Nasihat Untuk Fitri (episode baru)
Menjejak
di episode baru. Di dalam ruang baru, dimensi waktu yang baru. Usiamu semakin
merunduk, kekuatan pun tak lagi seperti dulu. Warna hidupmu tak lagi selalu memerah
jambu. Akan ada banyak energi terpacu dalam putaran waktu. Menggulir
cerita-cerita lalu, menyuguhkan cerita baru.
Fit,
bersiaplah. Di usiamu yang semakin beranjak, dunia akan sering membuatmu
terhenyak. Ceritanya yang penuh teka-teki, tak jeda membuat jiwamu terhentak.
Namun, jangan pernah berhenti menjejak.
Bersama nadi yang masih berdetak, tataplah masa depan, meski harapan terlihat
retak-retak.
Saudariku,
yang mencinta akhirat. Jangan pernah letih berharap. Jangan biarkan putus asa
merangkak pelan dihatimu dalam senyap. Tataplah jalanmu lekat-lekat, meski
aralnya membuatmu penat. Pegang eratlah mimpimu, meski kau tempuh dengan berat.
Jangan pedulikan lelah, jangan pula berniat rehat meski sesaat.
Melajulah
dalam kebersamaan atau kesendirian. Tuhan maha mengetahui bagaimana membahagiakan.
Dan, disinilah tertulis sebuah ketetapan. Bahwa kau kan dapati syahid sebagai
keniscayaan. Maka, buang jauh keraguan. Pangkas segala keterbatasan. Tutup
rapat setiap pintu kemustahilan.
Kau
tak boleh lemah, meski lelah dan nyaris kalah. Kau tak boleh jatuh, meski
berpeluh dan lisan tak jeda berkeluh. Kau adalah kuat. Kau adalah tsabat.
Karena kau adalah du’at. Kalah bukan milikmu. Lemah bukan sifatmu. Karena
jannah adalah masa depanmu. Sepahit apapun duniamu. Segelap apapun mimpimu.
Jannah menantimu, bersama setitik sabar di hatimu.
Fit,
dengan segenap kesadaran imanmu,tataplah akhirat sebagai masa depanmu. Sibaklah
segala aral yang menghalau jalanmu. Dalam kesendirianmu, teguhlah bersama
kekuatan tunggalmu. Tak perlu kau ratapi, tak perlu kau kesahi, tak perlu juga
kau tangisi. Ini adalah jalan yang kau tempuh saat mula kau meniti mimpi,
hingga tak ada alasan untuk kau berhenti kecuali saat nafas mengakhiri.
Saudariku,
aralnya jalan ini adalah air matanya. Adalah sesaknya. Adalah lelahnya. Adalah
kabutnya. Ada kalanya mereka mengajakmu damai. Mengalah paksa atas segala ketidakmampuan
diri. Ada kalanya mereka membuatmu kokoh. Berontak tanpa kata. Melangkah paksa
tanpa jeda. Begitulah, cara Tuhan mengajarkan. Kau harus pandai-pandai mengambil
pelajaran. Menasihati diri, bukan mengasihani diri. Berjalan dengan ketegaran,
bukan dengan kelemahan.
Kuatkanlah hatimu dengan nama Nya. Agar tawar
setiap luka, agar terobati setiap kecewa, agar sejuk setiap resah. Gunakanlah
imanmu untuk memahami jalan yang kau tempuh. Ketika kau ingin berlari ke barat,
namun takdir menarikmu ke barat daya. Ketika kau ingin mengudara, namun takdir
membawamu menyebrangi samudra. Ketika kau ingin menapaki jalan raya, namun
takdir menuntunmu menelusuri sungai dan rawa.
Terkadang
engkau terhantar ke titik yang sama. Tak jarang kau terdampar di tempat yang
berbeda. Di manapun kini engkau berada, berjuta makna berada dibalik kisah yang
berbeda. Karena itulah sesungguhnya yang tengah kau butuhkan. Yang terkadang
berbeda dari apa yang kau inginkan. Maka, percayalah dengan penuh keyakinan,
Dia tahu apa yang kau butuhkan.
Ketika
engkau ingin sekarang juga, namun takdir menahannya untuk tertunda. Ketika
engkau ingin dengan segera, namun takdir membawamu mengembara. Ketika engkau
ingin menghentikan yang kau rasa, namun takdir mengepungmu untuk lebih
berlama-lama. Terkadang akhirnya seperti yang kau damba, namun tak jarang
terjadi di luar sangka. Berapapun lamanya kau meraih yang tertunda, berjuta
makna di balik waktu yang terjeda.
Karena
sesungguhnya itulah yang tengah kau butuhkan. Ketika kau ingin yang ini, takdir
pun ternyata tak menghampiri. Ketika kau ingin menjauh dari itu, takdir pun
menggiringmu untuk bertemu. Ketika kau menanti yang didamba dan dicintai,
takdirpun memberi yang tak berkenan di hati.
Itulah
yang kau harus pahami. Mencari titik temu antara harapanmu dan harapan Tuhan. Kadang
akhirnya seperti yang kau harapkan. Kadang pula akhirnya kehendak Tuhan yang
berjalan. Tak perlu dirisaukan, begitulah cara Tuhan mengajarkan. Ini adalah
kehidupan, yang perputarannya tak pernah kekal. Lakukan saja setiap kebenaran
dan kebaikan. Di situ kita maknai diri dalam kebermanfaatan.
Saudariku,
tugasmu kini hanyalah terus berjalan. Susuri ruang-ruang kebermaknaan dalam
setiap jeda persinggahan. Sabarkan, dan ikhlaskan. Betapapun diri terkepung
ketidakpahaman, inilah cara Tuhan mengajarkan. Setapak demi setapak, teruskan
langkahmu meski dalam kepayahan, ada Tuhan yang akan menguatkan.
Jangan
letih mengharap, jangan lelah meratap. Dalam gelap, Tuhan menyapa dekat. Maka,
datanglah kepada Nya dalam gulita yang senyap. Sampaikan harap yang tak akan
usai hingga fajar mendekap. Teruslah lirih berucap harap. Tuhan akan mendekap
erat, dan tak akan lagi kau rasa duka merayap.
Ya,
Tuhan hanya inginkan keningmu tersungkur selalu dihadapan Nya. Agar tak ada yang
kau butuhkan selain Dia. Karena Dia tahu, bagaimana seharusnya membalut luka. Dia
maha mengetahui bagaimana seharusnya melipat duka. Serahkan kepingan hatimu
pada Nya, dalam duka kau akan temukan tawa, dalam luka kau kan temukan bahagia.
[]
_Dari
Sahabat Jiwamu_


Fa inna ma'al-'usri yusroo...
BalasHapus