_Tangis Arafah_



"Ketika seseorang berhenti menangis karenanya, maka beberapa saat kemudian tentu air matanya akan kering di pipi, isaknya akan hilang ditelan senyap, seperti tidak ada sisa tangis di wajahnya. Tetapi tangisan itu tetap tertinggal di hati. Kesedihan, rasa sakit, kesendirian, beban yang membekas. Bisa jadi sebentar, bisa jadi selamanya." 

                                                                       _Tere Liye_


Arafah siang itu tak begitu terik. Namun matahari juga terlihat enggan, bersembunyi di balik awan.  Suasana yang tenang, menenangkan setiap jiwa yang membara. Ia setenang ruang kontemplasi yang Tuhan gelar di padang yang terik di sudut sana. Tak ada keluh meski berpeluh. Tak ada kesah, meski di dera lelah.
Arafah hari itu, adalah hari saat segala rasa bersatu padu memenuhi ruang iman. Untuk kemudian disimpulkan menjadi satu rasa yang menguatkan kepasrahan kepada Nya. Kepasrahan yang jujur atas ketidakberdayaan diri menatap apa yang akan terjadi esok. Arafah siang itu, diantara pengharapan dan kepasrahan. Keduanya mengetuk dengan keras pintuk kemurahan Nya.
Arafah siang itu menangis. Untuk sebuah pengkabulan harapan yang entah mengapa terasa begitu utopis. Sulit. Alurnya pun begitu alot. Begitu rumit dan melelahkan. Siang itu Arafah tersudut sendiri, menangisi harapan yang entah akan kemana bermuara.
Tangis Arafah, bukanlah tangis tanpa suara, tanpa kata. Dalam sujud panjangnya, siang itu, ada rasa yang tak mampu diurainya. Untuk kali ke sekian, Arafah luruh dalam tangisnya. Hanyut dalam kepasrahannya. Dan membisu dalam kebingungannya. Tak tahu bagaimana lagi jiwa dikuatkan. Tak mengerti mengapa kehidupan kembali membantingnya untuk sekali lagi merunduk di hadapan sang Kuasa.
Tangis Arafah siang itu membisik ke bumi, menggema di langit. Gema seonggok jiwa yang meneriakan kepasrahannya kepada yang Maha Kuasa.  Gemanya saat ini masih terdengar di relung jiwa terdalamnya. Tak jeda mengisi setiap ruangnya dengan kalimat-kalimat Rabb semesta alam.
Membuatnya mengubah tangis menjadi kekuatan. Ya, Arafah memang terjatuh siang itu dalam tangisnya. Dalam harapannya. Namun ia bangkit dalam pelukan Rabbnya. 
Arafah siang itu, ia mengenang sesosok manusia mulia dengan hati sekuat baja, yang memejam mata berjalan di atas titah Rabbnya. Sang Khalilullah itu tengah diuji. Ya, diuji pada titik lemah dalam dirinya. Diuji dengan cintanya, dengan harapannya. Ketika Sang Maha mentitahkannya untuk mengorbankan yang paling berharga dalam hidupnya, menjadi harapannya dimasa depan. Khalilullah pun pasrah. Dia pejamkan mata, berharap Sang Maha menurunkan keajaiban Nya pada takdir yang tengah dijalani Nya.
Arafah tersenyum mengenang kisah itu. Betapa keajaiban itu benar-benar ada, dititik terakhir ketaatan hati seorang manusia lemah. Dia pun hanya mampu memejam mata. Mengharap keajaiban Rabbnya hadir di titik terlemah kehidupannya, meski ia tak semulia Khalilullah. Ya, pada akhirnya seorang hamba hanya mampu mengeja taat dalam gelap. Selanjutnya biarkan iman yang menuntun menuju keajaiban.
Seperti saat ini, ditahun ketiga, Arafah masih mengeja masa depan dalam ketidakpastian. Arafah hanya mampu memejam mata, lama dan menunduk dalam tangis panjang. Entah kapan dan bagaimana semua rasa akan diakhiri. Entah kapan dan bagaimana sebuah perjuangan panjang berakhir dalam kebahagiaan.
Arafah tak tahu dan tak mampu lagi bagaimana mengeja harapan. Hati dan pikirannya kini hanya ruangan kosong. Ia kini diserang rasa lelah yang tak berkesudahan. Tak ada lagi kekuatan untuk menggenggam harapan. Dititik terlemah kehidupannya, ia hanya mampu menadah tangan, menderas dalam tangis dan mempasrahkan segala sakit dan harapan kepada Sang Maha baik.
Arafah, semoga selalu Allah kuatkan. Tak peduli bagaimana Dia datangkan bahagia dalam hatinya, semoga Allah mudahkan. Dan semoga, ini adalah tangis terakhir Arafah.


Arafah, 9 Dzulhijjah 1438 H

_Di permulaan malam _









Komentar

Postingan Populer