Sepeda Ontel Abah


Siang itu hujan mulai menitik deras berdenting ramai, membasahi jalanan yang sebelumnya kerontang. Seorang laki-laki paruh baya terlihat kepayahan menutupi wajahnya dengan tangan kirinya yang tertampar air hujan hingga pandangannya terganggu. Tangan kanannya menjaga keseimbangan gas motornya yang melaju pelan.
Bajunya mulai basah oleh butiran-butiran gerimis. Dengan kepayahan dia tetap melaju menuju tempat yang di sana mungkin anak dan istrinya tengah menanti kepulangannya. Lain lagi, dipertigaan kampus almamater, seorang laki-laki yang juga telah dihiasi oleh keriput diwajahnya, masih mendorong gerobak sampahnya. Di tengah hiruk pikuk kemacetan, batinnya berkecamuk hebat, sehebat pertarungan fisiknya melawan gempuran air hujan yang semakin deras.
Entah, semacam ada yang sesuatu yang menyentak ketika setiap kali ku tatap sosok laki-laki yang dalam usia senjanya masih berjibaku dalam pekerjaannya yang tidak ringan, ditengah fisiknya yang tidak lagi prima. Lain waktu, ku lihat wajah teduh dan suara parau dari seorang ayah yang mengeluhkan biaya sekolah anaknya yang melambung tinggi. Namun, keluhnya harus dikalahkan demi masa depan anaknya agar lebih baik.
Kerut di dahi, mata yang teduh, tangan kekar yang mulai penuh kerut, senyum yang terkulum bijak, langkah penuh kharisma, suara yang menggema, semuanya adalah kekhasan yang tak lapuk untuk dirindu. Semangat pengorbanan yang tak redup terpancar dari tubuh ringkih dan batuk yang nyaring, masih selalu menjadi inspirasi untukku mempersembahkan karya besar, yang mungkin tak akan mampu mengalahkan pesona perjuangannya.
Menatap sosok laki-laki paruh baya yang sering kujumpai, melayangkan ingatanku pada sosok ayah (Abah, begitu aku memanggilnya) dan sepeda ontelnya. Sosok itu, tak pernah ku tatap lagi sejak sepuluh tahun yang lalu. Bukan bermaksud untuk bermelankoli, tetapi agaknya memang sosok itu senantiasa lekat dalam ingatan, menari-nari di pelupuk mata.
Abah dan sepeda ontelnya, adalah ‘lukisan’ antik yang indah terpajang disepanjang sejarah kehidupan selama 25 tahun terakhir. Ya, abah hanya memiliki sepeda ontel yang biasa digunakannya untuk berangkat ke tempat kerjanya. Abah, bukanlah seorang direktur yang bekerja di ruang ber AC. Bukan pengusaha besar yang relasinya dimana-mana. Namun, dengan kegigihannya, usaha sederhana yang dijalaninya membawa keberkahan untuk istri dan anak-anaknya.
Abah, dia tak menyuguhkan kami rumah megah dan fasilitas mewah. Rumah bernaung kami sangat sederhana. Tak ada barang-barang mewah di dalamnya. Rumah itu pun seolah turut berbahagia berbagi kesederhanaan dengan sosok pemimpin seperti dirinya yang penuh kharisma.
Tak pernah tercetus dari lisannya keluh kesah. Tak pernah pula dia menyerah dalam tiap usahanya. Senyum senantiasa mengembang indah untuk kami, meski raut lelah tak mampu disembunyikan dari rona wajahnya. Namun begitulah, selalu ada yang hinggap dipelupuk mata kami kala bersitatap dengannya.
Keriput di wajahnya, tegap badannya, gelegar suaranya, kekar tangannya, ah...semuanya benar-benar rindu untuk ditatap dan disentuh. Sosoknya yang kini tidak lagi bersama kami, mewariskan satu pelajaran yang lebih berharga dari warisan materi yang tak seberapa. Abah, ketiadaannya justru menyengatkan kami semangat untuk berbuat yang terbaik dalam kehidupan ini. Bukan sekedar untuk lebih mensejahterakan diri, namun abah menyisakan pesan bahwa kehidupan ini harus disikapi dengan kearifan, kelapangan jiwa, dan kemuliaan harga diri.
Abah, adalah simbol kemandirian. Tak pernah ia mengajarkan kami menadah tangan meminta belas kasihan orang lain. Ia juga simbol kegigihan yang sempurna, yang mengajarkan kepada kami untuk tidak mudah mengalah di atas kenyataan yang pahit. Sepeda ontelnya yang hingga kini masih terpajang, ia seolah mengatakan kepada kami, “Dulu, aku adalah tunggangan ayahmu. Aku membersamainya di bawah terik dan diguyur hujan. Aku masih bisa merasakan berat tubuhnya menaikiku.  Aku masih merekam gerak ayunan kakinya menggoes pedal ini. Aku masih merasakan cengkraman tangannya.” Keberadaannya adalah bukti kegigihannya. Ketika menatapnya, seolah ada abah yang sedang menggoesnya dengan penuh semangat dengan keringat yang bercucuran.
Abah dan sepeda ontelnya adalah cerita tentang perjuangan yang alurnya dramatis.[]

Komentar

  1. Subhanallah, sangat menggugah

    BalasHapus
  2. Asslkum,, Mpiit mohoon ijin ya share ke fb,, (kangeen Mpiit,,):)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer