Pasaran Akhirat


“Sebut nama Nya, dekat dengan Nya, pinta pada Nya. Segala perkara hidup dan cintamu indah pada waktunya. Takdirkan cinta atas restu Nya, atas pilihan Nya. Serahkan seluruh urusan cinta dan hidup hanya pada Allah.”
(soundtrack film “Cinta Suci Zahrana”)

Pertama kali mendengar lirik lagu “Cinta Suci Zahrana”, saya langsung mengiyakan bahwa benarlah isi lagu itu. Sebuah lagu zaman sekarang yang langka, dan sarat nasihat yang benar. Menegaskan bahwa hakikat kehidupan ini tidak terletak pada urusan cinta (manusia). Apalagi jika kemudian cinta itu disalurkan dengan cara yang salah. Cerita Zahrana mengajarkan keteguhan seorang perempuan shalihah yang tidak ingin menggadaikan imannya hanya karena kebutuhan akan cinta dari seorang laki-laki.
Bagi seorang perempuan yang mulai memasuki tangga usia yang semakin tinggi, memang kerap kali menimbulkan kegelisahan bagi orang-orang sekitar. Orang tua, kemudian tidak sedikit yang semakin menggaungkan suara provokasi untuk segera menutup masa lajang. Kegelisahan yang kemudian mempertaruhkan hakikat ibadah yang dituju, siapa saja yang datang, maka terimalah.
Menjaga idealisme di tengah tantangan realita memang tidak mudah. Mempertahankan keimanan di tengah fitnah dunia memang bagaikan memegang bara api. Iman dan godaan untuk menyerah senantiasa bertarung. Sejatinya, keimanan akan selalu menang, namun kadang nafsu manusia menutup jalan kemenangan itu. Akhirnya, tidak sedikit mereka yang mengikuti jalan dunia yang salah. Dan cerita Zahrana, menggambarkan profile seorang perempuan yang teguh dalam imannya meski cacian dan umpatan harus ditelannya.
Pernah suatu saat, seorang perempuan menikah dengan lima anak pernah berseloroh seperti ini,”Eh, masih lajang harus pinter jaga penampilan ntar nda laku lho...kalau saya nda masalah mau penampilan cuek atau gimana, saya mah udah laku, udah punya lima anak lagi...” Saya hanya tersenyum menanggapinya karena saya tahu, beliau hanya bercanda dengan perkataannya.
Namun, satu hal menarik disini. Tidak sedikit orang yang menganalogikan kata laku atau tidak laku untuk menggambarkan sosok lajang yang masih juga belum kunjung bertemu jodohnya. Tak jarang kemudian karena kesal, saya tanggapi dengan statement,” Emang jualan....pake laku atau nda laku...?”
Memang tidak bisa disamakan perkara menanti jodoh dengan “jualan” layaknya para penjual di pasar yang menanti untuk disambangi oleh pembeli. Bukan pula perkara murah atau mahalnya barang dagangan, atau menarik dan tidaknya barang yang diperjual belikan.
Tentu bukan seperti itu analoginya. Karena muslimah sejati juga bukanlah barang dagangan yang bisa sembarang ditawar dan dibeli. Ia dipilih dengan cara yang paling baik oleh lelaki yang terbaik pula. Dan ia mulia ketika ia tidak “pasang harga” yang tinggi dan menyusahkan agar proses menuju pernikahan pun barokah.
Perempuan yang diberkati Allah adalah perempuan yang ringan maharnya, begitu Rasulullah saw bertutur. Dan sangatlah rendah perempuan yang meminta mahar terlalu tinggi dengan alasan menguji kesungguhan sang calon suami. Begitulah cara Islam memuliakan posisi perempuan dalam soal pernikahan. Karena perempuan shalihah ia tidak pantas jika hanya dihargai dengan materi.
Kembali ke persoalan laku atau tidak laku. Ada dikalangan perempuan yang tidak ambil pusing ketika usianya terus mendekati angka darurat, namun belum juga bertemu jodohnya. Dan tidak sedikit pula dikalangan mereka yang mulai resah ketika pasca wisuda belum juga disodorkan secarik biodata. Dua sikap yang saya fikir menarik. Dua sikap yang bermula dari kesiapan dan kematangan seseorang dalam menatap kehidupan yang tidak selalu sejalan dengan keinginannya.
Dan keajaiban sering kita temui dihadapan kita. Mahasiswi yang masih sangat hijau, tiba-tiba menyodorkan secarik undangan walimah. Tidak menafikan pertanyaan yang langsung memberondong menyisakan ketakjuban yang mendalam. Pernah saya singgung dalam tulisan saya sebelumnya bertajuk ‘galau’ yang intinya ada sebuah pertanyaan yang menyudutkan satu pihak pertanyaan-pertanyaan yang bernada pesimistis.
Saya pribadi, mencoba memahami kenyataan ini pemikiran positif objektif. Bisa jadi memang mereka yang masih hijau telah dianggap layak dan siap untuk menerima amanah pernikahan oleh Allah. Atau mungkin itu cara Allah untuk mendewasakan pribadi seseorang. Bisa jadi mereka yang semakin lanjut dan belum juga bertemu pemilik tulang rusuknya, mungkin Allah ingin terus mendengar rintihan galau mereka dalam setiap doanya. Atau bisa jadi memang mereka belum terlampau siap menerima amanah pernikahan kendati usia telah melebihi angka 30.
Akhirnya, harus kita yakini kembali bahwa kehidupan ini penuh misteri dan hanya Allah yang mempunyai kuasa atas diri kita. Perkara jodoh, rizki dan mati bukan wewenang kita untuk mengaturnya. Tugas kita hanya berikhtiyar dan berdo’a. Dan tidak layak bagi seorang manusia yang beriman mempertanyakan keadilan Rabbnya.  
Berfikir positif akan takdir Nya itu yang paling baik. Yakin akan kebaikan dalam setiap kehendak Nya, itu harus. Dunia ini penuh fitnah, mungkin perempuan-perempuan itu terlalu mulia untuk setiap lelaki yang ada di dunia ini. Jika memang mereka tidak laku di dunia, mungkin memang pasaran mereka bukan pasaran dunia, melainkan pasaran akhirat yang jauh lebih baik dan mulia. []

Wallahu’alam.


Komentar

Postingan Populer