_Memaafkan Mimpi_
“Barangkali sesuatu ditunda karena
hendak disempurnakan, dibatalkan karena hendak diganti yang utama, ditolak
karena hendak dinanti yang lebih baik.”
(Salim A Fillah)
Apalah
arti memiliki, jika diri kita pun bukanlah milik kita ? Lagi-lagi nasihat lama
ini yang kembali bergema di alam pikiran, tatkala duka kehilangan kembali
berteriak, lebih keras. Nasihat itu mampu kembali menundukkan pemberontakan
atas mimpi dan harapan yang kembali lepas dan lari dari diri.
Ikhlas
memang bukan perkara mudah. Seperti senyum yang tersuguhkan ditengah kecamuk
perasaan, dia butuh perjuangan. Ia perlu terus dilatih. Dan itu bukan latihan
yang mudah dan ringan. Ikhlas, dibersamai oleh kerelaan melepaskan sesuatu yang
seharusnya direngkuh setelah perjuangan yang tidak mudah.
Barangkali
memang, bagi sebagian orang ikhlas itu mudah. Semudah menyunggingkan senyum
tatkala bahagia. Karena bagi mereka, ikhlas adalah satu-satunya pilihan berdamai
dengan dirinya. Mereka sudah terlampau lelah bertengkar dengan diri mereka.
Bertengkar dengan mimpi mereka, juga bertengkar dengan sabar mereka. Ikhlas,
satu-satunya pilihan mensudahi semuanya.
Ya,
memaafkan mimpi yang memilih menjauh, mungkin adalah pilihan tersulit. Saat
bagian dari masa depan enggan membersamai diri. Enggan meniti jalan bersama.
Memaafkannya, menjadi sebuah alasan untuk tak kecewa dan terpuruk dalam
kesedihan. Memaafkan dan melepaskan setelah segala usaha dilakukan, setidaknya
mengajarkan ketenangan bahwa untuk menuju kebaikan yang lebih besar, dibutuhkan
pengorbanan yang tidak kecil.
Entah,
kebaikan yang lebih besar apa yang sedang disiapkan untuk mereka yang berjiwa
besar melepas dan memaafkan semua yang membuat air mata menderas. Jiwa-jiwa
seperti mereka, sejatinya mungkin telah lelah. Namun mereka memilih bertahan,
menanti kebaikan yang Tuhan janjikan. Segala upaya dikerahkan agar mereka tak
terjatuh dan mengalah.
Barangkali
memang sesuatu ditunda karena hendak disempurnakan, dibatalkan karena hendak
diganti yang utama, ditolak karena hendak dinanti yang lebih baik. Nasihat itu
terus menerus mereka dengungkan dan mereka yakini sebagai janji Tuhan yang
niscaya. Tak akan menyesal orang-orang yang sabar, begitu orang bijak bertutur.
Meski besarnya kesabaran tak menjamin seseorang
mendapatkan apa yang diperjuangkan. Namun sekali lagi, tak akan menyesal
orang-orang yang memilih sabar. Setidaknya, mereka telah berhasil mendapatkan
kemenangan atas dirinya.
Barangkali
memang seperti itu, ketika tidak ada lagi yang bisa dilakukan, setelah begitu
banyak usaha terbaik dilakukan, maka saatnya bersabar. Dengan sungguh bersabar,
cepat atau lambat keajaiban akan tiba. Dan ketika tiba, dia datang tak
tertahankan, bahkan tembok paling keras pun runtuh.
Maka,
saat semua jalan seolah kembali tertutup, dan waktu seolah berhenti, maafkan. Saat
semesta seolah memusuhi, maafkan. Berdamailah dengan semua keadaan yang tak
diharapkan. Semoga dengan penerimaan yang tulus atas semua yang hilang
tiba-tiba, Tuhan akan memberikan yang lebih indah tanpa kita duga jalannya.
Maafkanlah.[]
“Yaa Rabb, berikanlah kami kabar
gembira berupa kebahagiaan, sebagaimana yang pernah Engkau berikan kepada
Zakaria dengan hadirnya Yahya.”


Komentar
Posting Komentar