Antara Aku dan Raudhah

Kubah hijau itu berdiri indah. Itu kubah yang ku cari saat pertama ku injakan kaki di kota Nabi. Sungguh ia sangat elok. Bertengger di antara menara-menara yang tinggi menjulang. Memperlihatkan sebuah maha karya peradaban manusia ribuan tahun silam. Karena dulu dia hanyalah pelepah kurma. Di bangun bersama oleh manusia mulia, Rasulullah saw.
Bukan karena dia satu-satunya kubah hijau di masjid itu, aku terpana. Namun, di bawah kubah itu, terbujur jasad suci sang manusia mulia. Di bawah sana, ada pula cerita tentang kegelisahannya di hadapan Rabbnya. Saat ia berdiri di atas mihrabnya. Di bawah sana pula ada cerita tentang penyampaian risalahnya yang agung. Saat ia berdiri dengan wajah bersinar di atas mimbarnya.
Ya, di bawah sana, di antara mihrab dan mimbarnya terbentang taman syurga. Terbentang luasnya harapan manusia dalam lautan do’a. Setiap jiwa yang merindui kekasih Nya, berdesak untuk meratap dalam tangis di hamparan permadani hijau, di taman syurga.
Ku tatap pilar-pilar di bawah kubah itu. Lamunanku pecah, saat isak tangis manusia pun mulai bersahutan. Tak ku sadari, taman syurga itu hanya beberapa langkah saja di depanku. Raudhah, begitu lisan mulia itu bertutur. Langkahku hanya dalam hitungan jari untuk sampai berpijak di sana. Taman indah, tempat istijabahnya do’a.
Semakin langkahku mendekat, tubuhku semakin melemas. Tatapku perih oleh desakan kristal yang memanas di ujung kelopak mataku. Di hadapanku, mimbar itu terlihat jelas. Tempat manusia mulia itu mengobarkan semangat jihad kepada para pewaris pertama peradaban. Tempat dia bertutur tentang indahnya syurga dan ganasnya neraka. Tempat ia berucap lembut bahwa ia mencintai umatnya. Ku tatap mimbar itu lekat-lekat. Seolah wajah mulia itu ada di sana, tersenyum penuh kasih kepada umatnya.
Tumpahlah sudah sesak yang sedari tadi mendesak, saat kuucap salam kepadanya, “Salam ‘alaika yaa Rasulullah....”. Seolah tak percaya, antara engkau dan aku hanya beberapa jengkal. Meski kau bersemayam tenang di dalam rumahmu. Ribuan manusia menangis untukmu, bershalawat untukmu, dan mengabarkan rindunya hati padamu. Pun aku yaa Rasulullah.... aku diantara mereka yang hanya mampu menatap kosong rumahmu, mimbarmu dan mihrabmu.
Antara aku dan Raudhah, seperti sebuah akhir perjalanan panjang mencari titik pengaduan. Di sini, seolah Dia benar-benar berdiri di hadapanku. Ku rasakan benar-benar aku di hadapan Nya. Do’aku tak terputus dalam sujud panjangku. Aku tumpahkan semua yang menyesak di dalam jiwa. Sesak yang tiada lebih karena hati yang kian sempit oleh khilaf yang tak mengenal waktu.
Di hamparan permadani hijau Raudhah, aku hanya mampu menangis. Dan aku hanya ingin terus menangis, sampai terkabarkan padaku Dia menerima taubatku. Aku tak ingin beranjak sedikitpun dari sini. Raudhah, tempat yang ku cari selama ini, yang telah menyirami jiwaku setelah ia terlalu lama kering.
Antara aku dan Raudhah, adalah cerita tentang seorang hamba yang papa. Yang tak mempunyai apapun selain datang bersimpuh membawa dosa sepenuh bumi. Yang menadahkan tangan, membanjir dalam air mata, memelas belas kasih dan ampunan Rabbnya. Yang memohon petunjuk untuk menata ulang hati dan hidupnya. 
Raudhah, membuka mataku tentang likunya perjalanan menuju syurga yang sesungguhnya. Dia adalah taman, diantara taman-taman syurga. Dia adalah keajaiban dari Rabb penguasa alam. Dia hamparkan setitik indahnya syurga di sana, di rumah kekasih Nya.
Antara aku dan Raudhah, adalah jarak yang terpangkas antara aku dan rasul Nya. Antara aku dan Rabbku. Dan antara aku dan akhiratku. []

Salam ‘alaika yaa Rasulullah......


Masjid Nabawi, 24 Ramadhan 1434 H
                  -Faqir Ilallah-


Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer