Kontemplasi di Titik Kulminasi


Malam ini, sebuah titik kontemplasi kembali digagas. Telah lama dikubur, karena terlalu bosan ketika berkali-kali ia muncul kemudian membenamkan semangat yang sebelumnya menguasai ruang jiwa. Hujan yang terdengar merintik syahdu, kilat yang membuncahkan cahaya sekejap, mereka mampu menajamkan akal ini untuk berfikir lebih dalam tentang sebuah makna sejengkal langkah dalam sebuah jagad eksistensi.
Sebelumnya, jalan untuk sebuah tempaan yang diharapkan, ia tak mampu diraba. Sulit menentukan arah, kemana jalan akan dipilih untuk ditapaki. Tidak tergambar, bagaimana ketika jalan itu dipilih. Sesaat yang lalu, seolah ia muncul menunjukkan semua. Tak terfikirkan sebelumnya, pilihan itu benar-benar sulit. Ia merajam hati dengan begitu sadis. Mencacahnya menjadi bagian yang tak terhitung. Meremukannya menjadi sehalus debu yang berterbangan. Begitu dramatis.
Semuanya, kembali menawarkan opsi dilematis. Bertahan atau berhenti. Sejatinya pilihan itu memang telah muncul kepermukaan. Dengan segala konsekuensi yang tidak mudah, pilihan itu menanti untuk digenggam. Namun sayang, kepal tangan itu telah melemah. Ia tak memiliki cukup daya untuk menggenggamnya, menjadikannya sebuah jalan menuju masa depan.
Malam ini, ada semacam mimpi yang ingin ku urai menjadi harapan yang pasti. Mimpi tentang sebuah harmoni kehidupan yang penuh kedamaian, ketenangan, tidak ada bening syahdu dari halaman hati yang basah oleh peristiwa yang membersamainya. Tidak ada jengah, desah kesah, ataupun penat yang mengerutkan dahi. Semuanya seimbang, selaras, indah berjalan berdampingan tanpa ada yang merasa tersakiti, dan semua orang bahagia berada dalam pusaran ini.
Subhanallah, satu kesadaran yang ku simpulkan malam ini, adalah bahwa harmoni itu mewujud ketika hati melahirkan keikhlasan untuk menapaki setapak demi setapak tangga kehidupan. Dalam setiap tangga, kesulitan itu disambut, beban itu dipikul tangguh, senyum itu disimpulkan manis. Ya, keikhlasan. Hanya dia yang mampu mengantarkan harmoni ke dalam ruang waktu yang penat dan sesak oleh segala keangkuhan, oleh kerasnya hati, tatapan sinis, senyuman kecut dan uluran tangan yang hambar dari ketulusan.
Namun keikhlasan itu kadang menolak hadir menjadi teman diri. Ketika gejolak masa lalu kembali berkelebat menutup segala pintu maaf yang sebelumnya mudah diketuk. Ada keengganan untuk sekedar menilik episode itu. Juga ada rasa muak ketika semua yang mencoba ditata ulang, kembali dihancurkan oleh tangan-tangan yang berbalut cinta namun menyembunyikan duri di dalamnya.
Aku, di sini dengan segala kepayahan yang ada mencoba menjadi diri yang satu. Meski diri ini tak jarang terbagi ke dalam beberapa dimensi kehidupan yang belum pernah ku jelajahi. Semuanya serempak hadir, mencerabut satu per satu semua harapanku sampai ke akar-akarnya. Hingga akhirnya, aku telah terlalu lelah untuk menanam kembali mimpi-mimpi itu.
Aku ingin semuanya berakhir segera. Aku ingin waktu rehat untuk kehidupanku segera hadir mengnatarkanku pada dimensi waktu yang baru, yang semuanya benar-benar ku mulai dari nol. Ya, aku ingin menatap masa depanku dengan tatapan penuh kepuasan dan memiliki sepenuhnya diri ini dengan segala dinamikanya.
Elegi masa lalu itu, yang masih menyisakan luka hingga kini, ingin ku akhiri segera. Kekuatanku telah benar-benar habis untuk mensudahinya. Seolah ia tak ingin disudahi. Wajah-wajah dimasa lalu itu pun kembali memaksa cerita pahit itu terkenang. Dan lagi, ia membuka luka lama yang telah coba ku tutup.
Di titik kontemplasi ini, maka ada sebait do’a yang tak penah berhenti aku pinta kepada Nya,” Duhai Rabbku, apa yang ada di sisi Mu adalah yang terbaik. Apa yang Kau tetapkan untukku adalah yang terbaik untukku. Tak ada yang ku pinta kepada Mu selain Kau senantiasa karuniakan kesabaran untuk aku hadapi semuanya dan aku senantiasa menanti janji Mu untuk Kau hantarkan aku pada satu masa yang di sana hanya cerita tentang kebahagiaan dan kesyukuran.Dan Engkaulah sebaik-baik Yang mengabulkan do’a hamba—hamba Mu yang lemah.”
Di titik kontemplasi ini, semoga ini adalah coretan yang terakhir. Insya Allah. [] 

Komentar

  1. Aamiin.. Syahidah.. semoga Allah senantiasa memberimu jalan keluar terbaik untuk semua ujian yang kau hadapi, yang berualang maupun baru, di sepanjang usiamu. Syahidah.. semoga Allah menyembuhkan lukamu dan menggantinya dengan keridhoan yang menghantakanmu ke surga-Nya..

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer