Seraut Wajah
"Adakah yang lebih sesak, dari rasa yang tertolak padahal belum pernah mengungkapkannya ? Dan adakah yang lebih nyeri dari kehilangam padahal belum sempat memilikinya?"
Hujan kembali mengguyur. Kembali membasahi bumi, menyuguhkan harum tanah yang mendamaikan. Kembali mendendangkan lagu alam dalam rintiknya. Sebuah lagu yang mampu kembali membuka ingatan akan sebuah kenangan. Indah alunan rintiknya mengajak bibir ini bertutur lirih, berbisik dalam do'a. Berharap pintu lamgit terbuka karenanya.
Duhai alunan hujan ini selalu mampu membuatku takjub. Tetiba terlintas seraut wajah sederhana, yang pernah singgah sejenak di pelataran waktuku. Wajah yang tak berani kutatap lamat-lamat saat wajah itu tepat dihadapanku. Seraut wajah yang menghadirkan tenang dan menghadiahkan senyuman.
Seraut wajah itu harus kusimpan di sudut ruang terjauh di hatiku. Yang karenanya, wajah itu tak mampu kuingat guratannya saat mata terpejam. Wajah itu telah samar. Hanya goresan tipis yang mampu terbayang saat semua kenangan tentangnya mencoba dihadirkan.
Oh Tuhan, maafkan kebodohanku. Sejatinya hati ini Kaulah pemiliknya. Kau tahu betul, hati ini begitu rapuh. Karena seraut wajah itu, aku tak kuasa menahan perihnya ikhlas, saat tersadar bahwa takdirku kini bukanlah lagi tentangnya. Namun tentang kesendirian dalam rindu yang tak berbalas.
Pada seraut wajah itu, ketahuilah melepasmu bukanlah pilihanku, namun telah ditetapkan pada sebuah takdir. Menjadi tegar bukan pula pilihanku, namun kujadikan jalan keluar yang terbaik. Karena sejatinya adakah yang lebih sesak, dari sebuah rasa yang tertolak padahal belum pernah mengungkapkannya? Dan adakah yang lebih nyeri dari kehilangan padahal belum sempat memilikinya ?
Seraut wajah sederhana itu, akan tetap menjadi bagian dalam serpihan kenangan, meski waktu perlahan menggerusnya. Karena wajah itu satu-satunya yang memancarkan cinta dan harapan, meski mata tak pernah saling memandang, namun ia menatap jalan yang sama dengan jalan yang kutuju.
-------
Dalam suasana syahdu ini, hadir satu lagi seraut wajah yang dipenuhi kelembutan. Wajah yang menyuguhkan cinta dengan caranya yang tak mampu aku pahami. Namun, seraut wajah lembut itu, pernah dan akan selalu mengajarkanku tentang pengorbanan tulus yang tak meminta berbalas.
Seraut wajah itu, mampu mendesak bening di mataku menderas saat mengingatnya. Bukan tanpa alasan, banyak kenangan tak terlukiskan saat seraut wajah itu membayang dipelupuk mata. Meski bayangannya telah menjebakku pada sebuah urusan cinta yang rumit.
Pada seraut wajah itu, aku hanya mampu menunduk saat menatapnya. Tak kuasaku membalas lembut sinar matanya. Tak sanggup aku membaca guratan kepedihan yang tersisa di wajahnya. Tak mampu aku begitu tega, saat wajah itu kembali tertampar oleh perihnya takdir tentang mereka yang dikasihinya.
Duhai, seraut wajah lembut itu telah membuatku tak berhenti menderaskan air mata saat mengingatnya. Namun lisan hanya mampu membisu saat menatapnya. Ada apa denganku ? Cinta macam apakah yang tersemat antara aku dengannya ?
Kepada seraut wajah itu, ketahuilah bahwa aku begitu mengagumimu. Rindu yang tertahan untukmu menyadarkanku bahwa kaulah yang tulus membelai dengan cinta menurut caramu. Rindu ini menguat untukmu, meski beribu pertanyaan tentang kau dan aku tak jua terjawab sempurna. Namun, rindu yang tak terucap ini adalah bukti bahwa kau ada dalam hatiku. Kau terikat dalam doa-doaku. Maka, jangan pernah meragukan cinta yang kupunya untukmu, meski tak sebesar cintamu untukku.
Dan aku, kini menyimpan dua raut wajah yang akan kukenang dengan senyuman. Kala kusendiri, dua wajah itu setidaknya mampu mengusir sepi, membunuh sunyi dan menikam rindu. Rindu yang terus mengendap, ikhlas walau tak berbalas. Bagai endapan kopi yang tak pernah diteguk.
_Dipermulaan malam yang dingin_


Komentar
Posting Komentar