Lelaki dan Jagung Bakar


Lepas maghrib kemarin, tak seperti biasanya saya dan teman satu kostan terpaksa keluar rumah untuk memenuhi hak perut yang sedari pagi belum dipenuhi. Rupanya di salah satu sudut komplek kampus masih terdengar keramaian orang-orang yang menyelesaikan tugas kuliahnya, atau tak sedikit pula yang meramaikan permulaan malam itu dengan tawa bersama teman atau menikmati game online di kedai internet.
Di ujung gang kampus, mata saya tertuju pada satu sosok yang tengah menggelar dagangannya di depan kedai play station. Seorang lelaki paruh baya, berjongkok di bawah pohon randu, menata beberapa jagung  dan perapian untuk membakar. Tak dihiraukannya orang yang berlalu lalang tanpa menghampirinya.
Beberapa pemuda berambut gimbal dengan khas ghotic mereka, rupanya tertarik dengan jagung bakarnya. Mereka dengan akrab berjongkok melingkari lelaki dan perapiannya. Mereka juga dengan ringan tangan, turut mengupas beberapa jagung pesanan teman-teman mereka untuk dibakar.
Pemandangan yang sangat menarik. Saya menikmatinya dari dalam warteg sembari menunggu pesanan mendoan matang. Lelaki penjual jagung bakar itu, mengingatkanku pada sosok kepala rumah tangga yang penuh tanggung jawab menjalani hari-harinya dengan kerja keras. Berpeluh di tengah terik, berjalan di bawah hujan, demi menghadiahkan kebahagiaan untuk istri dan anak-anaknya.
Lelaki dan jagung bakar itu, adalah simbol ketangguhan seorang ayah yang tak lupa akan tanggung jawabnya. Terenyuh tatkala menseksamainya bercengkrama penuh senyum, meski lelah semakin meronta-ronta di salah satu sisi wajahnya. Tak peduli dengan malam yang semakin merangkak, dingin yang semakin yang menusuk, atau dunia malam yang tak bersahabat.
Lelaki dan jagung bakar mungkin satu dari sekian fenomena seorang lelaki yang gigih dalam perjuangannya. Berjuang dengan keterbatasan yang ada demi tanggung jawab dan cinta yang tak dibatasi oleh ketiadaan materi. Bagi mereka cinta itu tak harus diwujudkan dengan kebendaan atau materi berlimpah. Tapi, cinta adalah kebersamaan dan berbagi. []

Komentar

  1. "Bagi mereka cinta itu tak harus diwujudkan dengan kebendaan atau materi berlimpah. Tapi, cinta adalah kebersamaan dan berbagi"

    Like this Mpiit :)

    BalasHapus

Posting Komentar