Ayah, Antarkan Aku Menuju Gerbang itu....(gerbang ke 4)

Menjadi Suami dan Ayah Luar Biasa

“ Sebaik-baik kamu adalah yang paling baik  kepada keluarganya. Dan akulah yang terbaik kepada keluargaku.”(HR. Tirmidzi)
Sebagai seorang perempuan, tentu sangat mengharapkan keberadaan suami yang senantiasa berada di depan menunjuki langkah menuju syurga Nya. Karena memang itulah tujuan paling akhir dari sebuah syarikat pernikahan. Qawwam, ia adalah  teladan dalam kebaikan, teladan dalam mengajarkan diin yang hanif. Sebuah kesempurnaan peran yang (mungkin) berlebihan, namun saya fikir begitulah seharusnya rumah tangga dipimpin.
Sebelumnya, memang untuk bisa dipimpin oleh qawwam yang mengetahui jalan Rabbnya, maka perlu diseksamai diri kita sebagai perempuan. Setajam apa kilauan iman kita, sehingga kita layak dipimpin oleh qawwam yang kilauan iman dan akhlaqnya juga mampu mengilaukan iman dan akhlaq kita. Allah, Yang Maha Adil mengutarakan tentang hal ini dalam surat- Nya :
“ Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan uang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik pula. Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (syurga).” Q.S An Nuur : 26
Indah sekali ayat di atas berbicara. Sebuah prinsip keseimbangan yang menyuguhkan harmoni kehidupan dalam sebuah dimensi waktu yang disana tidak hanya ada cerita tentang bahagia, namun juga tentang kerja besar mendidik generasi penerus. Ketika prinsip itu pincang, maka akan pincang pula tatanan kehidupan di dalam rumahnya. Itulah, mengapa memang perlu difikirkan untuk mendapatkan pasangan yang sekufu, satu pemikiran, juga satu visi misi.
Kita bisa bayangkan apa yang mungkin akan terjadi manakala sebuah rumah dipimpin oleh ayah dan ibu yang berbeda pemikiran. Sang ayah ingin mengarahkan anaknya untuk belajar di pesantren sedangkan sang ibu ingin anaknya belajar tentang seni. Hal ini tentu akan sangat menyusahkan sang anak. Maka dari itu, kesatuan visi misi dalam membentuk keluarga visioner ini mutlak perlu. Tidak lagi dengan dalih wis kadung cinta maka ikhwal tentang kualitas pribadi (ruhiyah dan intelektual) diabaikan.
Kembali kepada hakikat yang Allah swt sampaikan dalam surat Nya di atas, bahwa kualitas pribadi kita akan tercerminkan pada orang yang akan mendampingi kita. Teringat sebuah artikel sederhana namun cukup ‘menampar’ kesadaran diri. Di dalam artikel itu disebutkan tentang hakikat diri kita. Bayangkan jika kita dipertemukan dengan orang semacam diri kita, bersediakah kita menikah dengannya? Jawabannya bisa Anda jawab di dalam hati Anda masing-masing.
Baik, kembali kepada judul awal. Menjadi suami dan ayah luar biasa, ini adalah mimpi para istri dan anak-anak. Dari judul ini, saya secara pribadi ingin meminta kepada para suami dan para ayah untuk peduli kepada pelipur hati di dalam rumahnya, istri dan anak-anaknya. Mereka adalah satu hati yang diikat oleh pertalian darah, yang darinya mengalir cinta, kasih dan sayang, kemudian perasaan-perasaan itu menghendaki adanya penguat dan penjaga agar semakin mengakar kokoh menguatkan bangunan cinta yang menaungi mereka.
