Ayah, Antarkan Aku Menuju Gerbang Itu....bag.3


Pondasi Itu Bernama Keluarga

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan“. (Q.S. At-Tahrim: 6).
Sebagai manajer institusi, sejatinya mereka (suami-istri) menyadari bahwa mereka memikul amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan. Amanah besar yang di dalamnya dibangun cita-cita peradaban, yang tak mudah merealisasikannya. Cita-cita peradaban itu mengejawantah dalam sebuah kesungguhan cinta dan keselarasan langkah yang kompak. Dia adalah pondasi yang akan menguatkan bangunan peradaban yang teramat besar. Pondasi itu bernama keluarga. Selayaknya pondasi, ia harus kokoh, menghujam kuat ke dalam bumi, dengan perpaduan berbagai komponen yang saling mengikat satu sama lain. Para pekerja pembangunnya pun haruslah orang-orang yang memiliki kreasi berfikir yang elegan serta memiliki kecermatan yang terukur agar proporsi untuk tiap komponen itu seimbang, sehingga pondasi itu pun sempurna akhirnya.
Keluarga, ia bisa menjadi sumber dan sarana datangnya pahala. Namun, ia juga bisa menjadi sumber dan sarana datangnya dosa. Keutuhan keluarga menjadi taruhan yang harus dipertahanankan, karena tanpanya bagaimana mungkin ia akan melahirkan generasi yang baik dan berkualitas. Sejatinya ia harus dipegang dan dijalankan oleh pemegang kebijakan yang memiliki keluasan dalam berfikir, berkehendak dan merasa. Ringkasnya, dibutuhkan pribadi-pribadi yang berkualitas pula untuk menghasilkan benih peradaban yang berkualitas.
Ayat pembuka di atas, telah menyadarkan kita bahwa sejatinya ikhwal kerumahtanggaan pun mendapatkan perhatian yang luar biasa dari Allah swt. Mengapa? Karena sekali lagi, ia adalah pondasi. Dan ia adalah bagian paling dasar dari sebuah bangunan yang bernama peradaban. Maka, agar bangunan peradaban itu kokoh tak mudah dirobohkan, pondasi itu harus kuat dan kokoh pula. Ayat di atas, membawa sebuah pesan yang begitu sempurna untuk disampaikan, untuk kemudian diejawantahkan sehingga tercipta sebuah harmoni kehidupan yang indah. Pesan untuk kita, menjaga diri dan keluarga kita dari api neraka.
Ya, menjaga. Ia pesan yang bersifat preventif. Bagaimana agar individu dan anggota keluarganya terjaga dan selamat dari api neraka, tentu ini membutuhkan sebuah bekal dan pemahaman yang kaffaah tentang konsep selamat itu sendiri. Di dalam kitab kita yang mulia, Alqur’an, pun Allah telah mengajarkan kita bagaimana kita meneladani kisah para nabi dan orang-orang shalih yang mengikuti jalan Islam. Merenungi pula kesudahan orang-orang yang ingkar dan membangkang dari jalan Islam.
Sebutlah kisah nabi Ya’kub as ketika berwasiat kepada anaknya, dalam surat Al Baqarah ayat 133, “ Apakah kamu menjadi saksi saat maut akan menjemput Ya’kub, ketika dia berkata kepada anaknya-anaknya,’ Apa yang akan kalian sembah sepeninggalku nanti?’ Mereka menjawab,’Kami menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu yaitu Ibrahim, Ismail dan Ishak (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami (hanya) berserah diri kepada Nya.” Tersirat sebuah pesan bahwa warisan yang paling utama dan kekal adalah aqidah bukan materi. Begitu pentingnya nilai aqidah, sampai-sampai ia menjadi sebuah pesan yang perlu diwariskan agar generasi sepeninggalnya tidak tersesat karena tidak adanya seorang qawwam.
