Pernah ada dan (yakin) akan ada ...


Karena Allah tak pernah salah menitipkan luka ...

             Lembar-lembar halaman buku hampir mendekati lembar akhirnya. Detik demi detik pada penunjuk waktu terus berputar. Ruangan putih itu pun masih sama seperti dulu. Hanya menyisakan kenangan pada bisunya tumpukan buku, layar komputer dan secangkir kopi di sampingnya.
Kawan, detik ini adalah detik yang sama yang pernah kau lalui. Pernah ada dibelakangmu, hari-hari yang suram juga hari-hari penuh warna. Pernah ada dibelakangmu, air matamu tak kuasa terbendung dalam heningnya malam. Pecah. Tumpah. Dan malam-malammu pernah menjadi malam penuh keharuan. Di sana, kau pernah tersungkur seorang diri di tengah gelapnya. Dan semakin lama, tangismu semakin keras. Memecah keheningan ruang gelap yang hanya ada engkau dan Tuhanmu.
Pernah ada dalam hari-harimu, seseorang yang entah siapa, tak pernah kau kenal sebelumnya mengisi satu ruang di hatimu. Bayangannya begitu kuat melekat di pelupuk matamu. Meski dia tak pernah kau jumpai. Hari-harimu pernah menjadi hari penuh warna karenanya. Pernah kau menunggunya disetiap senja, di bawah hujan. Kau tunggu kedatangannya di depan jendela kamarmu. Ya, hari-hari itu pernah ada.
Lalu, pernah ada dalam hari-harimu, dia yang kau tunggu akhirnya lenyap ditelan takdir. Takdir yang telah menjawab waktu tunggumu telah usai. Dan dia tak akan pernah datang. Di masa itu kau pernah tercekat dalam tangis yang tak ingin kau tumpahkan. Di masa itu, hatimu pernah tak mampu lagi merasakan duka kehilangan setelah sekian kali kau pernah kehilangan.
Kau tahu kawan, aku pernah mendapatimu begitu kuat. Kau mampu tersenyum dengan senyum terindah meski hatimu telah lantak. Kau pernah melewati masa-masa sulit dalam hidupmu dengan semangat yang entah bagaimana caramu menjaganya. Kau pernah berhasil mengawal hatimu menjauh dari gemuruh yang begitu gaduh dalam ruang jiwamu.
Ingatlah semua yang pernah kau lalui, dalam hari-harimu yang indah. Kau pernah bersemangat menyambut pagi. Dengan semangatmu, kau pernah melangkah penuh dengan keyakinan, bahwa hari itu dan hari-hari mendatang akan baik-baik saja. Karenanya, kau pernah lupa atau mungkin melupakan hatimu yang pernah lantak. Langkahmu, pernah tak sengaja membangun ulang segalanya. Hatimu, mimpi dan harapanmu.
Walau kemudian, kau pernah kembali melangkah dalam kegamangan. Tatapmu nanar, duniamu pudar. Entah kenapa lagi, kesunyian kembali mengepung hari-harimu. Kau bahkan pernah tak berani bertemu mentari. Kau hanya ingin memanjangkan tidurmu, karena hanya di sana kau temukan mimpi. Betapa lelahnya melewati hari-hari itu. Hari-hari yang pernah menghilangkan senyum di wajahmu.
Kau pernah tak berdaya dalam kesepian ruang waktumu. Kau tak tahu bagaimana caranya membunuh sepi yang terkadang menyerang dan mencekik nafasmu. Sepi yang pernah membuatmu terjebak dalam kepayahan dan memaksamu untuk menutup semua lembaran kertas harapan-harapanmu.
Kawan, aku tahu. Semua yang pernah kau lalui adalah peristiwa yang tidak mudah. Aku tahu, kini jiwamu telah cukup lelah setelah melewati semua yang pernah terjadi di masa lalu. Bahkan, saat kini waktu kembali membantingmu dalam sekali jatuh. Saat kau hampir bangkit dan berlari, takdir memintamu berhenti. Aku tahu, betapa melelahkan hari-harimu.
Namun, yakinlah dan sadarilah. Kau pernah kuat. Kau berada di titik ini karena kau kuat. Saat hari ini kau kembali duduk terjatuh, tengoklah sejenak semua yang pernah kau lalui dulu. Kau pernah melewati yang lebih sakit dan lebih perih dari ini. Kau pernah terjatuh lebih dalam, namun akhirnya kau mampu kembali bangkit. Kau pernah mampu tersenyum, meski saat itu lukamu begitu menyayat. Bahkan saat belum juga mengering, lukamu bertambah dengan perih yang sama.
Jika semua itu adalah kenyataan pahit yang pernah ada dan telah berlalu, maka yakinlah hari ini pun akan berlalu. Yakinlah akan ada di masa depan, hari-hari yang akan memberi warna ceria untukmu. Yakinlah, akan ada masanya kau tersenyum, menatap penuh harapan dan berlari menggapai impian tanpa ada yang menghalangi atau membuatmu tersandung dan terjatuh.
Dan, yakinlah akan ada seseorang di masa nanti, yang akan datang membawa setangkup cinta dari Tuhanmu. Lalu bersamanya kau akan memahat asa untuk sebuah kebahagiaan dan kehidupan yang tak berkesudahan kelak di syurga. Seseorang yang tak perlu kau nantikan hadirnya dari balik jendela kamarmu, karena dia akan hadir di depan tatapmu. Memberikan senyum terindahnya untukmu, menggamit tanganmu untuk berjalan menjemput asa bersama. Selamanya. []

   Taman Firdaus,

 Sesaat, sebelum hujan mengguyur .







Komentar