Menggapai Langit Mimpi


Gerimis kecil memecah keheningan malam itu. Rintik mungilnya berdenting mengetuk lembut genting-genting rumah. Dingin yang menyelimuti semakin menambah suasana hening. Tak satu pun suara manusia terdengar dari dalam rumah mereka masing-masing. Selimut semakin kuat ditarik membungkus tubuh-tubuh yang terbujur lelah seharian.
Malam itu, keheningannya memaksa Huda terjaga dari tidurnya. Bukan karena gemericik air yang bersenandung di atas genting. Namun karena mimpi yang membuatnya tak nyaman meneruskan tidurnya. Di tengah diamnya, Huda menghela nafas dalam. Di tatapnya gerimis dari jendela kamarnya. Nampaknya ia semakin riuh. Subhanallah, begitu agung Tuhan yang mengajarkan manusia bagaimana berdzikir dengan belajar dari air.
Di pertengahan  malam itu, bukan sebuah kebetulan Huda terbangun. Ada satu hal penting yang harus dilakukannya. Dinginnya malam tak membuatnya urung membasuh diri untuk berhikmat menghadap Tuhan. Syahdu. Tak ada satu pun orang yang mengetahui kesyahduan dan kemesraan dirinya berdua dengan Tuhan Penggenggam jiwanya. Berteman riuhnya senandung hujan malam itu, Huda berdiri menghadap penuh khusyu’ , betapa dirinya tak berarti di hadapan Nya.
Menikmati kesyahduan ini, Huda semakin larut dalam kemesraan bersama Nya. Malam itu, ia begitu manja kepada Tuhan. Ia merengek dengan segala permintaan dan tak urung berhenti meminta kecuali satu per satu dari permintaan berbuah bukti dalam pemaknaan Nya. Dalam rintihnya sebait harap menyeruak membungkam riuhnya hujan, “Duhai Rabbku, aku sedang berfikir tentang akhir waktuku nanti. Akankah malaikat Mu menjemputku dari samping kanan atau kiriku? Akankah kudapati khusnul penuh rahmat atau su’ul penuh laknat? Akankah aku berteman dengan seorang yang berwajah menawan di alam kuburku atau teman yang berwajah buruk dan menakutkan? Ya Rabb, ampunilah hamba, tunjukilah hamba pada segala yang membuat Engkau ridho’ kepadaku. Hingga Kau tetapkan keputusan Mu untukku memasuki taman Firdaus Mu dengan penuh rahmat yang tiada akan pernah terputus.”
Larutlah Huda dalam rintihannya. Tumpahlah segala beban dan sesak yang berjejalan di dalam jiwanya. Ya, sesak yang sedari kemarin membuatnya tak mampu menyimpulkan senyum, tak sanggup menatap tajam jalan masa depannya. Hanya mampu tertunduk oleh beban yang begitu kuat berdesak mencari tempat di dalam ruang hatinya. Melemahkan sendi-sendinya, membuat langkahnya tak lagi optimis melaju di atas kepayahan yang ada.
Semangatnya pun kini mulai terbit dari ufuk hatinya. Bersama dengan riangnya kicauan burung dan sapaan fajar yang menghangatkan pagi itu. Ia kini memiliki keberanian untuk bermimpi. Tak ingin berlarut-larut dalam ratapan diri di bawah tekanan keterbatasannya, Huda tak ragu meracik mimpi-mimpi agar kelak menjadi sebuah keniscayaan.
Dengan sisa tenaga yang ada, Huda mencoba kembali mengepalkan semangatnya agar tak lagi-lagi terlepas, lari menghempas bahagia di tengah sahara harapan. Bukan karena jejak eksistensinya yang kian melemah, bukan pula karena tak ingin mengukir mimpi-mimpinya, namun ia hanya telah lama mengubur semuanya. Dan semuanya itu, tak mudah kembali diwujudkan, kecuali dengan kekuatan yang tidak kecil.
*****
Senja ini, waktu baru yang menyuguhkan cerita baru. Kali kedua, ia menyuguhkan wajahnya yang redup. Mungkin karena pancaroba yang kian tarik menarik, wajah alam disetiap awal senja pun turut tak menentu. Senja berganti senja yang lain, serasa ada yang tak biasa ketika ia mulai mengetuk waktunya untuk hadir. Nuansa yang belum pernah Huda rasakan sebelumnya, akhir-akhir ini ia begitu kuat hadir di ruang-ruang senjanya yang seharusnya damai dan tenang. Senjanya kini lebih menyeruakkan nuansanya yang melankolis.