Ya’kub as tidak bertanya kepada anak-anaknya, ”Ma ta’kuluuna min ba’di (apa yang akan kau makan sepeninggalku nanti)? ”Bukan materi yang menjadi kekhawatiran Ya’kub as, ketika ia meninggal nanti, bagaimana kehidupan ekonomi keluarganya? Namun, bagaimana aqidah anak-anaknya ketika tidak ada lagi yang membimbing mereka kepada jalan Rabbnya. Dan pada kenyataannya, inilah nilai yang semakin tergerus dari waktu ke waktu. Para orangtua lebih banyak bekerja di luar, mengumpulkan materi untuk menghidupi keluarganya, dan tak sedikit yang melalaikan proses pendidikan anak-anaknya yang semakin tumbuh dan berproses menuju kematangannya.
Ya, tidak sedikit orang tua yang dijajah oleh pekerjaannya. Yang kemudian kewajiban asasi sebagai pencetak kepribadian anak seolah “termaafkan”. Kebutuhan pendidikan anak terdelegasikan oleh full day school atau pesantren yang padahal dalam proses pendidikan di dalamnya, sekali lagi berawal dari sejauh mana kondusifitas lingkungan di dalam rumah mereka masing-masing. Ketika mereka “keluar” dari rumah mereka dalam keadaan tidak nyaman bahkan membawa bekal kekecewaan, maka manajemen pendidikan karakter sebagus apapun yang dirancang oleh institusi atau pesantren ternama sekalipun tidak akan cukup efektif mencetak pribadi-pribadi yang diharapkan.
Keluarga sebagai pondasi peradaban, institusi terkecil yang di sana karakter pemimpin-pemimpin masa depan dicetak, ditatih dan dibesarkan. Maka sekali lagi, selayaknya pondasi, ia harus berkualitas. Ia harus kokoh agar mampu menopang ‘bangunan’ yang besar dan tingginya menjulang mencakar langit. Orang tua sebagai peletak “batu” pertama pondasi itu pun sejatinya adalah arsitek peradaban yang kaya ilmu dan imajinasi, mimpi serta cita-cita akan sebuah kekokohan dan besarnya peradaban yang hendak dibangunnya.
Kembali pada hakikat awal sebuah mitsaqon ghalidzon, ketika ia tidak dimaknai sebagai tugas besar sarat mimpi dan perjuangan, maka tidak akan terbangun rumah peradaban yang berpondasi kokoh. Mitsaqon ghalidzon sebagai janji di awal kehidupan baru itu, maka ia sejatinya harus mengejawantah dalam sebuah rencana besar setelahnya. Komitmen yang disaksikan, serta do’a kekuatan yang di aminkan oleh malaikat langit dan bumi, mereka menanti untuk dibuktikan, bukan kemudian terlena dalam euforia pernikahan, sehingga terkadang latah dalam melakukan ikhwal yang tidak perlu dilakukan.
Ringkasnya, tidak terlena dalam kebahagiaan yang pada hakikatnya merupakan rahmat dari Nya. Jauh lebih substansial dari itu adalah bekerja meletakkan “batu demi batu” untuk rumah peradaban yang merupakan benih dari peradaban besar, yakni Islam. Inilah yang harus difahami dan direnungkan. Sekali lagi, kerja-kerja besar lagi mewujud ketika di awal pengukuhan janji.
Sangat mengharapkan sekali, kepada orang-orang yang hendak merancang episode barunya dengan pasangan terpilihnya. Jadikanlah episode itu sebagai episode sejarah penuh kebanggaan untuk umat Islam ini. Sejarah yang digoreskan dengan tinta emas, di sana diceritakan tentang kekokohan karakter pemudanya, keunggulan iman dan akhlaqnya, keutamaan ibadahnya, dan juga kegemilangan prestasi-prestasinya yang mampu menggeser keunggulan pegiat orientalis.
Semua itu, sejatinya, merupakan idealisme fikriyah yang harus mengejawantah di tengah-tengah realitas yang tidak diharapkan. Ketika ia dilingkupi oleh berbagai permasalahan yang mereduksinya untuk kemudian termaafkan. Maka, perlu dikokohkan di awal, dengan konsep pembangunan peradaban yang progresif dan terukur. Inilah yang perlu digaris bawahi, bahwa bukan hanya semangat kebersamaan yang menjadi ruh mitsaqon ghalidzon itu, tetapi mimpi tentang proyek pembangunan umat, itulah yang dipegang teguh sejak awal hingga akhir. []








Komentar

Postingan Populer