Mendulang Mimpi di Tengah Redup Cahaya Senja
Senja ini, waktu baru yang menyuguhkan cerita baru. Kali kedua, ku jumpai wajahnya redup. Mungkin karena pancaroba yang kian tarik menarik, wajah alam disetiap awal senja pun turut tak menentu. Senja berganti senja yang lain, serasa ada yang tak biasa ketika ia mulai mengetuk waktunya untuk hadir. Nuansa yang belum pernah kurasakan sebelumnya, akhir-akhir ini ia begitu kuat hadir di ruang-ruang senjaku yang seharusnya damai dan tenang.
Senja ini, ketidak biasaan itu agaknya perlu diurai ujungnya. Tidak betah rasanya hati ini berlama-lama dengan sebuah keganjalan. Keganjalan itu bermula ketika langkah ini (ku rasa) mulai mendekati garis akhirnya. Entah apa maksud fikiranku itu. Yang pasti, keadaan ini menuntutku untuk melakukan sesuatu yang baru dan besar. Ya, pada hakikatnya aku pun menginginkan sesuatu yang baru dan besar itu. Namun aku tak berani, atau lebih tepatnya tak punya kekuatan untuk memunculkannya menjadi sebuah cita-cita yang harus dipajang di depan langkahku. Mungkin karena terlalu lama aku menguburnya, ia pun kini seolah semakin enggan untuk kembali ke permukaan, menjadi simbol semangatku seperti dulu.
Sesaat tadi, seorang teman bertanya, “ Apa mimpimu setelah kau selesaikan tugas besarmu selama lima tahun?”. Aku pun tertegun. Bukan tak punya mimpi, tapi aku tak tahu mimpi yang mana yang harus kusebutkan. Aku terlalu banyak bermimpi, namun tak satupun berani kuwujudkan. Sejatinya, mimpi itu perlahan disiapkan benihnya, agar kelak ia dapat dipanen. Namun aku lalai menanam benih itu. Aku lalai menata langkah menuju cita-citaku. Dan kini, ketika ku coba untuk memulainya, aku sudah tak punya cukup kekuatan. Ia habis oleh pekerjaan-pekerjaan yang tak pernah ku jadwal dalam hidupku. Akibatnya, perasaanku menjadi dingin. Aku tak cukup bergairah menghadapi waktuku esok. Bosan, jenuh dan segala perasaan yang memuakan kini menahan langkah dan memburamkan ruang berfikirku.
Senja ini, di tengah redupnya cahayanya, disisa tenaga yang ada, aku harus memaksa menghadirkan cita-citaku menjadi bingkai langkahku. Ya, setidaknya, aku harus berani menyerukannya kepada orang-orang di luar sana. Meski aku sadar, tak mudah menjadi orang yang berani, dengan segala keakuan yang ada. Aku tak cukup berani mengambil resiko. Meski kadang, aku pun tak pernah berfikir panjang untuk nekad melakukan sesuatu yang beresiko tak sepele.
Ah, itu aku yang dulu. Kini, aku harus menjadi diri yang baru. Nekad bukanlah sebuah keberanian, melainkan sebuah kebodohan. Aku harus berani menata langkahku dengan segala konsekuensi mahal yang tentunya harus kufikirkan pula. Esok, tugas besarku setelah lima tahun di sini, ku sudahi. Setidaknya, satu beban di pundakku terkurangi, nafasku tak akan terlalu terengah-engah. Dan setelah itu, jalan menuju mimpi-mimpiku harus ku tata dan ku siapkan segala perbekalannya.
Mendulang mimpi di penghujung senja ini, sejatinya memang harus dipaksakan. Kejenuhan menjadi manusia yang melakonkan peran lama dengan alur cerita yang stagnan dan membosankan, apalagi dengan klimaks yang selalu tidak sesuai dengan karakter lakon utama, pun tentu sangat memuakkan. Ya, harus ada cerita baru yang disuguhkan. Alur yang lebih berharmoni, klimaks yang tak terlalu berlebihan dan tentunya ending yang indah, yang tak sama dengan cerita-cerita sebelumnya.
Senja ini, bersama cahaya redupnya, cerita baru itu mulai ku susun. Meski tak mudah dan kadang buntu, tak boleh ada lagi kata bosan dan jenuh. Kadang perasaanku harus ku buang jauh-jauh agar alur yang melankolis tak terlalu mendominasi. Keberanian yang selama ini terpasung, perlahan harus kumunculkan. Langkahku harus lebih ku tata. Rencana-rencanaku harus lebih kumatangkan.
Senja ini, sempat aku berfikir untuk memulai kerja baru di dalam dunia yang baru. Rasanya, lima tahun lebih aku di sini, perlu ada semacam wajah baru yang menyemangati langkahku. Sempat aku berfikir untuk menuju tempat lain yang pernah menjadi obsesiku. Namun, nampaknya konyol untuk merancang kehidupan di sana. Tak ada bekal yang cukup, pengalaman yang matang, dan kolega yang siap berbagi.
Senja ini, aku berfikir sesuatu yang besar. Sesuatu yang nampaknya tidak mudah untuk dilakukan. Pemikiranku pun semakin rumit, ketika kudengarkan cerita orang-orang tentang satu dari berjuta episode yang mewarnai hidup mereka. Sanggupkah aku pun melewati itu semua ?
Di dalam ruang kontemplasiku, ada setitik syukur dari berjuta nikmat yang tak sanggup aku sebutkan. Ia adalah tentang sebuah keteguhan yang semakin, pendewasaan yang senantiasa bersama pembelajarannya serta kemandirian yang tak jeda memberikan semangat untuk terus berdikari di atas segala keterbatasan. Semuanya adalah narasi terindah yang tidak akan lapuk ditelan waktu. Jika suatu saat langkahku harus ku ayun menjauh dari medan kali ini, semuanya akan terekam indah dan akan menjadi kenangan teragung dalam sejarahku. Semuanya, yang pernah ku dapatkan disini. []

Komentar
Posting Komentar