Huda tak ingin larut pula dalam kebuntuannya merancang strategi merancang mimpinya. Perlu sedikit radikal agaknya, agar langkahnya tidak ragu. Tapi, mampukah Huda? Ada yang menyeka langkahnya. Tapi apakah gerangan itu? Sangat sulit diraba. Bukanlah pekerjaan yang mudah memecahkan misteri itu. Langkah radikal hanya akan kembali membuatnya terjatuh dan membungkam nafasnya untuk melangkah dalam keteguhannya.
Tidak, Huda tak ingin gegabah. Ia harus tenang. Begitu nuraninya berbicara. Namun, bagaimana semuanya diraih hanya dengan diam dan menunggu datangnya keajaiban. Sebentar, Huda termenung. Ia kembali bertanya pada dasar hatinya. Apa yang sebenarnya ia inginkan? Kebahagiaan dalam wujud apa yang rindu dikecapnya? Kedamaian dalam makna seperti apa yang dicarinya? Harmoni seperti apakah yang kerap hadir di alam  mimpinya?
Fikirannya berputar-putar mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu. Buntu. Lagi-lagi tak ada jawaban yang pasti. Dipandanginya langit senja yang mulai menyemburatkan warna lembayung. Mimpinya ada di sana, di langit yang indah itu. Di hamparan kedamaian warna lembayungnya, di sanalah kedamaian itu. Di tengah arak-arakan awannya yang anggun, di sanalah harmoni itu bersenandung tentang lagu kedamaian yang menghantarkan pada kebahagiaan.
Tetapi, bagaimana caranya ia menggapai langit mimpinya? Ia terlalu tinggi untuk digapai. Huda teringat akan do’anya dalam keheningan malam kemarin. Hanya itulah yang mampu mengantarkannya pada hamparan keindahan alam mimpinya. Mimpi yang tak sekedar mimpi, namun ia adalah cita-cita panjang yang akan membawanya pada sebuah janji yang tak akan mungkin teringkari.
Huda kembali dihantam berbagai pertanyaan. Lantas, apa yang harus dilakukannya kini? Dan kapankah waktunya janji itu datang, atau berapa lama kiranya ia harus menunggu hingga ia dapat bermain dihamparan keindahan taman yang senantiasa terbayang di alam fikirnya?
Huda tak kuasa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Keringat dingin membasahi wajahnya yang makin kuyu. Tangannya gemetar, raganya melemah. Tentang pertanyaan-pertanyaan itu, sejatinya tidaklah sulit dijawab. Huda, ia hanya tengah menunggu waktu. Namun, masa menunggu yang tidak terjawab sampai kapan itulah yang telah membuat dirinya tak mampu lagi menjejak dalam ketegaran.
Senja telah menggulir waktunya berganti malam. Permulaan malam yang damai. Kembali gerimis berdenting, menyenandungkan satu lagu yang iramanya melankolis. Butir-butir rintiknya seolah mengajak Huda turut menyenandungkan satu lagu tentang kedamaian dari dalam hatinya. Gerimis ini, melayangkan ingatannya pada satu sosok yang dirindunya, ayah.
Entah mengapa, ia selalu mengingatnya tatkala dalam kesyahduan hatinya. Dalam ruang kesendiriannya. Dalam ketidakmampuannya menjawab segala pertanyaan tentang masa depannya. Tatkala mengingatnya, seolah ayah yang tak akan mungkin hadir disampingnya, mampu membawanya pada suatu keadaan yang penuh harmoni. Damai, tak ada penat yang mengerutkan dahi, tak ada peluh yang menyibak lelah, dan tak ada desah sesal dipenghujung senja.
Ada kerinduan yang ingin Huda sampaikan kepada sosok ayah. Sejatinya, Huda merindukan makna yang tak mampu diungkapkannya. Tentang sosok ayah yang mampu menguatkan misinya, menggenggam jemarinya dengan untaian nasihat, menyeka bening kristal matanya, menepuk pundaknya agar tak layu membawa mimpinya. Betapa ia merasakan kehilangan yang begitu dalam. Ayah, yang bahkan tak ditemuinya di saat-saat terakhirnya. Ia tak dapati dirinya mencium kening keriputnya untuk yang terakhir. Huda terisak, tangisnya memecah keheningan malam itu.
