Nasihat untuk Fitri
Assalamu’alaikum
Fit, apa kabarmu ?
Semoga imanmu kepada Dzat penggenggam jiwamu tak pudar, namun semakin
berkilau dalam sepuhan waktu. Yang kilauannya mengkilaukan akhlaqmu, senyummu
juga keikhlasan di dalam hatimu.
Fit, 27 tahun hampir kau lampaui kehidupan ini. Bilangan yang tak sedikit.
Yang aku fikir cukup untuk mengeruk banyak hikmah di dalamnya. Jangan kau
lupakan setiap peristiwa di dalamnya. Agar kelak kau mampu belajar lebih baik,
tatkala kau jalani sisa waktumu ke depan. Karena ingatlah, di depan sana
jalanmu akan kian terjal dan menikung tajam. Jika kau tak pandai menyelami
‘pelajaran’ di 27 tahun perjalananmu, kau akan jatuh.
Fitri yang dikenal dalam urutan bungsu, sadarilah bahwa kau harus terus
bergerak. Melangkah sejauh mungkin untuk kau tutup jejak masa lalumu. Masa yang
selalu membuatmu tak mampu terpejam dalam gulita malam. Masa yang banyangannya
mencengkram kuat langkahmu dalam kegamangan.
Fit, dalam setiap peristiwa kehidupan yang membuatmu tertunduk, tetaplah
tersenyum dan bersabarlah. Hanya dengan itu badai kan kau rasa damai. Luka kan
kau rasa ringan. Tak perlu kau ratapi dirimu yang tak jua bertemu harapan.
Karena Tuhan lebih mengerti bagaimana membahagiakan.
Fit, aku tahu keterasinganmu dalam setiap ruang kebersamaan. Aku pahami
betapa nelangsanya dirimu yang dingin dalam kesendirian. Aku mengerti kau
merindukan tulusnya kebersamaan, bukan kepura-puraan. Cita-citamu yang tulus,
semoga mampu mengetuk pintu ridho’ Nya.
Saudariku, aku mengenalmu sebagai perempuan yang tangguh. Itu ku kenang
saat ku ingat masa kecilmu yang penuh tantangan. Dulu kau gadis kecil yang
‘nakal’, bandel dan tak pernah takut dengan petualangan. Kau tak sedih, meski
teman-temanmu pergi meninggalkan. Bahkan kau telah belajar ‘berdiri’ sendiri
ketika kasih sayang yang kau rindu tak jua membelai hatimu. Masa kecilmu,
sepertinya begitu membekas dalam karaktermu saat kini dewasa.
Karakter yang sepertinya memang telah Allah siapkan agar kau tak gentar
pada setiap peristiwa kehidupan yang penuh kejutan. Dan akhirnya, kau memang
berhasil melewati setiap fasenya meski air mata menjadi teman. Kau terus
melangkah, meski hatimu seperti apa rasanya memendam luka. Kau tetap dalam
pendirian, meski dengan payah kau pertahankan tekad bajamu.
Fitriah yang ku kenal tegar dalam diam. Tetaplah seperti itu. Jangan kau
tampakan air matamu di hadapan manusia. Tak usah kau bagi luka hatimu pada
orang lain. Jangan pula kau sandarkan beban hidupmu pada pundak orang lain. Aku
hanya tak ingin kau semakin terluka, ketika pada kenyataannya tak ada hati dan
pundak yang tulus berbagi. Tegarlah dalam diam, biarlah Dia yang menghapus
semua lukamu.
Shalihah, kau perempuan yang terjaga. Maka jagalah dirimu dalam kesucian.
Jangan kau gadaikan keshalihanmu untuk sebuah kebahagiaan fana. Biarlah Tuhan
pilihkan yang terbaik untukmu. Dia tak akan sia-siakan ibadahmu, do’amu juga
sujud-sujud panjangmu. Tetaplah dalam keshalihan. Bersabarlah, sampai Dia
tetapkan yang terbaik untukmu. Entah mungkin saat ini, esok atau mungkin sampai
saatnya kau tinggalkan dunia ini.
Saudariku yang hanya butuh pada Rabbnya, jangan kau tahan air matamu dalam
sujud panjangmu. Tumpahkanlah, dan Dia yang akan mengusap air mata dan juga luka
dalam hatimu. Saat itu, saat tidak ada manusia yang peduli dengan perasaanmu.
Saat setiap manusia menutup telinganya dari pilunya tangismu.
Saudariku, akhirnya tidak ada yang bisa aku sampaikan lagi kecuali ku
katakan sabar untuk yang kesekian kalinya. Dan kuatkanlah kesabaranmu. Jangan
goyah. Biarkan Dia yang tetapkan jalan seperti apa kau harus bahagia. Karena
kesabaran itulah jalan orang-orang selamat, jalan yang akan menguatkan
langkahmu dalam keimanan dan jalan yang akan menghantarkan langkahmu ke dalam
Firdaus Nya. Insya Allah.
Ingatlah, cukupkan untuk dirimu, Allah saja.[]
Wassalamu’alaikum warahmatullah.
(Dari Sahabat Jiwamu)
(Dari Sahabat Jiwamu)

Komentar
Posting Komentar