Pondasi Itu Memang Harus Kokoh


Senja ini tak seperti biasanya lelah yang menyergap disisipi oleh bosan. Alam fikir yang terasa buntu dan penat oleh berbagai persoalan yang menyeruak di setiap fenomena kehidupan yang menjadi slide mengisi pergantian waktu. Fenomena yang tidak ada ubahnya dari waktu ke waktu, saat ini semakin terasa muaknya ketika ia tak lagi menjadi sebuah keprihatinan untuk dirubah.
Perjalanan waktu yang kini mengantarkan saya pada sebuah cita-cita yang sejatinya ucapan ringan ibu beberapa waktu yang amat lalu. Ya, kini saya berada di tengah jalan yang menyediakan pilihan untuk bertahan atau berhenti, karena sekali lagi, sejatinya ini adalah jalan pilihan ibu. Namun, saya telusuri, jalan ini penuh keindahan, tantangan, kejutan, dan tentu pembelajaran yang amat mahal. Entah, jika dulu saya bersikeras mengejar ego diri, mungkin tak akan seperti ini slide kehidupan yang saya nikmati.
Mulanya memang menyebalkan, tapi inilah tabi’at jalan pilihan ibu yang sejatinya jalan pilihan Tuhan. Gagasan-gagasan yang tak pernah terfikirkan sebelumnya, kini mereka menjadi jejalan “makanan” yang harus saya olah di dalam otak, saya fahami komposisinya dan tentu mempelajari bagaimana membuatnya. Inilah yang kemudian menjadi semacam candu yang begitu terus memaksa saya untuk tidak terlewat satu detik untuk tidak memikirkannya.
Penat, lelah dan entahlah…gagasan-gagasan itu memunculkan semacam ambisi yang membuat saya kadang bersemangat, kadang melemahkan. Ia menyemangati ketika ruh dalam diri ini bangkit serempak bersama kepekaan yang tinggi. Namun, ia pun segera melemah ketika putus asa dan keterbatasan menguasai. Seketika, fikirku kosong oleh ambisi, yang kemudian arah jalanku pun tidak sesuai komando awal.
Senja ini saya bersyukur, karena saat ini jalan peneguhan yang selama ini sulit ditegakkan, saya dapati. Di tengah cita-cita yang tanpa sadar saya tempuh, semakin jauh saya menapakinya, semakin saya sadar bahwa inilah terjemahan dari mimpi-mimpi yang selama begitu sesak memenuhi ruang fikir. Sudut-sudut perjalanan yang semakin jelas menggambarkan, betapa mimpi ini tidak semudah ditafsirkan, tidak semudah dijalankan, dan tidak mudah dimengerti lika-liku perjuangannya.
Berjuang, berfikir, dan merasa di atas jalan ini, menghadirkan semacam tanggung jawab besar yang amat berdosa jika ia dilalaikan. Tanggung jawab sebagai seorang guru peradaban, ia teramat mahal dan bahkan tak akan bisa dihargai, dengan selembar dua lembar rupiah. Dedikasi yang selama ini diartikan sebagai panggung mengais rizki, substansi dan tujuan yang besar pun tersingkirkan olehnya. Rahim pendidikan yang kini telah menjadi madul, ia tak lagi melahirkan manusia pendidikan yang berkualitas. Ia, kini tak lebih sebagai tempat penyemaian benih manusia-manusia rapuh yang merapuhkan peradaban.
Pendidikan, sejatinya ia adalah kerja keras lagi musti disertai kesungguhan, bukan sekedar menggugurkan tugas. Ia pula bukan sebuah ujian yang dinilai dengan angka-angka penuh manipulasi, yang kemudian menjadikan negeri ini negeri manipulasi. Ia bukan pula sistem kaku yang mewajibkan berbagai hal yang sejatinya bukan kebutuhan.
Menjadi seorang guru peradaban, secara langsung menyaksikan ironi wajah bangsa yang telah merdeka 62 tahun lalu. Model manusia pembelajar yang mereka juga pembelajar narkoba, pornografi, seks bebas, tawuran, dan segala pembelajaran baru yang tidak mereka pelajari di dalam ruang belajar mereka. Semuanya, seolah telah menjadi corak baru bangsa ini. Disetiap sudut negeri ini, corak itu ada.
Ketidakpercayaan saya dulu tentang sebuah kengerian gambar pergaulan pelajar dewasa ini, kini saya tidak berhenti geleng-geleng kepala setiap kali berdiskusi dengan beberapa guru yang terjun langsung menangani fenomena itu. Sesak dada ini, ketika sebuah fakta dipaparkan tentang jumlah pengidap HIV Aids di salah satu pelosok kota ini mencapai 16 kasus, 9 meninggal. Dan semuanya adalah pelajar SMP dan SMA, yang sebagian besarnya adalah pelajar putri.
Potret buram pemuda kebanggaan bangsa. Namun, sejatinya mereka adalah korban dari pada ketimpangan sosial yang pada hakikatnya berangkat dari dalam rumah mereka sendiri. Barbara Bush, bahkan pernah mengatakan,” Masa depan warga Amerika bukanlah tergantung pada apa yang terjadi di dalam Gedung Putih, melainkan apa yang terjadi di dalam rumah masing-masing.” Tidak salah, bahkan sangat benar, terlepas siapa yang berbicara. Karena sebuah prinsip hakiki, ia akan tetap diakui meski berbagai penyimpangannya semakin merebak, mencabik-cabik kebenaran.
Ya, pondasi itu memang harus kokoh. Rumah, sebagai pondasi peradaban yang kini semakin mengikis urgensinya. Peran besar orangtua sebagai pendidik generasinya, sebagian besar telah termaklumkan oleh tugas menafkahi. Seolah, pondasi itu akan kokoh manakala income yang masuk rekening mereka semakin besar. Jadilah mereka dijajah oleh kerja demi mengais rupiah. Generasi mereka kehilangan pegangan yang seharusnya meneguhkan mereka.
Maraknya pergaulan bebas, kenakalan remaja, narkoba, serta berbagai fenomena penyimpangan remaja yang masih banyak, bukanlah karena mereka melakukan itu semua tanpa sebuah sebab yang mendasari. Faktor terbanyak dari penyebab bencana itu adalah perhatian dari orang tua. Tidak lebih mereka berperilaku seperti itu adalah untuk mencari dan mendapatkan perhatian dari orang-orang disekelilingnya, terutama orang tua.
Solusi paling tepat dan benar dari semua fenomena remaja saat ini adalah dengan memperbaiki sistem pendidikan di dalam keluarga. Keakraban hubungan antara orang tua dan anak-anaknya, inilah yang akan semakin membuka ruang komunikasi yang semakin luas antara keduanya. Sehingga tidak akan terjadi sebuah cerita seorang anak membuka ceritanya diluar yang kemudian melahirkan bencana yang membuatnya fatal dalam penyelesaiannya.
Sebagai institusi pertama dan utama dalam pembangunan generasi peradaban, sejatinya mari kita bangun ia dengan sebaik-baik pondasi yang tidak akan mampu dirobohkan oleh infasi ideologi yang senantiasa terbukti berhasil merontokkan generasi muda kita. Mulai dari saat ini dengan bekal yang kita miliki.[]

Komentar

Postingan Populer