Tawakal
لَا
تَدْرِي لَعَلَّ اللَّهَ يُحْدِثُ بَعْدَ ذَلِكَ أَمْرًا
“Kamu tidak mengetahui, barangkali setelah
itu Allah mengadakan suatu ketentuan baru.”
(Q. S. Ath-Thalaq : 1)
Tidak
ada satupun manusia di dunia ini yang mengetahui apa yang akan terjadi padanya
esok, satu jam atau bahkan sedetik kemudian. Ada tabir yang menutupi dirinya
dengan masa depannya. Tabir antara dirinya dengan harapan-harapan yang
mengangkasa dalam do’a. Tabir antara dirinya dengan ikhtiar penuh kesungguhan
ditingkahi laku manja dalam lelahnya.
Namun
sungguh, tabir itu adalah kebaikan yang melahirkan prasangka baik. Menguatkan
sebenih iman yang terlalu kerdil untuk siap menyambut tumpahan kebaikan dari ikhtiar
dan do’a yang mengetuk, memelas Rahiim Nya.
Tabir
yang mengajarkan hati tentang arti tawakal. Ya, manisnya tawakal tak akan
dirasakan kecuali oleh mereka yang telah merasakan keras dan pahitnya ikhtiar.
Karena tawakal seseorang di akhir usahanya, ibarat telaga di tengah sahara.
Menyejukan relung-relung jiwa yang haus akan harapan agar segera mewujud.
Namun,
bagi mereka yang memahami hakikat tawakal, kehendak Tuhannya lebih diyakini
sebagai kehendak terbaik untuknya. Karena memang perkara tawakal adalah perkara
iman. Tak ada tawakal kecuali pada mereka yang ada iman dalam hatinya. Karena
tawakal itulah, Allah mencintai mereka yang beriman.
Cinta.
Adakah yang lebih agung dari cinta Allah kepada hamba Nya ? Adakah pembuktian
cinta yang lebih nyata dari pembuktian cintaNya kapada hamba Nya ? Setiap kita
memiliki keinginan, tapi Allah punya kehendak.
Tawakal
adalah (juga) ujian keimanan. Tawakal menuntun kita agar tsiqoh bahwa
kehendak Allah jauh lebih baik dari kehendak kita. Bukan perkara mudah
menguatkan iman saat Allah menguji dengan kegagalan di akhir ikhtiar sehingga
membuahkan sabar. Dan bukan perkara
biasa, menjaga iman saat Allah menguji dengan terwujudnya keinginan sehingga
membuahkan syukur.
Wa
man yatawakkal ‘alallah fahuwa hasbuhu. Tawakal adalah seruan Allah. Dan Allah berjanji untuk
mencukupkan kebaikan pada seorang hamba yang bertawakal kepada Nya. Allah
sebagai penjamin, bahwa tidak akan aniaya mereka yang menguatkan tawakalnya.
Maka sekali lagi, perkara tawakal adalah perkara iman. Tidak akan mampu
seseorang meraih kebaikan dalam tawakal, kecuali mereka yang memiliki iman di
dadanya.
Perkara
tawakal adalah perkara iman. Siapa yang memperbaiki tawakalnya kepada Allah,
maka sejatinya dia tengah menguatkan imannya. Agar dia tak jatuh saat harapan tak
digenggam. Atau agar dia tak lupa pijakan saat harapan di hadapan. Tawakal,
memperelok perilaku mereka yang selalu memeluknya disetiap langkahnya. Membuat
manis tutur katanya, karena matangnya iman dalam dadanya. Membuat teduh wajah
yang memandangnya.
Karena
mereka memahami, barangkali hikmah dari tak tercapainya apa yang diinginkan di dunia, setelah melewati proses berkepanjangan dalam hidup, adalah agar kita tak berhenti meminta syurga sebagai ganjaran perjuangan di dunia. Karena jika semua yang diinginkan dengan mudahnya dikabulkan Allah di dunia, barangkali kita berhenti meminta kebaikan di akhirat.
Mereka
menjadikan bayang-bayang akhirat sebagai pemandangan terindah di pelupuk
matanya. Menjadikan syurga sebagai cita-cita masa depannya. Dan mereka juga
meyakini bahwa tawakal mengantarkannya pada satu diantara tiga kebaikan janji
Rabbnya. Allah menghapus dosa-dosanya. Atau Allah mengkaruniakan keinginan yang
dipintanya. Atau Allah menghindarkan bala’ darinya. Tidak ada yang salah dengan
janji Allah. Tugas kita, hanyalah menguatkan iman dan meyakini kehendak Nya
lebih indah dari kehendak nafsu kita.
Lalu,
setelah semua proses perkepanjangan dalam hidup ini, dengan jatuh dan
bangunnya. Dengan senyum dan tangisnya. Dengan lelah yang mengetuk untuk segera
menyerah. Berhentilah sejenak di sini. Dipersinggahan antara kita dan Rabb
semesta alam. Untuk menunduk dan merenungi. Apakah arti tangis kehilangan kita
selama ini? Apakah pula arti kebahagiaan saat kita menggapai mimpi ?
Segala
rasa yang tumpah ruah karena urusan dunia, apakah mengantarkan kita pada ridho’
Nya? Adakah semua itu memperberat timbangan hisab kita kelak ? Ya, kelak saat
kita berdiri seorang diri di hadapan Rabb Penguasa langit dan bumi,
mempertanggung jawabkan hidup yang pernah diberikan kepada kita.
Akankah
waktu kita habis karena urusan dunia yang kita tangisi. Maka demi Allah,
berhentilah merengek akan kesenangan dunia yang belum digenggam. Dan berhentilah
bertingkah seolah kita makhluq mulia saat kesenangan dunia berbondong-bondong
menyambangi.
Allah
dan syurga Nya adalah muara akhir ketawakalan kita.[]
Taman
Firdaus, 14 November 2016


Komentar
Posting Komentar