_Pada Akhirnya ... _

Dalam hidup ini, tidak setiap yang kau korbankan, seimbang dengan apa yang kau dapatkan. Tidak setiap yang kau perjuangkan, akan berpihak pada kebahagiaan yang kau impikan. Terkadang kau harus terjeda di ruang tunggu untuk meraih hasil perjuangan dan pengorbanan itu. Entah berapa lama kau akan terjebak dalam ruang itu. Ruang tunggu yang pada akhirnya kelak akan membuatmu menengkari kesabaranmu.

Dan pada akhirnya, hidup ini akan terus berlanjut tak peduli seberapa menyakitkan atau membahagiakan. Waktu akan selalu berbaik hati memperbaiki semuanya. Waktu pula yang kelak akan menjadi saksi siapa saja yang akan tetap bersamamu, atau pamit mundur meninggalkanmu dalam diam dan sunyi. Dan pada akhirnya, engkau akan kembali dalam kesendirian ruang waktumu.

Namun, jangan pernah hapus senyum dari wajahmu. Karena pada akhirnya, yang terbaik akan hadir di akhir segala kelelahan. Ya, selama engkau masih meyakininya sebagai sebuah keniscayaan. Sebab-sebab kebaikan yang kau rindukan, pada akhirnya akan mucul perlahan. Dan ini hanyalah persoalan waktu. Yang pada akhirnya, waktu pun akan bergulir memangkas jarak antara engkau dan takdir terbaik itu.

Terimalah dengan yang penerimaan terbaik, masa lalu yang masih saja memagari masa depanmu. Yakinilah itu sebagai batu bata yang akan membantumu menaiki tangga waktu menuju masa depanmu. Bagaimanapun, masa lalu itu tak selama harus ditutup. Terkadang kau perlu sesekali menengoknya, dan belajar darinya. Dan pada akhirnya, masa lalu itu tak akan selalu benar-benar ada di belakangmu. Satu saat, dia akan berada kembali dimasa depanmu, dengan tema yang mungkin sama, namun dengan pembelajaran yang berbeda.

Rasa sakit, kecewa, terjatuh dan bahkan terbuang dari harapan, mungkin akan mengakrabimu. Seperti saat ini, saat kau belum sempat memahami arti sebuah hadirnya harapan, kau harus memahami arti melepaskannya, bahkan saat belum sempat kau menggenggamnya. Dan pada akhirnya, kini kau kembali tersakiti oleh harapanmu sendiri. Ya, seperti yang ku bilang, terbuang dari harapan.

Entah bagaimana lagi memahami itu semua. Bila untuk sekedar menerimanya sebagai bagian dari takdir, ternyata imanmu begitu payah. Kau perlu menguatkan lagi imanmu yang secuil itu. Lalu, mintalah keberanian untuk kembali menyusun atau setidaknya mempertahankan cita-cita yang telah lama kau bangun.

Maka kuatkanlah dirimu sendiri. Karena pada akhirnya tak akan ada yang mampu mengerti tentang betapa kuatnya engkau dalam segala beban yang kau rangkum dalam diam. Biarlah mereka mendulang prasangka tentangmu. Kau tak perlu menjelaskan apapun tentang dirimu pada mereka. Jika mereka memang tulus menyayangimu, mereka akan mampu memahami meski dalam diammu.

Dan, jika kelak pada akhirnya kau tak jua berjumpa dengan mimpi yang kau rajut dalam dekap keyakinanmu, maka ikhlaskanlah mimpimu saat ia terbang mendahuluimu di syurga. Karena, Sang Maha akan menyapamu dengan takdir terindah menurut Nya, sesuai seperti apa yang kau pinta dalam do’a.

Sudahlah... kau hanya perlu menguatkan diri dan menata ulang segala yang pernah lantak dalam ruang jiwamu. Hatimu, perasaanmu, mimpi-mimpimu... ya, perbaikilah semua itu dengan warna baru yang akan membuat semangatmu kembali mewarnai hari-harimu. Warna yang lebih ceria dan penuh gairah akan masa depan yang pasti, Syurga.

Berhentilah berharap pada mimpimu, bahwa disanalah kebahagiaanmu. Dia lebih mengetahui bagaimana caranya engkau bahagia. Lepaskan, dan ikhlaskan segala mimpi yang telah kau rangkai dalam doa. Dia akan memberikannya padamu pada waktu dan dengan cara yang tepat. Atau Dia akan memberikan yang lebih baik dari kau pinta dalam serak tangismu itu.

Ingatlah, ketika pada akhirnya kau tak mendapatkan apa yang kau pinta, itu karena bukan kau layak untuknya. Tetapi karena kau layak mendapatkan yang lebih baik.[]

Permulaan Sya’ban, 1438 H

_Di awal pagi_




Komentar

Postingan Populer