Segenggam Asa di Akhir Sya'ban
Huda tertahan menahan sakit di kakinya. Perlahan, ia angkat motor yang menjebit kaki kirinya itu. Ada sedikit genangan air di sudut-sudut matanya yang tak mampu menyembunyikan kelelahan raga dan hatinya. Di perhatikannya orang-orang yang berusaha menolongnya, semuanya asing. Apalagi waktu yang sudah malam, membuatnya tak begitu jelas memperhatikan satu per satu dari mereka.
Seorang perempuan, memapahnya ke tepi jalan dengan hati-hati. Ia begitu khawatir dengan cedera kaki Huda. Untunglah, kostan Huda tidak jauh dari jalan dimana ia terjatuh. Seorang tetangga menyerahkan kunci motor, dan sebelum pergi ia sempat berpesan, jika sudah kelelahan jangan dipaksakan pergi. Ucapan terimakasih Huda sampaikan dengan penuh santun. Huda meyakinkan tetangganya bahwa dirinya baik-baik saja, tidak yang perlu dikhawatirkan.
Huda merebah di atas ranjangnya. Ia menarik nafas lembut. Di biarkannya kristal bening matanya merembes dari sudut-sudut matanya. Ransel hitamnya dibiarkan tergeletak di sampingnya. Ia tak mungkin bangkit lagi meneruskan niatnya untuk berdiskusi tentang indahnya merancang masa depan di syurga malam itu juga. Ia sadar, tidak mungkin dipaksakan. Bukan hanya raganya yang terluka, namun juga jiwanya. Beban yang kian menumpuk di atas pundaknya itulah yang membuat Huda tidak lagi sanggup menggenggam misinya.
Malam itu, dalam kesendiriannya, Huda tersadar akan sebuah kejujuran iman yang teramat mahal untuk digadaikan. Ya, tidak mungkin ia akan menggadaikannya dengan kebahagiaan atau kedukaan yang semu. Baginya, mutlak. Bahwa kebahagiaan atau kedukaan itu sejatinya memang indah kala da’wah menjadi ikrar abadi. Duka atau bahagia itu hanya karenanya, hanya untuknya. Tidak yang lain.
Kesadaran inilah yang tak selalu mampu dimengerti oleh orang-orang di sekelilingnya. Tidak ada yang mampu memahami perasaannya yang sepi, dingin, dan apatis. Perasaan yang tak lain karena keterikatannya pada sebuah janji yang terucap tiga tahun lalu. Ketika tangan kanannya gemetar, air matanya tumpah karena getaran yang teramat kuat merasuk kedalam aliran darahnya. Menjadikannya harus menjadi manusia yang tak hanya hidup untuk memejam mata damai, merebah tanpa beban, tetapi untuk sebuah perjuangan berat nan panjang, yang berujung pada satu muara, Syurga.
Huda, ia pendam seorang diri perasaannya yang dingin itu. Mengutarakannya, baginya hanya percuma, tak ada manfaat, hanya menjadikan orang sekedar tahu yang dirasakannya. Huda pun tidak mengerti, mengapa idealisme visi dan misinya menjelma dalam sikap dinginnya pada setiap pembicaraan yang bertema perasaan fitrah.
Ia datar, lurus, tak ingin berbelok arah. Baginya, kehidupan ini tidak perlu diharuskan melalui tema itu. Meski, ia pun tak mengingkari hal itu pernah mampir mengetuk dinding hatinya untuk kemudian masuk menjadi sebuah harapan. Ya, harapan. Huda pernah memiliki harapan untuk itu. Namun, berkali-kali harapan itu menghadapkannya pada sebuah persimpangan pilihan, teruskan atau mundur teratur.
Bukanlah ringan baginya memutuskan pilihan. Namun, Huda pun tidak ingin idealismenya terbiaskan oleh sebuah harapan yang pintunya mulai sedikit terbuka. Huda hanya tidak yakin, karenanya ia mundur teratur. Huda hanya yakin, jalan yang ia cari adalah akan ia dapati di atas kekuatan idealismenya sebagai pecinta syurga. Ya, harapannya adalah untuk bertemu dengan panglima syurga yang akan mengantarkannya bertemu Rabbnya kelak di tempat yang paling indah.
*****
Sya’ban ini, Sya’ban ketiga Huda. Tahun ketiga baginya untuk menikmati kesempurnaan penghambaan di atas keteguhan janjinya. Sya’ban ini pintu itu kembali sedikit terbuka. Namun, sekali lagi Huda mundur. Ia tak menutupnya. Tetapi bukan berarti ia pun akan meneruskan langkahnya memasuki dimensi waktu di balik pintu itu. Tak ingin sebenarnya Huda mundur untuk yang kesekian kali. Namun hantaman idealisme dalam dirinya mengharuskan ia berfikir tidak hanya tentang dirinya, tetapi juga bagaimana kemudian ia mampu menciptakan harmoni kehidupan yang indah, seimbang, tidak ada yang tersakiti, semua berjalan beriringan tidak ada yang merasa pincang.
Huda tertunduk dalam ketidakmampuannya mendobrak dinding-dinding keterbatasan dirinya. Mimpi-mimpinya seakan menguap, terbang bersama hembusan angin yang meliuk-liukan ranting kering. Dalam kesendiriannya, ia tersenyum simpul. Layaknya ranting kering itu, ia berpasrah pada angin yang akan menghempaskannya menjadi sampah dahan yang masih tetap bermanfaat.
