3 Tahun Terakhir

Matahari pagi ini bersinar hangat. Menghangatkan bumi yang hampir tiga hari sebelumnya disiram air langit. Hangatnya benar-benar dirindu. Ia menyusup lembut di sela-sela ranting pohon yang basah. Sinarnya menyilaokan embun yang menggantung di sana.
Pagi ini tiba-tiba aku terhenyak. Ada sesuatu yang menelisik di dalam hati, untuk aku urai dalam sebuah renungan. Di sana, di titik embun yang berkilau itu, aku arahkan pandangku dan aku pejamkan mataku. Merasakan betapa sejuknya tetes embun itu, sesejuk tetes bening yang membentuk kristal di ujung mataku.
Di sini, di tempat ini aku seolah mengulang ceritaku tiga tahun yang lalu. Tepat, karena ini adalah tahun ketiga aku terpenjara dalam sebuah rentetan peristiwa dan cerita yang sama.  Di penghujung tahun ketiga ini, aku belum menemukan apa yang ku cari.  Kepalku masih kosong. Ia hampa tanpa ambisi.
Ya, aku seolah berjalan sebagai manusia tanpa ambisi. Hari-hariku berlalu begitu saja. Tertinggal penyesalan di ujungnya. Entah apa yang ku dapat dalam tiga tahun terakhir ini. Rangkaian peristiwa bergulir cepat, memadat dalam tiap ruang waktu. Tak ada jeda untuk sekedar memejam dalam hening.
Tiga tahun terakhir, menjadi catatan perjalanan yang tertulis dalam tinta merah agenda hidupku. Ada kebisuan dalam keramaian. Ada kegalauan dalam jeda kebahagiaan. Ada rindu yang mengetuk-ngetuk dalam kesendirian. Ada jengah yang kuat mendobrak dalam ruang keangkuhan.
Tiga tahun terakhir, aku hanya mampu mengutuki diri yang selalu kalah. Lemah. Kelemahan yang membuatku hanya mampu menangisi diri yang tak mampu keluar dari teror keterbatasan. Tragis. Mimpi-mimpiku terkubur dalam agenda bertinta merah. Tangisku pecah tanpa suara. Dalam keheningan, aku tak ingin lanjutkan kehidupan.
Tiga tahun terakhir, aku masih berjalan tanpa tujuan. Menerawang masa depan dalam ketidakpastian. Entah kapan waktu akan menyudahi perjalanan untuk sampai di ujung pengharapan. Lelah sudah jiwa ini menyusuri likunya kehidupan. Sesak sudah dada ini yang tak kunjung usai dari setiap tuntutan. Ingin ku tutup lembaran kehidupan, jika ia hanya cerita tentang tangisan dan kebimbangan.
Tiga tahun terakhir, aku masih mencari keajaiban dalam jejak kepayahan. Tempaan peristiwa, tak akan aku sia-siakan untuk aku jadikan bekal perjalanan. Aku yakin kepal yang kosong ini satu masa nanti, ia akan mengepal kokoh menggenggam impian. Karenanya, di tiga tahun terakhir ini, aku harus terus mengetuk pintu kesabaran agar Tuhan karuniakan bahagia di akhir senyuman. []

Taman Firdaus, Shafar 1435 H

   -Faqir ilallah-



Komentar