Entahlah...
Buntu. Tak ada lagi
pilihan. Mengapa lagi-lagi kehidupan seolah tak memberinya pilihan. Mengapa
hanya dia yang seolah sebagai lakon utama seperti dalam sebuah serial drama.
Drama yang alurnya ajeg, sama sekali tak menyenangkan. Dilengkapi dengan cerita
satir yang hanya melatihnya menjadi manusia cengeng.
Lelah. Namun ia tak
kuasa untuk hanya melangkah mundur. Lelah, justru membuatnya tak lagi mengenal
kata ‘maaf’ untuk dirinya. Maaf untuk segala kekerdilan, keterbatasan, kekurangan
dan kegagalan. Lelah, membentuk dirinya menjadi manusia tangguh bak ksatria
yang tak mengenal kalah.
Jengah. Apalagi
yang harus diperbuatnya. Fikirnya tak jarang letih bersimpuh di hadapan
kebuntuan. Hatinya tak jarang terpekur di tengah kepiluan. Langkahnya, lagi dan
lagi terjebak di tengah kebingungan. Jengah dengan kedirian yang terlalu alot
untuk bermetamorfosa.
Ia tak lagi mampu
mengerti setiap tema dalam episode waktunya. Ia tak lagi ingin menuruti setiap
permintaan waktu yang menjadikannya lakon utama drama cengeng. Lancang, ia
bertanya apa mau si sutradara. Bosan dengan peran yang membuat seperti manusia
bodoh.
Sulit. Itu yang
selalu ditemukannya. Pada dirinya, pada sekitar, pada apapun. Ia terlalu sulit
menerima keputusan dirinya. Bahkan ia sulit mengakui kelebihan dirinya. Apalah
arti dirinya di dunia ini, jika bahagia saja sulit diraihnya.
Dalam setiap gelak
tawa, sesengguk tangis, dan sesimpul senyum, ia masih tak mampu memahami
mengapa semuanya masih sulit difahami sebagai sebuah rahasia kehidupan. Apalah
artinya sebuah tawa, bila tangis hatinya terdengar lebih menggema. Menggetarkan
dinding jiwa yang telah lama perih karena luka menganga. Pilu.
Tangis, itu
rutinitas yang paling sering. Senyum, hanya pemanis bibir. Tak pernah jujur. Ia
hanya keterpaksaan yang katanya sebagai benteng penguat agar tak rapuh dan
tumbang oleh peristiwa. Tragis. Lantas, bagaimana kehidupan ini kemudian akan
dilewatinya ? dan bagaimana pula ia berharap sesimpul senyum indah untuk
mengakhirnya?
Serak suara ini
bertutur kisah....
Kolong langit ini
pun hanya mampu mendesah
Di tengah rintik
mungil yang indah bersenandung
Maka biarlah
episode ini kuhias dengan mendung
Ladang Firdaus,
Rabiul Awal 1434 H
Di
penghujung malam 00.00

Akhirnya aku menemukan blogmu :p
BalasHapusouh..teteh ku,...
BalasHapus