Manusia di Persimpangan
Wajah itu tertunduk. Ia terlihat kuyu. Tatapnya sayu. Tak ada senyum terkulum di wajah itu. Yang ada hanyalah kebisuan yang membeku. Ya, wajah itu bahkan dingin. Namun, terlihat retak-retak kesedihan yang seolah ingin diteriakan dalam kristal bening di matanya. Tak lama, dalam hening ia tergugu dalam tangisnya. Wajah itu kian menunduk. Menyembunyikan tangisnya, menyembunyikan pedihnya.
Dia, manusia yang tak pernah mengerti mengapa air matanya harus kembali menderas dalam hening. Dia tak pernah mampu memahami, mengapa kesunyian teramat menyakitkan. Parahnya, rasa sakit itu semakin dalam dari waktu ke waktu. Dia tak pernah kuasa, saat sunyi itu kembali mencekik nafasnya, memaksanya menyerah dan menutup semua mimpi-mimpinya.
Ya, mimpi-mimpi yamg (ternyata) mengantarkannya pada keterasingan. Dia, manusia asing bagi dirinya sendiri, bagi orang-orang terdekatnya pun bagi masa depannya. Dia bahkan tak pernah mengerti, apakah ada yang keliru dengan mimpi-mimpinya. Mengapa semua jalan seolah tertutup untuknya.
Di tengah belantara mimpi-mimpinya, dia memilih pergi. Tak ada gunanya dia meniti jalan menuju mimpinya. Dulu, sejak dia mengenal tentang masa depan, tak ada yang membuatnya semangat dipagi hari selain masa depan yang dipenuhi mimpi yang niscaya. Kini, dia hanya mampu tertunduk semakin dalam dihadapan rancangan masa depannya. Pilu sekali.
Dia, kini berada di persimpangan. Benarkah jalan masa depan yang dia pilih. Benarkah dia dengan mimpi-mimpinya. Berhenti atau terus melangkah. Dia lelah. Dia sendiri. Tak ada pundak yang tulus untuk bersandar. Tak ada tangan yang menggenggam lembut dan menguatkan bahwa, "semuanya akan baik-baik saja."
Dia, manusia rapuh yang membohongi banyak orang dengan senyumnya. Tak ada yang benar-benar tahu seberapa tulus senyuman itu. Bahkan dirinya. Dia tak pernah mengerti apa artinya dia tersenyum pada semua orang. Padahal dia tahu, itu tidak serta merta menguatkan yang telah rapuh dan retak dalam jiwanya.
Di persimpangan jalan yang dia pilih, dia semakin tak mampu memahami dirinya. Rumit sekali hidupnya. Pelik sekali jalan yang dihadapinya. Yang menyedihkan, dia baru menyadari bahwa dia kini benar-benar sendiri. Kebekuan yang menyelimuti hatinya, telah mengubahnya menjadi manusia yang bahkan tak mampu menatap dirinya sendiri. Cukup dia yang mengasihani dirinya, tak perlu orang lain.
Dia, kini manusia yang jerih melangkah. Tak tahu jalan mana yang harus dituju. Tak tahu, tangan siapa yang harus direngkuh. Tak tahu wajah siapa yang harus ditatap, agar semangatnya kembali menyusup dalam jiwanya.
Dia, manusia yang kini memilih terpekur sendiri di sudut ruang sempit kehidupannya. Membungkus rapih semua kepedihan dengan doa-doanya di tengah malam. Memeluk semua rasa sakit dan kecewa dengan kesabaran yang juga meminta untuk dikuatkan. Mencabut semua rasa yang kembali melawan dan menengkari dirinya.
Dan, dia kini lelah. Lelah menghadapi dirinya sendiri. Lelah dengan segala usaha yang telah diupayakan agar harapan tak kembali padam. Dia, manusia yang terpekur sendiri itu, kini tak punya kekuatan menadah mimpi, meraup semangat yang telah menguap. Dia pasrah.
Dia tak lagi memilih jalan kemana harus melangkah. Di persimpangan kehidupannya, dia berdiri menekuri diri yang terlewat payah. Dia kini tak lebih dari seorang pecundang yang lari meninggalkan mimpi-mimpinya. Lalu menertawakan kekalahan diri di tengah sunyinya ruang kehidupannya. Manusia lemah itu kini pergi. Menghilang di antara belantara mimpi-mimpinya.
Manusia lemah itu adalah, aku.
_Saat hujan perlahan mengguyur_
Komentar
Posting Komentar