Ringkasnya, perasaan-perasaan itu perlu dipupuk. Seorang suami, ketika ia menikahi perempuan yang menjadi istrinya, maka seperti yang Rasulullah saw pesankan setelah haji Wada’, jagalah keutuhannya (raganya, jiwanya dan juga perasaannya). Karena seorang istri, ia tidak memiliki siapa pun kecuali suaminya setelah ia ‘diambil’ dari keluarganya. Maka, Islam menghendaki agar mereka dimuliakan pula di dalam rumah suaminya. Sebagaimana Rasulullah saw sabdakan bahwa sebaik-baik laki-laki adalah yang paling berlemah-lembut kepada keluarganya, dan Rasulullah saw telah mencontohkan dengan sebaik-baik contoh dalam keluarga beliau.
Kita tentu sering mendengar bagaimana beliau memuliakan istri-istrinya. Satu per satu dari urusan mereka tidak ada yang tidak beliau perhatikan. Tidak jarang Rasulullah saw menjahit bajunya yang robek, tanpa harus meminta salah satu istrinya untuk melakukannya. Rasulullah saw juga begitu menjaga perasaan istri-istrinya, ketika terjadi kecemburuan di antara mereka. Masih ingatkah kita kisah tentang madu Zainab? Kisah yang begitu membuat ‘Aisyah terbakar cemburu yang membabi buta sehingga memprovokasi istri-istri yang lain untuk bersama-sama memusuhi lebah. Konspirasi yang kemudian membuat Rasulullah saw bertindak ‘menyalahi’ hukum Allah. Ya, peristiwa itu memaksa lisan mulianya mengharamkan madu. Kisah ini kemudian direkam dalam ayat pertama surat At Tahrim.

Harapan Istri Akan Suami Teladan
Menjadi suami dan ayah luar biasa, saya sebagai perempuan sadar itu merupakan mimpi yang terlampau melangit. Karena pada kenyataanya memang sedikit sosok suami dan ayah yang luar biasa. Secara implisit, ada makna penuntutan untuk menjadi sempurna. Namun sejatinya, saya menghendaki ada keseimbangan peran dari seorang suami dan ayah di dalam rumahnya.
Sebuah note sederhana, pernah saya munculkan di salah satu situs jejaring sosial. Postingan yang direspon baik oleh beberapa orang, diantara yang terbanyak adalah laki-laki. Note sederhana itu saya beri judul Ketika Perempuan Mengambil Peran. Nyaris dari respon komentar mereka adalah mementahkan. Adapula yang merespon datar, namun ada pula yang sangat mendukung, dan tentu barisan pendukung ini adalah perempuan.
Note itu hanya menceritakan tentang sebuah harapan akan toleransi dan bahu membahu antara suami istri. Fokus perhatian yang saya sampaikan dalam note itu adalah tentang multi peran seorang perempuan (istri). Memang, terlalu idealis harapan itu saya sampaikan. Harapan seorang perempuan yang masih dalam kategori calon istri dan juga calon ibu. Namun, berangkat dari harapan ini, saya optimis pada sebuah bi’ah shalihah yang merupakan tujuan dari diikrarkannya mitsaqon ghalidzon. Harapan yang kelak mengejawantah dalam satu kesamaan langkah.
 Seorang perempuan, yang ia adalah tiang peradaban, memiliki kewajiban untuk menshalihahkan dirinya dan juga perempuan-perempuan di sekelilingnya. Kewajiban ini tentu bukanlah tugas yang mudah. Ia membutuhkan kekuatan lain yang mendukung dan memotivasinya, karena ini bukanlah satu-satunya kewajiban yang ada di atas pundaknya. Kewajiban yang sama pentingnya adalah mendidik anak-anak yang diamanahkan kepadanya. Perempuan sebagai seorang ibu adalah guru dan teladan pertama bagi anak-anaknya di dalam rumahnya.
Dengan multi peran ini, tidak sedikit di antara mereka yang kemudian memangkas salah satunya. Namun tidak sedikit pula yang mampu menjalankan peran-perannya. Saya melihat ini bukan soal mampu atau tidak. Bukan tentang baik atau buruknya management si istri. Saya melihat, dari bukti lapangan yang ada, adalah konsep kerjasama yang ditumbuhkan antara mereka dan para suami.
