Tentang Lajang


Seorang kawan bercerita tentang pertemuannya dengan seorang perempuan yang baru dikenalnya baru-baru ini. Seorang perempuan yang dalam pandangan kawan saya adalah perempuan mandiri, cerdas, sederhana dan bijaksana. Tak terlihat dalam raut wajahnya sebuah kesedihan atau kegundahan. Meski tak ada yang tahu pasti apa yang tengah disimpan di dalam hatinya.
Tetiba sang perempuan tadi membuka obrolan mereka,”Mba, bisakah saja mengajar di sekolah yang mba kelola ?” Kawan saya tertegun menatap penuh tanya wajah sang perempuan itu. Tidak mungkin baginya mempekerjakan seseorang yang “lebih” di atas dirinya.
Kemudian terdengar seloroh sang perempuan,” Tolonglah mba, sebentar lagi saya menopause. Barangkali dengan saya mengajar di sekolah mba, dan dekat dengan anak-anak bias menunda masa menopause saya. Jleb. Seperti ada tikaman yang menusuk perih relung hati. Kawan saya tak sanggup menahan desakan bening hangat di matanya. Bersegera dia mencari alasan untuk pamit dan menghapus air matanya yang sudah terlanjur merembes.
Sampai cerita ini ditulis, saya tak habis pikir kesabaran sebesar apa yang Allah sisipkan di hati para perempuan hebat seperti beliau. Dan tentunya masih banyak perempuan sehebat beliau di luar sana yang masih berdiri dengan kekuatan tunggalnya menghadapi setiap ujian hidupnya bahkan sampai batas akhir usianya.
Tentang lajang, kita tak bisa memandang hal ini sebelah mata. Karena ini bukan semata tentang status sosial. Tetapi lebih dari itu, lajang adalah perjuangan dan perlawanan dari keinginan untuk mengalah pada kehidupan. Ini soal eksistensi iman. Soal seberapa besar keyakinan para perempuan lajang akan janji Tuhannya, yang telah menfirmankan bahwa Dia menciptakan manusia berpasang-pasangan.
Bagi setiap lajang, pernikahan adalah sebuah impian. Pada sampai usia tertentu, pernikahan bukan lagi sebuah kegalauan cengeng layaknya para jomblo yang terlalu hijau memahami arti galau. Ada banyak yang dipertaruhkan. Ada yang banyak pula yang harus diperjuangkan agar lajangnya seorang perempuan menutup pintu fitnah dan kesedihan bagi orang-orang terdekatnya.
Ringkasnya, melajang adalah dilema. Antara mempertahankan keyakinan akan hadirnya sosok terbaik dari Tuhan, atau mengalah (cepat) menerima siapapun yang hadir. Karena pada akhirnya, tak sedikit yang memilih mengalah demi kebahgiaan sebagian orang.
Kawan, dari sini saya ingin menyampaikan, bantulah mereka yang pada titik usia matangnya belum pula menemukan belahan hatinya. Menikah memang tak berhubungan dengan usia seseorang, karena ia hanya soal siapa yang sanggup memikul tanggung jawab hidup bersama selama-lamanya, dengan segala ujiannya.
Namun, jangan biarkan mereka, para lajang yang hari ini masih menguatkan dirinya, mengalah dan (bahkan) kalah pada kehidupannya. Menyerahkan sisa nafasnya pada seseorang yang tak layak mengimaminya. Atau setidaknya, ringankanlah mereka dengan menjaga hati mereka. Untuk menahan diri tak memperbincangkan indahnya pernikahan dan keluarga bahagia di telinga mereka.
Karena kita tak pernah tahu, dibalik wajah tegar mereka, mungkin tangisnya memecah sepertiga malam. Do’a-do’a mereka melangit. Mata mereka basah, jiwa mereka pasrah. Kita tak pernah tahu arti senyuman mereka. Dan kita tak tahu beban yang memenuhi pundak mereka, namun mereka tetap berdiri tegak meski melangkah dalam kesendirian.
Bantulah mereka dengan do’a terbaik kita. Untuk mereka yang Tuhan berikan kebahagiaan dengan cara yang unik. Untuk mereka, yang karena kesabarannya Tuhan siapkan tempat kembali terbaik di dalam syurga Nya. Semoga duka kesendirian mereka tak lama. Dan semoga Tuhan karuniakan kepada mereka bahagia yang tak diberikan kepada sebelum mereka. []


Taman Firdaus, 15 November 2016 

Komentar

Postingan Populer