makin banyak. Orang-orang usil yang terkesan kreatif makin menghiasi wajah kota yang penduduknya tak lebih dari 500 ribu jiwa.
Pagi setelahnya, alhamdulillah ada rezeki untuk membeli sandal, meski tak sama seperti yang hilang. Dipojok rumah makan, ketika saya memarkir sepeda motor, terdengar tangis pilu seorang bocah yang digendong ibunya. Entah apa sebab anak itu menangis begitu keras. Nampak si ibu tenang tak mempedulikan tangis anaknya yang makin mengeras. Pun orang-orang yang lalu lalang di depan mereka. Baju lusuh dan badan yang tak terurus, terpaku memandangi orang-orang yang tengah bersantap makan siang di dalam rumah makan yang cukup punya nama di kota itu.
Tahulah saya apa yang dirasakan si ibu dan anaknya. Si ibu yang hanya terdiam, dengan memasang wajah lusuh berharap lemparan receh atau sebungkus nasi pengganjal perut, pembungkam tangis anaknya. Entah dimana keberadaan orang yang paling bertanggung jawab atas nasib mereka, suami juga ayah. Dunia ini memang sudah tidak semakin jelas warnanya. Aturan yang dipakai sudah bukan lagi aturan manusia, melainkan aturan binatang yang tak punya naluri.
Bertahan di jalan yang benar memang tidak mudah. Karena ia adalah idealita yang selalu atau tak jarang tak sejalan dengan realita. Dan naluri manusiawi yang merupakan rahmat itu pun kini semakin mengundang laknat. Dia dengan begitu mudah digadaikan demi segenggam rupiah, selembar ijazah, atau sederet titel tak berarti. Masa depan menjadi semakin tertutup jalannya. Seolah ia hanya dapat dibuka ketika naluri yang bersih itu dijauhkan dari rambu-rambu perjalanan.
Namun tak sedikit pula mereka yang tetap berada di atas koridor fitrahnya. Obrolan ringan dan singkat antara saya dengan ibu penjual jamu gendong di angkot kemarin sore, membuat saya takjub dengan perjuangannya yang tak kenal lelah dan malu dengan memanggul jamu gendong demi menjaga kehormatan diri serta menghidupi anak-anaknya. Saya memang tak begitu mengenal ibu penjual jamu gendong itu. Hanya saja kami sering berpapasan di jalan dan saling sapa, itulah yang membuat saya merasa tak ada jarak dengannya. Pun suaminya, mamang penjual bakso di depan kampus, yang baru pertama saya mencicipi baksonya beberapa hari yang lalu. Padahal beliau telah saya kenal hampir lima tahun.
Sepasang manusia yang begitu membuatku takjub dengan kegigihan dan kesahajaannya. Entah, apakah saya sanggup jika saya yang ada pada posisi mereka. Andai manusia-manusia pemalas dan pesimis di luar sana mau berfikir dan berusaha sekecil apapun semampu mereka, wah …. luar biasa. Bangsa ini akan semakin mudah untuk bangkit dari bencana kemiskinan.
Dari mereka semua yang hidupnya penuh perjuangan yang memenatkan dan alot, saya ucapkan terimakasih karena telah membuka mata dan hati saya untuk lebih menghargai hidup. Dalam setiap tetesan keringat atas sebuah perjuangan ada kebanggaan yang tidak dapat ditukar dengan apapun yang mahal dan berharga di dunia ini, karena sejatinya itulah yang termahal dan paling berharga dalam hidup. []






Komentar

Postingan Populer