Galau
“
Mba.....aku galauuuuuuuuu.... tolongin aku donk...”
keluh teman satu atapku, disetiap menjelang malam. Aku hanya tersenyum melihat
tingkah temanku itu. Sedikitnya, aku tahu kegalauannya beralasan. Usianya sudah
melewati seperempat abad, desakan keluarga sudah mulai berdengung keras dan dia
masih berjibaku dengan target kelulusannya. Masalah demi masalah yang baginya
berat untuk diatasi seorang diri. Dia butuh ‘teman’ penguat.
Empat bulan mungkin bukan
waktu yang terlalu singkat untuk aku dan teman-teman di bawah satu atap untuk
saling berbagi rasa, baik suka ataupun duka. Namun, entah faktor apa, kedekatan
antara kami begitu cepat terjalin dan begitu hangat. Tak hanya berbagi rasa,
berbagi satu atau dua suap makanan pun sudah tak segan.
Kami tak ada sekat untuk
saling terbuka, meski tak semua hal privasi kami utarakan. Dan dari keterbukaan
ini, kami kemudian mengetahui bahwa ada kesamaan nasib meski tak selalu.
Termasuk dalam soal kegalauan. Tak jarang kami tertawa bersama ketika hal itu
tengah menjangkiti salah satu di antara kami. Akhirnya, kami hanya mampu saling
menghibur dan mendo’akan.
Secara pribadi, detik ini,
episode perjalanan hidupku memasuki tahun ke 7 dalam kesendirian. Usiaku telah
melewati setengah abad. Sebuah masa yang menjadikan seorang perempuan tak lagi
nyaman meneruskan langkah tunggal meski tiap cita yang diinginkannya mewujud di
samping kanan dan kirinya.
Coretan ini ku beri judul
“Galau”, bukanlah semata-mata menggambarkan kegalauan yang tak berarti, seperti
galaunya anak remaja yang dirundung kasmaran. Rasa ini, rasa yang lumrah yang
senantiasa mengganduli diri pada lajang yang tengah memasuki status “siaga 1”.
Beberapa teman-temanku
sepakat, tidak ada istilah telat dalam kamus menikah. Karena ia adalah satu
takdir yang sudah tercatat dengan pasti waktu, tempat dan dengan siapa tulang
rusuk ini menemukan pemiliknya. Setiap orang memiliki garis hidupnya sendiri.
Tak dapat disamakan.
Usia, kemudian menjadi
pembicaraan menarik ketika menikah menjadi judul sebuah diskusi. Mengapa adik
tingkat yang masih hijau tiba-tiba mengejutkan kaderisasi organisasi tempat
bernaungnya berdecak “Subhanallah” atas undangan walimah yang disodorkannya.
Sementara itu, tidak sedikit angkatan lawas yang tengah sibuk dengan skripsi
dan urusan wajihah kampus masih nyantai menikmati waktu-waktu padatnya.
Ada rahasia yang masih
belum mampu dijawab, kecuali ketika keyakinan kemudian menjadi kuncinya.
Allahlah Sang Maha Pengatur urusan hamba-hamba Nya. Tak akan ada yang keliru,
dan tak mungkin akan ada salah ketik dalam
Lauh sana, urutan takdir setiap kita hamba Nya.
Seorang teman pernah
bertanya, “ Apa yang sebenarnya salah dalam diri kita ?” mengapa mereka yang
anggun, cantik, lembut, muda...begitu mudah menuju satu skenario ini ?
Mengapa...mengapa....mengapa... ? Tak ada yang salah sebenarnya dalam diri kita
atau sesuatu yang luar biasa dalam diri mereka. Kita semua sama. Yang
membedakan adalah bagaimana kita menyikapi cerita demi cerita dalam hidup ini.
Namun yang pasti memang,
harus senantiasa ada perbaikan dalam diri setiap kita. Apa yang perlu diperbaiki,
tentu sangat banyak dan kita sendiri yang mengetahui. Karena dalam dunia
perjodohan, posisi perempuan (meski tak semua) lebih sering dipilih. Ya, kita
lebih cenderung ‘dipasifkan.’ Perempuan dengan predikat kualitas prestasi yang
tidak bisa diremehkan, tak punya kekuatan untuk menggugat siapa tergugat ketika
usianya memasuki tangga ke-30 namun status masih belum berubah. Karena ia hanya
mampu menunggu. Kalaupun ada keberanian mengajukan proposal, maka tidak sedikit pandangan miring yang ditatapnya.
“Sabar, jika sudah saatnya pasti akan indah pada waktunya.” Kalimat
sakti yang membuat si galau semakin merunduk seperti kuningnya padi yang belum
hendak di panen oleh petani. Tak menentu nasibnya. Adalah kesalahan besar
memang jika kita mengharapkan seseorang memenuhi keinginan dan harapan-harapan kita.
Tidaklah bijak kita menuntut seseorang atas keinginan kita yang tak sampai.
Ada yang mengatakan galau
adalah tanda kedewasaan. Hadirnya episode galau dalam perjalanan hidup seorang
lajang, menandakan bahwa dirinya bukan lagi anak kecil yang harus selalu diladeni oleh orang tuanya. Harus ada
keberanian sikap yang membuktikan bahwa dia telah beranjak dewasa. Tak hanya
fisik namun juga psikis.
Harus ada perubahan dalam
karakter seseorang yang ingin mendapatkan pengakuan bahwa dirinya telah dewasa.
Bijak dalam mengambil keputusan, mampu mengontrol emosi, dingin dalam berfikir,
atau kelebihan lain yang mampu ditempa untuk menjadikan diri semakin matang.
Galau, memang hanya waktu
yang mampu menjawab kapan ia akan diakhiri dan diganti dengan ketenangan.
Sebagai seorang mu’min, sejatinya telah ada nasihat agung dalam Alqur’an agar
hati tak selalu galau. Ketenangan, ia mampu dihadirkan dalam diri kita sebagai
manusia yang menyerahkan secara utuh setiap urusan kepada Rabbnya.
Ketika itu kembali
disadari dan direnungi, kegalauan separah apapun levelnya, akan mampu teratasi.
Akhirnya, tak perlu meratapi kegalauan, nikmati saja. Mungkin itu cara Allah
untuk membuat kita sadar bahwa kita lemah diatas kegemilangan prestasi kita.
Bahwa kita mampu kuat ditengah kelemahan dan keterpurkan kita. Dan bahwa kita selalu
merasa butuh kepada Nya.[]
Wallahu’alam.

Komentar
Posting Komentar