Terima kasih



"Apalah arti memiliki, ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami? Apalah arti kehilangan, ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan, dan sebaliknya, kehilangan banyak saat menemukan?"
_Tere liye_


Sangat cepat. Begitulah pertemuan kita. Begitu tiba-tiba. Begitu tak pernah terpikirkan, pun tak pernah singgah dalam sebuah harapan. Dan waktu begitu baik memberikan ribuan detik demi detiknya terisi oleh kisah tentang kita. Meski bukan kisah yang panjang. Hanya kisah 125 hari.

Namun, kuucapkan banyak terimakasih padamu. Paling tidak kau telah membuat cerita hidupku tidak selalu datar. Kau pernah mengantarkanku pada sebuah anti klimaks disepenggal episodenya. Sungguh cerita pendek ini seperti mimpi yang akhirnya memaksaku terjaga. 

Terimakasih, setidaknya kau adalah salah satu bukti bahwa jalan ini tak selamanya buntu. Setidaknya aku sadar, (dengan semangatmu) harapan itu tak selamanya kelabu. Karena kau pernah memberinya warna lain. Warna yang (pernah) indah. 

Terimakasih, karena kau pernah menghadirkanku dalam do'a-do'amu. Namaku, pernah kau ucap lirih di hadapan Sang Maha. Pun aku, namamu pernah menjadi bagian terpenting dalam do'aku. Dalam linang air mata, di hadapan Sang Maha Kuasa, do'a-do'aku menguat, mengharap namamulah yang niscaya dalam takdirku. Terimakasih, setidaknya do'a-do'a kita pernah melangit bersama. 

Terimakasih, karena pernah memperjuangkanku. Kau satu-satunya yang pernah hadir, mengisi harapan meski belum sempat genap. Terimakasih atas kesediaanmu menerima segala lebih dan kurangku. Terimakasih pernah singgah di kotaku. Kotaku yang pernah "sunyi" seketika pernah mengharu biru karena kedatanganmu. 

Terimakasih, karena telah memperjuangkanku hingga akhir. Meski bukan akhir yang kita inginkan diujung ikhtiyar kita. Namun semoga ini adalah awal dari segala kebaikan. 

Terimakasih, karena bahkan dengan melepasmu aku tetap tersenyum. Meski entah apa artinya dan entah seberapa pahit senyuman itu. Melepasmu dengan ikhlas sebagai pilihan, telah mengantarkanku pada kenikmatan munajat di hadapan Sang Maha. 

Terimakasih, karena kau telah membantuku menjaga rasa ini untuk tetap pada pijakannya. Tak peduli seberapa kuat rasa itu, kau telah membantunya tetap tunduk di hadapan titah Nya. Terimakasih atas sikap hormatmu dan tutur katamu yang tak membuatku merasa menjadi manusia setengah bidadari. 

Terimakasih untuk yang terakhir kali. Kesempatan mengenalmu adalah sebuah kebaikan. Aku tak akan menangis karena sesuatu telah berakhir. Aku akan tersenyum karena kisah kita pernah terjadi disepenggal  kehidupan ini. 

Meski mimpi-mimpi kita yang bertaut, harapan dan masa depan, juga mungkin cinta, telah berlalu. Aku tak akan menyesali pertemuan yang lagi-lagi usai dalam perpisahan tanpa suara. Aku akan tetap tersenyum, seperti kau yang selalu menyalakan cahaya harapan. 

Bersama hujan mengguyur, 

   
     _Terima kasih_

Komentar

Postingan Populer