Bukit Cahaya
Ruang itu kini sepi,
hening, kosong. Hanya nyanyian angin mengalun sendu meliuk-liukan ranting
kering dipematang sawah. Tidak ada lagi suara gaduh saling lempar gagasan, adu
argumentasi, riang tawa, bahkan sesengguk tangisan mengiringi maaf. Tidak ada.
Ruang putih itu hampa,
sehampa jiwa sosok-sosok manusianya kini. Ruang itu kini pengap, hanya
menyuguhkan debu-debu sejarah yang kelu bercerita tentang rekam jejak di
dalamnya. Beberapa buku meringkuk tragis di dalam lemari kayu reot. Entah
berapa lama buku-buku itu rindu sentuhan jiwa yang haus mereguk untaian kalimat
berbingkai hikmah. Ironis, mereka kian menguning dan lapuk. Mereka yang
sejatinya telaga penyejuk perjalanan yang kian memanas.
Ruang putih itu, dulu
hanyalah sepetak tanah penuh ilalang. Tak berarti apapun. Dulu, ia dibangun
dengan peluh dan do’a yang tak absen mengikuti ritual di sepertiga malam. Kini
ia berdiri kokoh sebagai bukti akan cinta dan kerinduan pada jejak perjuangan
dengan wangi debu yang dulu pernah membahana.
Ia berdiri di tengah sesak
kota yang terbingkai dosa. Ia berharap mampu menjadi mutiara di tengah-tengah
lumpur. Namun sayang, siapakah kini yang mampu mengkilaukan mutiara itu ?
Tangan-tangan yang dulu mengepal kuat dan gagah kini tertunduk menyanggah dagu
sembari merangkai angan-angan.
Ruang itu, merindukan tawa
kebahagiaan dalam kebersamaan ukhuwwah para pegiatnya. Ruang itu merindukan
untaian nasihat. Merindukan lisan-lisan yang meneriakan takbir. Merindukan
lisan-lisan yang lincah kala meracik gagasan. Ruang itu merindukan tangis kala
kehilangan. Ruang itu hanya mampu membisu, tak lelah bertanya kemana perginya
hati-hati yang merindukan bukit cahaya itu ?
Ya, kemana mereka? Apakah
tak ada lagi ikatan yang dulu terjalin kokoh? Apakah satu per satu hati-hati
itu mulai terlepas ? Ketika da’wah ini justru merindukan kebersamaan mereka,
mereka tidak lagi bergandengan tangan. Ah, tidak seperti itu. Tangan mereka
bergandengan, fisik mereka bersama, mata mereka bersitatap, hanya hati mereka
yang entah berada dimana.
Tak ada keluh meski peluh
tak jeda menderas. Ketika kita bersama-sama dulu, di bawah terik mentari,
ditemani deras hujan, tak letih bahu membahu membangun da’wah ini dengan cara
yang sangat sederhana, namun begitu indah. Ya, kenanglah semua itu dengan cara
yang indah, meski tak sedikit pula kita temukan titik-titik luka di dalamnya.
Jangan, jangan lepaskan
ikatan ini. Ikatan hati kita, ukhuwwah kita dan barisan kita. Di depan sana,
kelak kita yakini bersama cobaan dan fitnah dunia akan siap melahap kekuatan
iman kita, sedikit demi sedikit. Itu yang kita fahami di awal langkah kita.
Dulu sekali. Sayang, jika seiring berjalannya waktu, peristiwa dan realita yang
tak bersahabat, ingatan kita akan semua mimpi dan komitmen pun mulai bias.
Pudar. Dan akhirnya tak berwujud.
Kepal tangan mulai tak
kokoh. Pekik takbir makin hambar. Lisan tak lagi berbuahkan nasihat bermanfaat.
Apalah lagi warna kebersamaan ini. Untuk apa jua kita berbaris namun tak
sempurna. Tak sempurna tujuan, komitmen, dan jua tak sempurna mimpi kita. Mimpi
untuk membangun peradaban, untuk tersenyum di atas bukit cahaya bersama,
melambaikan tangan kepada mereka yang terpisah dari barisan. Karena kebersamaan
yang ada kini pun tak lebih dari sebuah rutinitas tanpa ruh.
Sungguh, aku rindu pada
zaman itu. Zaman ketika ukhuwwah berbuah nasihat, bukan cacian apalagi
menjatuhkan. Rindu pada zaman ketika ukhuwwah adalah segala-galanya. Yang dari
sana da’wah yang besar ini berbangun perlahan, kokoh dan megah. Aku rindu pada
hati-hati yang tak letih mengusap lembut hati saudaranya basah, meski mereka
pun tengah bergemuruh oleh beban yang semakin menggunung.
Sungguh aku rindu, ketika
takbir kembali menggetarkan ruang putih itu. Bukan hanya karena kekuatan iman,
namun juga ruh kebersamaan yang merindukan satu perkumpulan kelak di atas bukit
cahaya. Itulah yang kurindukan. Apakah mereka juga rindu ?
Rabb, sampaikan salamku pada mereka..... []
Taman
Firdaus, Rabiul Awal 1434 H
-Faqir Ilallah -

Komentar
Posting Komentar