Antara Aku dan Ka'bah
Langkahku
gontai, perlahan di atas sisa tenaga yang ada, aku mencoba terus melangkah di
bawah terik yang ganas. Beberapa meter di hadapanku, masjid yang megah dan
mulia itu berdiri kokoh. Sungguh, ia benar-benar indah. Tak jemu aku memandangi
setiap sudutnya. Hatiku tergetar, saat ku ingat di dalam sana, ada ribuan
manusia yang tengah berdo’a di hadapan Rabbnya, ya... tepat ‘dihadapan’
Rabbnya.
Aku
teruskan langkahku memasuki masjid itu. Lantainya yang dingin, turut
mendinginkan perasaanku yang sedari tadi berkecamuk tak sabar ingin menatap
pemandangan di dalamnya. Dekat, semakin
dekat. Kakiku tiba-tiba gemetar. Tubuhku dingin, saat aku terpaku memandangnya.
Rabbi,
mimpikah ini. Aku disini. Di rumah Mu. Menjadi tamu kehormatan Mu. Yang Kau
kabulkan doanya, yang Kau ampuni dosa-dosanya. Tepat di depanku, hanya beberapa
meter saja. Ia berdiri indah. Ribuan manusia mengelilinginya. Berdo’a penuh
harap. Pandang mereka nanar.
Kubus
hitam raksasa itu. Ya, Ka’bah. Antara aku dan ka’bah kini hanya beberapa meter
saja. Tak mampu aku berucap kata. Air mataku berlarian berebut mendesak keluar,
membentuk kristal hangat di kelopak mataku. Seketika mereka membanjir. Tak
kuasa aku di hadapan Nya. Tak ku sangka, Dia ijinkan diri ini menjadi tamu Nya.
Betapa Dia Maha Pemurah. Untuk ku angkat tanganku pun aku tak sanggup. Aku
malu, sebenar-benar malu. Di hadapan Nya, di tempat istijabahnya doa aku
tersungkur. Hanya satu yang ku pinta pada Nya, Dia berkenan menerima taubatku.
Antara
aku dan Ka’bah. Seperti sebuah keajaiban. Aku disini. Bersama ribuan bahkan
jutaan manusia dari berbagai belahan dunia. Betapapun banyaknya mereka, tak ada
satu pun yang luput dari pandangan Nya. Satu per satu Dia mengetahui isi
hati-hati kami. Dia himpun doa-doa kami. Dan Dia pun kuasa untuk mengabulkannya
atau menggantikannya dengan terbaik dari Nya. Di sana, di antara aku dan ka’bah,
tak ada air mata yang sia-sia.
Antara
aku dan Ka’bah, sungguh andai boleh ku
pinta, aku tak ingin beranjak dari sini. Aku hanya ingin bersama Ka’bah. Mengurai
do’a, melucuti dosa-dosa diri. Jengah sudah dengan rutinitas duniawi yang
mematikan hati. Kedua mataku telah tertambat padanya. Pada keagungan rumah Nya.
Do’a
ku harus ku tutup di waktu perpisahan. Terakhir terucap, ku ingin berdiri dalam
raka’at-raka’at panjang lagi di sini, di depan Ka’bah. Menyingkap hijab antara
aku dan Rabbku. Mengitarinya dengan penuh penghormatan kepada Sang Pemilik dan
Penguasa alam. Di sana, di tempat terijabahnya do’a, aku yakin Allah mendengar
harapanku, dan satu saat nanti, dengan ijin Nya, aku akan kembali lagi. Di sini. []
Masjidil
Haram, 21 Ramadhan 1434 H
Faqir Ilallah

Komentar
Posting Komentar