Ia menatap ke dalam dirinya. Sejatinya, ada sakinah yang ingin digenggam oleh hati yang dingin di tengah kesendiriannya. Tidak, ia bahkan tidak sendiri. Ia bersama Pemiliknya. Itu yang diyakininya. Itu yang membuatnya tegar disaat yang lain terhempas, tetap teguh disaat yang lain terjatuh. Huda telah berdiri di atas kekuatannya yang paling kokoh.
Sya’ban ini pun mulai mendekati masa akhirnya. Senja terakhir sya’ban kali ini menyemburatkan berjuta makna keagungan Tuhan yang tak terhingga. Menggulirkan satu waktu yang dimensinya seolah membawa jiwa-jiwa manusia menuju sebuah tempat tertinggi disisi Nya. Sebuah tempat yang keindahannya tak mampu tervisualisasi oleh akal manusia, yang sungai-sungai di dalamnya tak mampu diraba kesejukannya, tak mampu digambarkan kejernihannya.
Dimensi waktu itu hanya sebentar. Namun ia memiliki kekhususan yang tidak didapati di dalam dimensi waktu selainnya. Menikmati kekhususan itu, Huda bertekad untuk menenggelamkan dirinya ke dalam peribadahan yang utuh. Ia tak ingin mendengarkan suara gaduh dalam ruang hatinya yang senantiasa mengacaukan konsentrasinya kala menikmati waktunya berdua dengan Tuhan, berbicara dari hati ke hati.
Tidak ada yang ia minta dalam kesendiriannya bersama Tuhan, kecuali sebuah harapan yang ia minta dengan khusyu’ . Ya, hanya satu harapan. Huda hanya berharap jiwanya kembali dengan kesempurnaan iman dan Islamnya yang utuh. Ketika hatinya penuh oleh cinta dan asa akan perjumpaan dengan Nya. Ketika pintu-pintu langit terbuka menyambut kepulangan jiwanya. Ketika beban-beban di atas pundaknya menguap berganti suka cita yang tiada terkira. Hanya itu harapannya.
Di titik kontemplasinya, Huda selalu tak mampu menyembunyikan kelemahan kepal tangannya. Ia hanya mampu tertunduk lesu. Hatinya yang basah hanya meminta sebuah harap akan hadirnya kekuatan yang akan mampu melepaskan segala belenggu keterbatasan yang senantiasa menjadi narasi waktunya. Dan untuk satu harapan itu, Huda bersetia di atas langkah yang telah dipilihnya kini.
Huda menilik sejenak langkah di beberapa waktu lalu. Betapa ia telah melempar jauh-jauh segenggam asa yang dulu dipegang teguhnya. Huda pun menarik mundur langkahnya. Segenggam asa yang tak mampu diingkarinya bahwa ia adalah sebuah harapan yang kerap ia bisikan dikala berdua dengan Tuhannya. Hantaman realita kemudian membiaskannya, benarkah itu adalah harapannya? Seketika Huda tak meyakininya bahwa itu adalah jalan menuju mimpinya.
Huda, ia terjatuh oleh obsesi idealismenya. Ia tersadar, dirinya tidaklah sanggup mendobrak seorang diri segala bentuk keterbatasan yang bernama arogansi. Ia akan kalah. Itulah yang ditakutkannya. Itulah yang membuatnya mundur, dan melempar jauh asa yang tengah digenggamnya. Tak ada gunanya bermimpi untuk menggenggamnya saat ini atau nanti. Utopia. Kata itu membubarkan semua rancangan masa depannya. Ia bagaikan godam raksasa yang menghancurkan dengan sehalus-halusnya bata demi bata yang tengah dikumpulkannya. Pasrah. Hanya itu yang Huda lakukan diakhirnya.
Huda terdiam sesaat kala ia mengepalkan tangannya. Jika saja ia mampu mengepal lebih kokoh. Kepalnya yang kini kian melemah, tak mampu lagi membawa dirinya menembus batas-batas kelemahannya. Hatinya yang dingin kini mulai menggiring dirinya pada sebuah hakikat eksistensi di masa depan. Ya, masa ketika dirinya tak lagi menitikan bening syahdu dari dalam hatinya.
Untuk sebuah makna itu, Huda hanya menggenggam janji yang tak akan pernah mungkin teringkari. Janji yang selalu disaksikannya menjelma disamping kanan dan kirinya, dan ia tak pernah kecewa dengan janji itu. Karena, siapa yang lebih menepati janjinya selain Dia? Huda pun tak lagi bersusah untuk mendamaikan diri kala merebah. Karena ia telah menggenggam hakikat asa yang paling indah.
Huda tak lagi sendiri meski dalam kesendiriannya di tengah malam atau di bawah terik siang. Baginya, cukup cinta Nya yang membuatnya tak lagi membutuhkan keberadaan cinta-cinta yang tak jarang hanya ucapan. Huda, hatinya tak lagi basah oleh keputus asaan. Ia tak menangisi kesendiriaanya, tetapi ia justru menjadikannya sebagai sebuah wejangan terindah dari Nya.
Biarlah kesendirian menjadi penyemangatnya untuk menjadi istimewa di hadapan Nya. Sampai suatu saat nanti Huda serahkan sekeping hati yang penuh oleh cinta kepada Nya, dalam kesendirian. []

Komentar
Posting Komentar