Ini bukan tentang gender. Ini tentang bagaimana hak dan kewajiban diseimbangkan. Suami istri yang berkomitmen mewujudkan cita-cita peradabannya, perlu kiranya menyepakati kerja-kerja yang akan dilakukan. Kemudian dari sana disusun langkah kerja sama seperti apa yang akan dilakukan. Stressing point saya dalam hal ini adalah bagaimana keduanya menyepakati kerja sama di dalam domain utama mereka, rumah. Yang di dalamnya, ada urusan tentang anak, ada urusan tentang management rumah, juga beberapa urusan yang saling berhubungan satu sama lain.
Multi peran seorang perempuan yang lajang, mungkin tidak begitu memberi efek pada orang-orang di sekitarnya, namun bagi perempuan menikah tentu hal ini akan menimbulkan efek, bisa positif atau negatif. Dan hal ini tergantung pada kondisi di dalam rumahnya. Sekali lagi, saya berfikir ini bukan tentang mampu atau tidak, namun lebih pada persoalan support, kerjasama dan juga yang paling penting adalah pemahaman serta pengertian satu sama lain.
Dan ini sekali lagi bukan tentang gender. Maka bukan sesuatu yang melanggar batas syar’i ketika seorang suami menyingsingkan lengan bajunya memberesi pekerjaan rumah tangga. Bukan mengambil alih, atau bahkan bertukar kerja, namun membagi tugas atau beban pekerjaan istri yang tidak ada masa cutinya. Saya begitu mengapresiasi para ikhwan yang begitu ringan tangan membantu pekerjaan rumah tangga. Betapa saya yakin dalam hati mereka terhadap pemahaman akan kewajiban yang harus ditunaikan istrinya, domestik juga di luar rumahnya.
Ketika lingkungan seperti ini dikembangkan dengan bekal pemahaman, pengertian, dan juga senantiasa memupuk rasa empati, maka saya yakin pekerjaan membangun peradaban akan terwujud dengan seimbang, sehingga hasilnya pun akan memenuhi harapan di awal mimpi itu ditancapkan. Istri tidak akan merasa berat sebelah dalam menunaikan kewajiban-kewajibannya, karena ada suami yang siap membantunya, siap berbagi beban, siap bertukar gagasan, dan selalu memaafkan kekurangan satu sama lain. Di dalam rumah peradaban, cinta itu mengejawantah dengan ta’awun atas tugas da’wah, tugas membangun peradaban, tugas menyengatkan nilai-nilai kehanifan Islam, bukan dalam cinta fardhiyah yang membungkam suara peradaban dan meredupkan binar mercusuar kebaikan pada sekitarnya.

Mendamba Secarik Cinta dalam Dekapan Ayah
Buku ini, saya sisipkan judul ‘Ayah, antarkan aku menuju gerbang itu… .’ Makna yang ingin saya sampaikan dalam judul itu adalah untuk para ayah agar menghadirkan kesejukan cinta di tengah-tengah keringnya telaga hati anak-anak. Saya tidak sedang menghakimi para ayah, namun sebagai seorang anak, saya mengharapkan ayah yang mampu menyengatkan cintanya ke dalam hati anak-anaknya. Sebagaimana kita tahu, ayah memiliki pengaruh tersendiri terhadap perkembangan karakter anak.
Jika ibu mampu menghadirkan kasih sayang, kelemah lembutan, sentuhan yang menguatkan, serta hati yang siap berbagi ruang, maka ayah sejatinya ia mampu menghadirkan kekuatan ruhiyah pada diri anak. Sentuhannya adalah penyemangat, kata-katanya adalah mantra yang mengubah segala kemustahilan. Dekapannya menyempurnakan tekad, menutup retak di sisi jiwanya yang tergesek oleh dunianya.
