Siluet Lelaki Senja


Huda termangu di depan tumpukan kertas penuh coretan. Matanya menatap tajam sinar senja nan keemasan. Perlahan, bibirnya menyunggingkan senyuman. Garis lembut wajahnya mengabarkan sebongkah harapan. Tak ada kata yang diucapkan. Ia larut dalam keheningan. Perlahan, sinar keemasan senja tenggelam ke peraduan.
Dingin angin menghempas pelan tumpukan kertas dihadapannya. Membolak-balikan cerita yang terekam diatasnya. Huda tersadar, ia tak ubahnya cerita yang dibolak-balikan oleh angin senja. Harapan demi harapan hanya menjadi tulisan dalam rekam jejaknya. Hanya senyum getir yang mengiringi perjalanan dalam setiap waktunya.
Tangannya mengepal kuat. Tersadar bahwa dirinya bukan lagi perempuan hebat. Pertarungannya di waktu lalu menyisakan beban yang semakin padat. Waktu yang bergulir kini hanya menyuguhkan penat. Ia menilik dirinya yang kini kalah telak. Di tengah senja yang semakin merangkak  menuju gelap, siluet sesosok lelaki kembali berkelebat. Sesaat, sungai kecil dimatanya mengalir lambat.
Senja bergulir malam, ia pun menutup harinya dengan menata harapan. Berharap tak lagi bertemu kekecewaan. Tak ada lagi pahit yang harus ditelan. Mimpi-mimpinya mewujud tanpa rintangan. Dirinya tak lagi mengejar satu bayangan. Kehidupan berjalan dengan penuh keharmonian. Tak ada lagi sesengguk tangisan. Karena dunia merekah bersama seulas senyuman.
Huda tak sabar menanti waktu senja kembali menyapa. Karena baginya hari itu penuh prahara. Tak ada yang diingininya, selain berbincang bersama damainya senja. Di sana, ia bercerita dengan liku dunianya. Ia kabarkan tentang warna dirinya dengan sorak jiwa penuh ceria. Bersama senja, ada sesosok siluet yang selalu ditunggunya. Dengan bertabur segala rasa, ia bersabar untuk menyapa sosoknya.
Ya, di sana. Di bawah sinar lembut nan keemasan senja, siluet itu seolah menteror Huda. Tanpa kata, tanpa sapa. Namun entah mengapa ia begitu menanti hadirnya di setiap senja. Bukan karena harapan tanpa visi, namun dirinya terlanjur mengagumi siluet itu dipenghujung senja. Bak bertemu telaga di tengah sahara, jiwanya tenteram seketika. Terlupa segala penat yang sedari tadi membersamainya. Sosok siluet itu, menggenapkan jiwanya yang retak tergesek oleh peristiwa.
Hari terus melangkah dalam bilangan tahun. Sepanjang waktu itu, tak sedikit peristiwa yang membuatnya tertegun. Huda menyadarinya sebagai pernak-pernik kehidupan. Tak ada yang perlu dirisaukan. Karena semuanya akan berjalan di atas sebuah keadilan. Dengan senyuman ia hadapi kenyataan dengan sepenuh ketegaran. Pasti, semuanya akan berakhir di ujung ‘jalan’.
Bukan karena ketidakmampuan, Huda diam tak melaju. Ia hanya ragu pada mimpinya yang semu. Bukan karena tak mampu, ia hanya ragu pada cintanya yang masih kelabu. Semuanya menjadi absurd, kala hasrat dan kenyataan tak bersambut. Huda hanya mampu tertunduk. Menyesali luka yang terukir di waktu lalu. Seandainya semua itu dapat diulang dalam satu cerita baru. Keheningan semakin menyeruak bersama rintihan angin malam yang mengundang syahdu. Huda pun terpejam pelan, menutup harapan dalam selimut rindu.
***
Senja kembali menempati waktunya. Huda pun berhasrat untuk menyapa. Tak sabar ia ingin segera berbisik mengabarkan isi hatinya. Namun, senja ini bukan seperti senja sebelumnya. Ronanya kali ini tak ceria. Mega menggulung hitam seperti hendak bertukar duka. Dingin anginnya pun seolah seia dengan dinginnya hati Huda.
Ya, sedingin perasaannya saat bertutur tentang cinta. Saat ia berbicara tentang asa yang kerap berselimut gulita. Saat ia harus mengalah ditengah kecamuk jiwanya. Ia tak boleh kalah. Ada jiwa yang harus ia sapa dan ia jaga. Untuknya, Huda tak boleh mundur meski harapan belum berpihak padanya.
Ia harus tetap berdiri di atas pertahanannya yang kian rapuh. Tak peduli meski ujung jalan yang dituju masih terlampau jauh. Ia harus tetap berjalan, karena ada Tuhan yang akan membuatnya teguh. Pada Nya, ia sampaikan harap kala bersimpuh. Tak ada ragu, seketika jiwanya kembali teduh. Ia tak boleh terpuruk, meski kelak ia akan dapati jiwanya kembali bergemuruh.
Mega di tengah senja, ia bukan rona tanpa cerita. Ada pesan yang harus diterka. Huda mencoba mencari satu makna dari sejuta yang ada. Mega dan senja. Dua warna yang merupakan cermin dirinya. Ya, ada dua sisi dalam dirinya yang masih sulit dipecahkan. Dua sisi yang membuatnya tak mudah mengambil keputusan. Dua sisi yang tak jarang membuatnya membuang satu harapan.
Dua sisi yang membuatnya kadang tak mampu bertahan. Antara keterbatasan dan dorongan keinginan. Ketika ada dua hati yang tak boleh disakitinya, ia putuskan untuk mengalah. Ia simpan setiap keinginannya dalam satu ruang yang teramat jauh dalam sisi dunianya. Dua kekuatan yang sejatinya melemahkan.
Mimpi dan keinginannya, hanya sebatas utopia. Entah kapan akan mewujud nyata. Ketika ia sadari semua orang telah menutup mata untuknya. Ketika ia harus menyadari bahwa cinta yang tulus itu hanya sebuah drama. Huda tersadar, tangan-tangan ukhuwah itu tak ada. Hanya sandiwara di alam nyata. Yang tulus hanya seberkas sinar senja. Damainya tak pernah sirna. Pesonanya bukan sekedar warna. Hadirnya menghentak jiwa, saat siluet sesosok lelaki bersama dipenghujungnya.
Andai siluet itu duduk bersamanya. Menemaninya menghabiskan senja. Menikmati pesonanya. Menggengam tangannya untuk merajut satu asa bersama. Menguatkan yang lemah dalam sisi jiwanya. Bukan untuk sesaat namun untuk selama-lamanya. Menggenggam bahagia bersama sampai saatnya tinggalkan dunia.
Sesosok siluet, entah mengapa ia menjadi sebuah harapan. Ia hadir saat jiwa kembali dalam kesendirian. Membangunkan kembali mimpi yang telah Huda hancurkan. Siluet itu, menghadirkan damai di tengah persoalan kehidupan. Hadirnya di penghujung senja, mengukuhkan kembali satu langkah di masa depan.
Huda tersentak segera. Senyumnya yang sesaat mengembang, kini kembali layu. Utopia, ia kembali menghantam dirinya menjadi semakin  ragu. Ragu pada mimpinya, pada kekuatannya dan pada masa depannya. Huda tak mengerti mengapa dirinya tak sanggup lagi menjadi manusia merdeka. Meskipun pikirannya.
Tak ada langkah yang ditempuh. Ia hanya mampu duduk bersimpuh. Bukan untuk mengeluh, namun karena tekadnya telah kian rapuh. Ia hanya mampu menatap satu per satu mimpinya melepuh. Dalam diam, tangisnya kembali bergemuruh.
Dalam hening, ia sadari satu kesalahan. Setelah sekian lama, ia sandarkan harapan pada satu bayangan. Menjadikannya senantiasa terjebak dalam keterbatasan. Huda sadar, bukan karena ia tak mempunyai keinginan. Ia hanya tak sanggup mengakui, bayangan itu hanya khayalan. Siluet itu, hanyalah bayangan kehidupan.
Dalam lembut hembusan angin, sang senja berbisik,” Wahai manusia bernama perempuan, bangunlah dari lamunanmu. Rangkai kembali harapanmu. Biarkan siluet itu melebur dalam gelap. Kau tak boleh kalah, tak boleh melemah. Yakinlah, bahagiamu bukanlah sebuah bayangan. Ia adalah satu kenyataan di masa depan, saat kau mampu taklukan duka dalam kehidupan.”
***
              Waktu bergulir menempati setiap detik yang ditentukan. Senja demi senja berlalu, menutup rangkaian hari yang memiliki cerita kehidupan. Cerita yang bukan sekedar untuk diobrolkan atau dikenang, namun juga direnungkan. Senja, dalam setiap perguliran waktunya, ia pun menyimpan cerita yang boleh diacuhkan. Suasananya yang kadang romantis, mampu menghadirkan harapan ditengah keputus asaan. Begitulah, senja seakan mengajak hati menikmati damai. Ya, damai yang selalu Huda nantikan.
Lembut angin semakin mengharubirukan suasana senja kala itu. Saat untuk pertama kalinya tak terdengar suara hati bergemuruh. Senja hadir dengan wajahnya yang paling teduh. Mendung kembali menggantung, membersamai akhir sebuah rangkaian waktu. Ronanya yang kelabu, membawa syahdu.
Namun, senja itu hampa. Tak ada hati yang mengajaknya berbicara. Tak ada sepasang mata indah yang menatap pesonanya. Tak ada tangan yang mengoreskan pena kala bertukar asa bersamanya. Senja itu, senja tanpa cerita. Tanpa warna. Tak ada duka atau bahagia yang membersamainya.
Huda, dimanakah ia kini. Dimanakah sosok yang selalu berdiri menatap senja dengan membawa satu cerita. Dimanakah hati yang dingin oleh cinta. Dimanakah manusia yang selalu merasa kalah dalam pertarungannya? Apakah ia telah lenyap dalam jejak kesendiriannya ?
Huda, ia menghilang dalam belantara mimpi-mimpinya. Tak ada lagi cerita tentang hati Huda. Pun, tak ada lagi sesosok siluet lelaki dipenghujung senja. []

Komentar

  1. yang punya blog, photo profil anda saya jadikan poto sampul saya, saya suka dengan gambar dan goresan ceritanya,,

    salam taaruf....

    http://www.facebook.com/lukman.sejahtera

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer