Kalah
Sinar merah
keemasan mulai menyingising di ujung garis laut. Perlahan bola emas raksasa itu
mengintip dunia di balik awan putih yang menggantung anggun. Beberapa bocah
pantai terlihat lugu menjajakan jasa perahu karet kepada setiap pengunjung. Meski
pantai itu tak lagi indah dan bersih, entah mengapa pantai itu masih saja ramai
oleh para pengunjung. Mungkin karena
memang pantai itu satu-satunya yang ada di kota ini.
Di salah satu sudut
pantai, Huda termenung menatap luasnya bentangan laut di hadapannya. Mushaf
kecil di tangannya masih terbuka. Matanya jeli mengeja satu demi satu kilasan
makna kehidupan dari setiap perilaku manusia yang berhamburan di setiap sudut
pantai.
Betapa Huda
menyadari, belum ada satu karya nyata yang dia berikan untuk negerinya. Untuk
anak ingusan yang masih menadah di jalan-jalan, untuk si renta yang semakin
membungkuk di bawah terik, atau untuk si gothik yang semakin agresif mencari
jati diri di jalan yang ‘gelap’.
Ia kini tertunduk
kalah. Tak ada gagasan yang memenuhi ruang fikirnya. Hanya lamunan tentang
cita-citanya yang terus menari-nari di dalam kepalanya. Ironisnya, mereka
seolah mentertawakan dirinya yang kini kian terjerembab dalam ketidakberdayaan.
Terlalu banyak
perintah dalam hidupnya yang tak selalu mampu dipenuhinya. Terlalu ruwet
skenario yang menghendaki dirinya menjadi pemain tetap dalam kilas pentas
kehidupan. Huda sadar akan kelemahan yang kian lama kian menggeroti gairah
hidupnya.
Guratan lembut yang
menghiasi tirus wajahnya, mengabarkan tentang slide yang tak indah di masa
lalu. Huda tertegun menatap ombak yang berdebur lembut di sisi pantai. Layaknya
ombak kehidupan yang mengakibatkan abrasi, begitulah alur sejarah yang kini
membuat Huda tak sanggup menatap langit biru. Betapa dirinya telah begitu lelah
bertarung dengan peristiwa-peristiwa sulit di masa lalu.
Dalam hitungan
waktu yang bergulir, Huda tak lagi berkeluh kesah dengan tantangan sulit yang
mungkin akan kembali menyapa. Jika dulu ia selalu jatuh oleh hantamannya yang keras,
kini ia cukup tersenyum menyapa peliknya masalah yang menyuguhkan penat. Namun
bukan senyum atas kemenangan, melainkan senyum kepasrahan dan kekalahan atas
upaya yang tak lagi prima.
Peran lama yang
kini disadarinya semakin tak lagi produktif, membuatnya tak lagi berfikir
linier tentang kehidupan. Idealisme yang dulu digenggamnya erat, perlahan tapi
pasti kini mulai menggendur. Nyaris ia lepaskan begitu saja semua yang telah
dibangunnya selama lebih dari tujuh perjalanan mimpinya.
Satu kesalahan yang
memaksanya mundur teratur dari pentas kehidupannya, karena ia telah gagal
mewariskan peran. Tak ada satu pun yang bersedia menjadi Huda-Huda berikutnya. Para
pemain itu telah mengambil sendiri peran-perannya. Mereka berebut alur yang
damai, lurus dan happy ending.
Huda tersenyum
kecut menatap mereka berlari kian kemari mengejar predikat yang lebih baik demi
mencukupi kebutuhan gizi atau mempersiapkan diri agar segera bersanding megah menuju
sakinah. Sedang dirinya....? Kalah. Tak ada yang diraihnya kini. Cita-citanya
semakin riang menari-nari di pelupuk matanya. Menunggu janji kapan akan mewujud
nyata.
Tangan-tangan
lembut yang dulu pernah membelai lembut wajahnya kini melambai-lambai menjauh. Ia
kini terpekur seorang diri menatap jalan panjang yang semakin gelap oleh kabut.
Tak ada satu pun hati yang tulus bersedia menuntun dirinya melewati jalan gelap
itu.
Huda telah
kehilangan banyak hal di seperempat perjalanan usianya. Langkahnya kian
terseok, tak mampu menantang hantaman angin yang menghempas kencang raganya. Kekalahan
demi kekalahan ia sambut dengan senyum getir.
Kekalahan akan
eksistensinya sebagai seorang Huda, yang terkubur oleh mimpi-mimpi panjangnya.
Kekalahan akan ketidakberartian dirinya. Kekalahan akan cintanya yang
meninggalkan luka tak kunjung kering. Kekalahan akan setiap momentum hidup yang
tak mampu disambutnya.
Ya, Huda kalah
telak. Ia hanya mampu mengutuki dirinya yang begitu bodoh dan lemah. Ia hanya
mampu tertunduk lemah di hamparan sajadah usangnya. Hanya mampu berbicara
dengan air matanya yang kian deras seiring menertawakan kekalahannya. []

Komentar
Posting Komentar