Diksi Pembebasan
Wajah duniamu masih
kelabu. Seperti kelabunya awan yang bersiap memuntahkan miliaran embun yang
menggantung bersamanya. Mengapa tatapmu kini tertunduk kembali? Apakah karena
duka yang pernah tergores di waktu lalu?
Apa kau lupa, kau dulu
pernah berjanji untuk tidak merasa lemah dan kalah. Untuk tetap tersenyum meski
luka hatimu meminta air matamu. Aku tahu, kau sudah terlalu lelah menangisi
dirimu sendiri. Kau terlalu lelah untuk sekedar tersenyum pada setiap wajah yang
katanya menyimpan cinta untukmu.
Hatimu kini kulihat
semakin berani memberontak. Pada setiap kesewenang-wenangan, pada setiap
keangkuhan dan pada setiap kebohongan atas nama cinta. Namun hatimu, pada
akhirnya melemahkanmu. Kau tak sanggup lagi berkata-kata pada dunia, juga pada
dirimu sendiri.
Dan akhirnya, kau mengakui
bahwa kau hanya perempuan biasa yang tidak bisa lepas dari sifat asli seorang
perempuan. Sisi lemahmu menarik dirimu untuk menyerah, tinggalkan semuanya.
Sisi tegarmu membisikan kekuatan untuk kau urai dalam satu diksi pembebasan.
Kini, bicaralah pada hati
dan akalmu. Tentang mimpi yang terus mengetuk-ngetuk. Tanyakan pada mereka,
benarkah mimpi-mimpimu itu? Ah, aku tahu itu pertanyaan yang sangat bodoh. Itu
hanya akan mengembalikanmu pada satu persepsi bahwa kau tak punya hak atas
mimpi-mimpimu.
Namun bukan itu maksudku.
Aku hanya ingin kau kembali merenung tentang segala cita yang terus memintamu
keluar dari duniamu saat ini. Tanyakan pada hati dan akalmu, bilakah semua itu
akan benar-benar membuatmu tersenyum tulus? Bilakah semua itu mampu membawamu
pada satu makna kebebasan yang selama ini kau gaungkan dalam hatimu?
Aku tahu, kau merindukan
sebuah kekuatan. Kekuatan yang mampu mengusap lembut air matamu. Kekuatan yang
mampu mengulas senyum di tengah kecamuk jiwamu. Kekuatan yang mampu
menggenapkan jiwa yang retak oleh gesekan peristiwa.
Aku tahu, air matamu tak
jarang tumpah mengisi hari-harimu. Di saat kau sendiri. Disaat orang-orang
menuntut ketangguhanmu. Disaat semua orang tak berharap kau termenung, kau
menangis dalam jiwamu, dalam ruang terdalam di hatimu. Dan bahkan kau menjerit.
Dan itulah jeritan pilu
yang sering kudengar. Saat kau bertarung melawan derasnya ketidakadilan pada
dirimu. Pada mimpimu, pada masa depanmu dan pada cintamu. Kau menjerit meski
kepalmu kian melemah.
Tengoklah pada dirimu. Kau
layak atas cita dan cintamu. Kau layak dan berhak atas cinta yang selama ini
kau rindukan. Kau berhak atas kebebasan yang kau gaungkan dalam serak tangismu.
Tak perlu lagi kau pendam
semuanya. Ungkapkanlah lalu berbuatlah seperti hatimu menginginkan. Tak perlu
lagi kau pedulikan setiap mata yang tertutup, tak peduli pada perihnya hatimu
memendam luka. Berjalanlah, dan raihlah cita dan cintamu. Bukankah hidup kita
akhirnya harus bahagia ?
- Salam Cinta -
dari
Sahabat Jiwamu
Sahabat Jiwamu

subhanallah.... semoga ini awal sebagai seorang penulis handal barakillah
BalasHapusjazakallah...aamiiin
BalasHapus