Setiap anak, mendamba kenyamanan berada di samping ayahnya. Setiap anak mengharapkan ayah berperan selayaknya teman sejati yang siap berbagi. Akan sangat luar biasa, ketika ayah, menempatkan perannya dan menyumbangkan pemikirannya terhadap permasalahan yang dihadapi sang anak. Tidak ada rasa takut atau segan ketika anak ingin mengutarakan isi hatinya. Hubungan yang mengakrabkan satu sama lain, pada hakikatnya dimulai dari sikap bijak sang ayah yang mencairkan suasana di dalam rumah, tidak menegangkan, sehingga sang anak merasa memang sedang bersama ayahnya, bukan dengan pak satman yang senantiasa penuh interogasi.
Komunikasi, itu yang saya harapkan. Bagaimana kemudian hal ini dapat terbangun secara sempurna dalam membangun kepribadian anak. Komunikasi membuka pintu-pintu keakraban yang selama ini mungkin tertutup diantara keduanya. Komunikasi antara anak dengan ayahnya, secara psikologis, ia membangun setapak demi setapak kekuatan jiwanya. Bagi seorang anak laki-laki, keakraban berbicara dengan sang ayah akan mampu membangkitkan semangat dan percaya diri yang luar biasa. Karena memang, secara psikologis, anak laki-laki membutuhkan figur penegas kepribadian dan prinsipnya. Dan seorang anak laki-laki akan semakin sempurna proses pematangannya menjadi laki-laki sejati manakala ia mendapatkan sentuhan pendidikan ayah.
Sedangkan kedekatannya dengan ibu, bagi anak laki-laki adalah penyemangat untuk menjadi ksatria sejati, karena ia harus menjadikan dirinya tangguh sehingga ia mampu menjaga perempuan yang melahirkannya. Di atas pundak ibunya, mereka mencari ketentraman ruhiyahnya yang terlalu keras bertarung dengan kehidupannya. Sehingga dari sini, mereka akan selalu dapat mencharge semangatnya, ditambah kata-kata ibu yang cenderung bijak dan menyejukkan.
Seorang ayah yang turut hadir dalam proses pengasuhan anak (laki-laki) ketika balita, secara kejiwaan akan membentuk sang anak lebih memiliki rasa empati, kehangatan, dan jiwa sosial yang baik. Sentuhan tangan kekar ayah yang mengelus lembut kepala anak perempuannya, ia mampu menghadirkan keberanian pada pribadi lembut seorang putri. Sudahlah sangat jelas betapa luar biasanya peran ayah dalam proses pendidikan anaknya. Maka betapa meruginya para ayah yang menghabiskan waktunya hanya untuk “berterbangan” di luaran karena dijajah oleh pekerjaannya.
Ayah, di mata anak-anaknya adalah sosok yang istimewa. Salah satu bukti kecil yang sering kita jumpai adalah manakala ayah menyuruh anak melakukan kewajibannya, mereka segera melakukannya. Berbeda dengan ibu. Anak cenderung melakukan tawar menawar dulu ketika ibu menyuruhnya menunaikan kewajibannya. Sebabnya mungkin cukup mudah diketahui, karena anak lebih sering berinteraksi dengan ibu, sehingga anak mampu memahami sikap ibu. Sedangkan kebersamaannya dengan ayah, tidak seintensive bersama ibu. Inilah yang kemudian membuat anak segan untuk bertawar menawar dengan ayahnya.
Dan inilah memang kelebihan karakter ayah. Dengan ketegasan dan kebijakannya, ia mampu mengarahkan anak-anaknya. Akan sangat luar biasa, apabila kelebihan ini diurai dalam sikap kebersamaan yang menghangatkan. Ayah akan menjadi idola bagi anakk-anaknya. Nasihat-nasihatnya akan mudah diterima oleh anak-anak, tanpa harus ada tawar menawar, apalagi sampai terdengar teriakan agar anak-anak berdisplin.



Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer