26 tahun
“Hari ini seperti jutaan elang berhenti
terbang tinggi. Termenung di puncak awan, lalu melantunkan pertanyaan sudah
terbang setinggi apakah aku? Lapisan langit keberapakah yang pernah kutembus ?
ataukah aku terhenyak ketika aku sadar bahwa aku tidak pernah terbang meninggi
? aku hanya berputar-putar dan tak pernah mengepakkan sayap untuk berkarya.
Semoga hari ini aku masih menjadi elang perkasa yang terus ingin meninggi dan
berkarya untuk hidup dan Tuhannya. Selamat Milad.”
(special present from Munif Chatib,
inspiring people)
Bismillah ...
Hari ini jejak
langkah kehidupanku kian mendaki. Tangga kehidupan semakin memaksaku untuk
terus melaju bersama proses kehidupan yang kian rumit. Lagi, pada detik ini,
senja ini, Allah karuniakan nikmat bernama kesempatan untuk tidak sekedar
berceloteh tentang mimpi, tentang angan-angan, namun untuk sebuah proses
kehidupan yang harus disikapi dengan dewasa dan arif.
26 tahun. Bilangan
itu kini menyempurnakan langkahku. Menjadi manusia diusia itu, sejatinya bukan
lagi menjadi manusia yang memikirkan kehidupan dengan cara yang sederhana. 26
tahun, meski bilangan itu tidak bisa dikatakan lagi muda, namun tidak bisa pula
dikatakan tua. Artinya, kematangan diri harus terus ditempa. Kedewasaan harus
terus dipupuk. Kemandirian harus terus diperjuangkan.
Di 26 tahun ini,
aku sadar belumlah mengerti banyak tentang kehidupan. Namun, untuk belajar
banyak tentang bagaimana esok kehidupan harus disikapi, sangatlah bodoh jika
perjalanan hingga seperempat abad kini terlalaikan begitu saja. Di belakang
sana, kuliah tentang kehidupan telah mengajarkan bertumpuk-tumpuk materi yang
tidak akan lekang meski waktu semakin menggeser episodenya.
Di belakang sana,
pelajaran tentang bagaimana tersenyum ditengah kecamuk jiwa pernah menjadi mata
kuliah unggulan untuk beberapa semester. Setelah itu, bagaimana bertahan di
atas kemandirian yang masih sulit, pernah pula aku tempuh, bahkan hingga kini
aku masih harus menyempurnakannya.
Ada satu mata
kuliah yang paling aku suka dan aku ingin terus mengikutinya. Mata kuliah itu
mengajarkan aku untuk khusyu’ dihadapan Nya dengan segenap penyerahan diri
ketika duka atau bahagia menghiasi halaman hati. Itulah saat yang paling
membuatku tak sanggup membiarkan air mataku tak tumpah.
Itulah saat yang
paling membuatku sadar, bahwa bersama Nya duka adalah hiasan kehidupan. Bersama
Nya aku yakin tak pernah ada jalan buntu. Bersama Nya aku yakin hidup ini akan
bergulir dengan adil, dan akan sangat adil. Bersama Nya pula aku sadar, untuk tidak
lalai dan angkuh ketika Ia berikan telaga di tengah gersangnya sahara
kehidupan. Itulah saat yang mengajarkanku tentang makna syukur.
Di 26 tahun ini, perjalanan
untuk terus menyempurnakan diri di hadapan Nya harus ditata ulang. Dengan
kesadaran penuh bahwa belum ada karya yang patut dibanggakan untuk diberikan
kepada mereka yang tidak pernah terputus do’anya. Dengan kesadaran penuh bahwa
diri ini harus terus belajar lebih baik dan lebih bijak dalam melangkah.
Di 26 tahun ini,
ungkapan terimakasih setulusnya ku sampaikan kepada setiap hati yang masih
menghadirkan namaku dalam setiap do’anya. Semoga Allah yang Maha Penyantun,
mengasihi kemurahan hati kalian dengan kasih yang lebih agung dan mulia.
Di 26 tahun ini,
aku akan lebih produktive. Bismillah.... []
Di penghujung senja
29 Agustus 2012
- Faqir Ilallah -

Komentar
Posting Komentar