“Huuuft,” Huda menarik nafas dalam. Tak mungkin ia bermimpi dalam diam tak berujung. Ia langkahkan kakinya menuju ruang lain di salah satu ruang rumahnya. Langkahnya tak terdengar, berbungkam oleh dentingan gerimis. Huda terhenti. Di tatapnya satu sosok yang tak terdengar lagi suaranya sejak kepergian ayah sepuluh tahun yang lalu. Hanya tatapan mata dan anggukan kepala sebagai pertanda ia berbicara pada Huda.
Huda masih terdiam menatap perempuan terkasihnya itu. Dentingan gerimis semakin riuh meramaikan kebisuan diantara mereka. Dan sang bunda, bibirnya terus bergerak melafazkan dzikir dan jemarinya tak henti menghitung butiran tasbih, namun, tatapannya kosong menatap gerimis dari kursi rodanya. Ya, Bunda harus berjalan dengan kursi roda sejak dokter menvonisnya atas ginjal kronis.
“Bunda,” Huda berucap pelan. Sesaat bunda tersentak. Namun ia tetap menatap kosong gerimis. Huda mengepalkan tangannya. Disebutnya kembali panggilan penuh cinta itu,”Bunda,” kali ini agak terdengar keras. Bunda tetap tak bergeming. Huda mendekat, selangkah demi selangkah, sampai ia tepat berdiri di samping bunda.
Huda merunduk pelan. Digenggamnya jemari Bunda yang dingin. Terserak Huda berkata,” Bunda, sampai kapan kebisuan ini menjadi narasi? Tidakkah kau merasakan kerinduan anakmu ini menatap gurat senyummu yang menawan? Tidakkah kau tahu hancurnya hati anakmu ini melihatmu dalam kesendirian beribu bahasa? Bunda, maafkan Huda yang tak seperti yang kau inginkan. Jika kebisuan ini Bunda maksudkan agar Huda menjadi Huda yang dulu, Bunda keliru. Huda tidak akan kembali kepada masa lalu. Huda mencintai jalan ini. Huda tidak akan pernah berpaling dari jalan yang telah mengenalkan Huda kepada Tuhan, mengajarkan Huda bagaimana mencintai akhirat, menggiring langkah Huda kepada satu hakikat kehidupan yang bukan untuk sekedar bersenang-senang.“
“Bunda, jalan ini telah membuat Huda mencintai Bunda dan Ayah. Tidakkah Bunda bangga ketika anakmu berada di atas jalan kebenaran ?” Huda terdiam. Ditatapnya mata Bunda yang tak pernah lagi menatap Huda. Terlihat genangan air di matanya siap membanjiri wajah keriputnya.
“Dimana kamu saat ayahmu pergi?” pertanyaan itu menghentak Huda, membuatnya terperangah. Bunda berucap. “Aku tidak mendapati cinta yang kamu maksud. BOHONG !!!! tidakkah kamu ingat, berapa kali kamu menentang keinginanku dan ayahmu? Kamu telah menentang nasihat ayahmu, kamu lebih memilih orang-orang yang mengaku dirinya bersih. Kamu telah menentang aturan keluarga besar. Mereka, anak-anak jalanan, pengemis jalanan, dan orang-orang yang tak sederajat dengan keluarga kita, lebih kamu bela, sampai-sampai kamu rela mendekam dipenjara saat ayahmu meregang nyawa demi kau kenyangkan isi perut mereka. Apa itu yang disebut jalan kebenaran !!!!! Bunda menatap Huda dengan tatapan yang tajam dan penuh kebencian. 
Oh, tidak ! Inikah Bunda setelah selama sepuluh tahun menghukumnya dengan kebisuan yang amat menyesakkan dadanya ? “ Bunda, maafkan Huda.” Huda menggengam erat tangan Bunda. Keheningan kembali menyelimuti mereka. Hanya tangis mereka yang saling bersautan. Bunda pun terisak dalam tangis kedukaan mengenang mendiang suaminya. 
bersambung ....

Komentar

Postingan Populer