Menyoal Idealisme
Tak
terasa sepuluh tahun sudah, ketergabungan diri dalam sebuah barisan tarbiyah
mengantarkan diri ini pada sebuah pemikiran yang tak sesederhana sebelumnya.
Harus semacam ada yang dibangun dalam ruang kepala ini. Harus ada semacam
program baru yang perlu diinstall dalam ruang jiwa ini. Ringkasnya, harus ada
perubahan yang tidak kecil yang perlu mewujud sejak kaki menjejak dalam jagad
eksistensinya sepuluh tahun lalu.
Bermula
dari sebuah pemikiran baru yang fundamental, diri ini berani menegaskan sebuah
tekad untuk melakukan segala sesuatu yang baru. Berani memulai langkah baru
yang menjauh dari keajegan. Berani memulai menggambarkan masa depan dengan
segala idealisme yang saat itu saya dapat.
Ya,
idealisme. Selama sepuluh tahun itu, kata itu selalu menjadi acuan dalam
merancang dan mengejawantahkan mimpi. Pijakannya adalah pada idealisme. Meski
kadang langkah ini kewalahan dalam mempertahankannya. Meski kadang pemaafan
turut mendesak untuk sejenak menanggalkannya, karena realita berkata lain.
Pertahanan diri saat-saat seperti itu amatlah tidak ringan, dilematis.
Sejak
mengenal dunia tarbiyah ini, teman-teman kerap menjuluki saya sebagai ‘manusia
langit.’ Agaknya berlebihan memang, namun di sisi lain saya mengakui sebagai
bagian dari kelemahan diri, yang akibatnya langkah menjadi terbatas karena
realitas harus senantiasa diselaraskan dengan idealisme. Oleh karena itu arah
perbincangan seputar konsep perubahan lebih banyak masih berada pada tataran
normatif.
Namun,
kadang saya pun bertanya, adakah yang salah
dalam mempertahankan sebuah idealisme? Apakah idealisme itu sendiri salah ? Mengapa
selalu harus ada maaf ketika ia tidak sejalan dengan realitas yang dihadapi ?
Ah, agaknya memang ini kembali pada pribadi masing-masing. Namun, saya kembali
bertanya, lalu selama ini substansi tarbiyah Islam yang didapatkan, diletakkan
dimana ? Apakah ia hanya pembahasan normatif di ruang-ruang tarbawi lalu
kemudian di abadikan di dalam buku liqo’ ? setelah kajian selesai, maka selesai
pula penjelajahan alam berfikir kita. Kita bukan insan materialistis, bukan ?
Idealisme
itu, sejatinya merupakan buah dari pemahaman. Pemahaman kita sebagai manusia
yang diciptakan sebagi hamba sekaligus pemimpin di dunia ini. Pemahaman kita
yang melingkupi untuk apa, bagaimana, dan akan kemana diri kita berbuat di atas
dunia. Semuanya dijalankan di atas sebuah idealisme yang merujuk pada kehanifan
manhaj Islam.
Nah,
ketika kita kemudian menghadirkan pemaafan dalam mengaplikasikannya, lantas
sadarkah apa yang sebenarnya kita lakukan terhadap konsep ajaran Islam yang
hanif itu ? Semoga kita tidak termasuk dalam orang-orang yang mendustakannya
agama Nya, dengan mengambil yang manfaat dan ‘memaafkan’ yang dirasa sulit
beririsan dengan realitas. Na’udzubillah.
Menyoal
idealisme, maka sejatinya bagaimana kemudian ia diinteralisasikan ke dalam
karakter diri kita yang telah memahaminya sebagai konsep diri seorang muslim. Idealisme
itu tidaklah sama dengan gengsi. Mempertahankannya tidaklah sama dengan
mempertahankan prestise diri. Karena ia adalah prinsip absolut yang bersumber
dari manhaj yang absout kebenarannya.
Idealisme
jualah yang menjadi ruh da’wah ini
ditegakkan. Perjalanan mihwar da’wah dari masa ke masa, mengharuskan kita untuk
tetap berpegang teguh pada asholahnya. Alamiyahnya memang, dari masa ke masa
kondisi da’wah ini tidak akan sama. Ia akan terus mengalami perubahannya.
Tidaklah bijak ketika kita kemudian senantiasa bernostalgia dengan masa yang
telah berlalu, namun tidaklah benar ketika perkembangan da’wah itu memaafkan
perubahan-perubahan yang semakin jauh dari asholahnya.
Di
tengah gegap gempita da’wah ini, ketika da’wah dirasa semakin sulit dan alot, maka
idealisme kadang menjadi taruhan. Dari waktu ke waktu, ketika semakin besar dan luas ruang da’wah
ini, semakin terasa ada sesuatu yang hilang. Terasa ada yang ganjil dalam setiap
pertemuan-pertemuan tarbawi. Ada yang kurang dalam setiap diskusi-diskusi
da’awi. Entah apa mewujud di tengah-tengah keberagaman masalah yang semakin
ramai.
Para
pegiat da’wah ini pun tak sedikit yang
kehilangan ruhnya. Entah apa yang
terjadi pada masing-masing mereka, langkah dan orasi mereka semakin tak
terdengar. Satu per satu undur diri dari tanggung jawab yang masih tersisa.
Persoalan perut, akademis, keluarga, atau sang lajang yang galau, dan beragam
problematika yang hadir memaafkan mereka untuk pamit dari ikatan yang dulu
sekuat tenaga mereka bina.
Kini
idealisme sejati tidak ada, yang ada hanyalah realita yang semakin menuntut.
Tidak peduli bagaimana ia harus dipenuhi. Bahkan mungkin dengan mengubur
idealisme. Dalam kondisi yang lain, idealisme itu kadang disikapi tidak wajar.
Idealisme yang tidak berakar pada satu konsep manhaji, akhirnya ia justru
merusak manhaj yang ada. Idealisme itulah yang kemudian mencederai makna dan
hakikat sebuah prinsip mutlak. Orang-orang yang berada dalam lingkaran
idealisme semacam ini, mereka cenderung culas dan tak bertanggung jawab atas
manhaj yang telah mereka kotori.
Amatlah
benar, jika pemahaman menjadi syarat pertama dan utama dalam menggerakkan roda
da’wah ini. Pemahaman yang hanif dan murni tak boleh lapuk oleh realita yang
semakin menuntut da’wah ini dimaafkan. Pemahaman akan bagaimana Alqur’an
ditafsirkan dan diejawantahkan dalam setiap sendi kehidupan.
Pemaafan-pemaafan
atas idealisme, sejatinya merupakan bukti kemunduran tekad dan hamasah. Realita
bagaikan godam raksasa yang menakutkan yang mengancam kehancuran sebuah
bangunan. Ketika ini menjadi realita baru dalam da’wah, maka tak ada yang perlu
diharapkan kecuali kemundurannya, setapak-demi setapak.
Sekiranya,
kontemplasi perlu sering dihadirkan di tengah-tengah hiruk pikuk da’wah. Agar
tak ada afwan untuk luntur dan agar
warna ini tetap jelas keasliannya.[]

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusDari tulisan ini terlihat adanya pemahaman yang mendasar tentang manhaj islam yang hakiki.. Barakallahu fik syahidah.. Semoga Allah menetapkan kita dalam idealisme ini.. Aamiin..
BalasHapus