Menyerah


Menyerah. Satu kata  itu bergelayut di langit-langit fikiranku. Satu kata yang emosinya tak mampu memutar dengan lembut gelombang otakku. Perputarannya begitu cepat. Fatal, tak ada ide-ide segar yang mampu kuhasilkan untuk mengisi waktu agar lebih berarti. Peta waktu yang sudah kususun pun hanya membisu melihat tingkahku yang begitu menyebalkan baginya. Hanya mampu kulirik, namun tak ada yang mampu kulakukan. Tak ada perintah otak untuk menggerakkan tanganku untuk menggoreskan pena, atau menarik satu buku untuk kemudian ku lahap isinya.
Mati. Ya, waktuku terasa mati. Tak ada amal produktive yang mampu kulakukan. Dari satu perjalanan menuju perjalanan kehidupan yang lain, likunya makin tak sanggup untuk ku jalani. Tikungannya semakin menajam dan licin. Gugatan untuk segera mengakhiri perjalanan ini semakin mendesak dan menyebabkan gaduh. Otakku macet, bebal, dan menunggu waktu untuk meledak.
Menyerah. Namun satu kata itu agaknya sedikit menenangkan. Setidaknya menyadarkanku bahwa aku hanya manusia biasa dengan segenap kelemahan. Tak selalu tiap persoalan mampu ku atasi. Tak selalu aku harus menang dalam setiap pertempuran hidup. Tak selalu pula aku mampu menyemangati diri untuk berjuang dalam kesendirian.
Ya, kesendirian. Entah bagaimana pemaknaannya, kesendirian itu semacam penjara gelap yang membatasi gerak untuk sekedar berontak. Berontak untuk setiap ketidakmampuan dan kebuntuan. Berontak untuk setiap kekalahan demi kekalahan. Berontak dengan kekuatan tunggal yang tersisa.
Belum ada kata yang tepat untuk mengganti kata itu. Ku putuskan menyerah untuk kepenatan yang menyelimuti dari segenap sisi. Menyerah untuk setiap benturan yang semakin keras dan meninggalkan lebam. Menyerah untuk keterbatasan yang semakin menyudutkan. Menyerah untuk kegagalan demi kegagalan dalam merangkai mimpi.
Ya, aku menyerah. Biarlah Tuhan yang menentukan kapan aku akan memenangkan satu, dua atau lebih pertempuran dalam kehidupan. Aku menyerah kepada Tuhan atas kelemahan yang kumiliki. Biarlah Dia Yang Maha Menguasai yang akan membalikkan satu yang ganjil menjadi satu harmoni yang indah.
Biarlah Dia yang mencukupkan satu masa untuk aku tidak lagi bertarung melawan kedirian yang angkuh. Aku pasrahkan urusan duniaku kepada Dia yang Maha Mengatur yang terbaik. Tidak ada lagi kekuatan yang tersisa selain kepasrahan atas segala usaha dan do’a yang terucap dalam setiap sujud.
Aku tak punya lagi kekuatan untuk meruntuhkan segala ketidak mampuan diri. Meski sekedar untuk berkata tidak. Aku menyerahkan segala yang melemahkan kepada yang Maha Menguatkan.

Di seperempat perjalanan waktuku kini, aku menyerah.[]


Komentar

Postingan Populer